Ijinkan Hati Bicara...: Mengenang google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html
Tampilkan postingan dengan label Mengenang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang. Tampilkan semua postingan

8 Nov 2009

Kata Setitik Debu

Adalah aku, seseorang yang tak pernah teranggap diantara setiap kesan bayang yang tercipta disetiap mata pun hatimu memandang. Memang tak layak aku yang tak tahu diri ini, yang hanyalah setitik debu namun berharap berarti. Yahhh, setitik debu yang hanya bisa mengotori hati indah milikmu, setitik debu yang oleh berkasnya dapat membuat kau hina jika bersanding. Maafkan jika telah ku paksa untuk terus terpaksa bersamaku selama ini. Sekali lagi kusadari bahwa memang aku tak pernah layak ada disisimu.

Sudah kuputuskan untuk pergi jauh, bukan karena rasa telah hilang terganti mutiara lain di hati, bukan juga karena jenuh telah datang mengantar enggan dipikir, bukan juga karena terang asa telah terganti pekat gagal. Namun ternyata telah ada berlian yang diam-diam kau harapkan hadir menghiasimu dibanding aku yang debu jahanam ini.

Aku memang selalu meminta lebih diantara sedikit hal kecil yang kuberi. Aku memang anjing yang sudah diberi tulang masih mengharap isi daging. Harusnya aku lebih menyadari ini, menuntut segala hal darimu sedangkan aku sendiri tak pernah bisa memberi apa-apa. Bajingan seperti aku ini layaknya jangan pernah diberi ampun. Dimusnahkan memang lebih pantas agar dunia khayalmu tak pernah terganggu dan tercemar ego setitik debu ini.

Sudah masanya sekarang ternyata untuk setitik debu ini menyadari ketidak-berartiannya. Menyadari untuk melepaskan tubuh seorang bidadari kecil yang sekian lama ditempeli dan dan dikotorinya. Merelakan untuk sang bidadari kecil ini mengenakan perhiasan dari berlian dan emas dan bukannya lumpur dari debu.

Sesungguhnya ternyata sudah masanya sekarang untuk menjauh sejauh mungkin dan bukan lagi untuk berpikir agar bisa kembali sedekat mungkin, bukan juga untuk menyerah pada realitas yang ada, namun lebih kepada bagaimana tujuan yang mulia dari sang bidadari kecil tak terusik hal sepele dari setitik debu.

Selamat jalan bidadari kecilku, sudah kah masa ini tepat ku katakan itu? Ternyata sudah, sebab kata ini sudah seharusnya sejak dulu ada untuk dikatakan bukan hanya untuk ditulis.

Selamat jalan peri kecilku, jika terbang, janganlah terlalu tinggi kau kepakan lebar sayapmu hingga ke langit. Sebab akan ada masa di mana kita lelah hingga jatuh. Sebab rasa jatuh itu akan teramat sakit hingga seolah tak bertulang dalam raga, dan jiwa akan teriak-teriak minta mati.

Selamat jalan dewi terkasih, jangan pikirkan debu ini. Debu ini hanya ingin memohon maaf jika salah pernah menghiasi dinding yang selama ini kau bangun menghindariku.

Maafkan aku.
Selamat tidur....




Share

30 Jun 2009

Kita Hanya Kenangan

Tak ada lagi bisik…
Hilang sosok…
Rabun sudah bayang diingat…
Seiring rindu yang terus menguap dan mengering
Mengikis perlahan cinta yang dulu mati ku perjuangkan, bagimu…
Hingga mengeropos sudah kenangan…
Tak ada lagi cerita…
Tak ada lagi sejarah…
Kau dan aku. Kita. Mati.

Tengah malam ini…
Telah kugenggam cinta baru
Ku peluk tak keras namun tak akan ku lepas lagi
Dia dan aku. Kami.
Ijinkan aku melupakan kita…
Tanpa melupakan luka yang pernah kau sandangkan bagiku.

Tengah malam ini…
Sebelum aku benar benar pergi
Ingin ku bilang…
Terima kasih pernah memberi air segar dalam panjang dahagaku
Terima kasih pernah menjadi teman dalam singkat hidupku
Membuat aku merasakan cinta dan lukanya
Merasakan hangat pelukmu dan melepasnya terpaksa
Memberi ku tawa tulus dan luruhnya airmata

Cinta kita adalah rahasia kita
Sudah ku buang ke dasar laut yang sempat tertulis
Dan aku sudah menjadi amnesia untuk mengingat semua kenangan kita.
Agar kita tidak akan menjadi hikayat.

Sampai jumpa di hidup kita berikutnya.

Remembering 30 Juni 2003
Tengah malam ketika aku tiba tiba sadar bahwa kita pernah bersama…




Share

19 Jun 2009

Luka yang sama

Kusembunyikan sebuah pedang di dalam hatiku,
dan sebuah belati di tangan.
keduanya telah mengucurkan darah yang sama dari tempat yang sama,
dari luka yang sama dan dengan rasa sakit yang sama.
hanya dengan satu harap ;
"jangan pernah ada yang tahu jika luka itu ternyata telah ada..."




Share

9 Jun 2009

Kita sudah mati


Aku tidak tersandung
Tidak tergelincir
Dan tidak juga jatuh.
Tapi aku sementara terbang…
Terbang oleh rasa ini…
Rasa ketika kau peluk
Rasa ketika kau cium
Rasa ketika kau katakan sayangmu
Rasa ketika kau perlahan menjauh
Rasa ketika aku sakit

Dan jauh sebelum kau kembali padanya
Jauh sebelum kau minta aku meninggalkanmu
Jauh sebelum kau mengukir sakit ini…
Kita sudah mati.



Pagi, ketika sepi merongrong kamarku lagi.
090609




Share

Masih ingin menikmati


Aku tak ingin melihatmu untuk yang terakhir
Aku tak ingin menggenggam tanganmu untuk yang terakhir
Aku tak ingin memelukmu untuk yang terakhir
Aku tak ingin mengecup keningmu untuk yang terakhir

Aku ingin...
Masih banyak waktu untuk kita bersama
Masih banyak cara untuk kita bersama
Masih banyak tempat untuk kita bersama
Masih banyak rasa untuk kita berbagi

Aku masih ingin...
Membawamu jauh ke dalam rasa ku
Menghiburmu kala berduka
Membiarkanmu kala kau bahagia
Aku masih ingin menikmati semua ini
Meski harus lepas segala sendi karena sakit
Aku ingin tetap menikmatinya.




Share

Selamat Jalan

Aku gelisah setengah mati semalam
Tapi aku bisa terlelap
Bahkan tak bermimpi tentangmu

Aku gelisah setengah mati pagi ini
Ketika aku terbangun
Dan belum kudapati kabar darimu

Dan pagi ini...
Ketika perjalanan ini dimulai
Pagi ini, ketika kau masih tak memberiku pilihan
Pagi, ketika semalam kukecup keningmu
Pagi, ketika semalam aku menunggu dan berharap
Pagi, ketika semalam masih kau sebut namanya
Pagi, ketika kuputuskan usai segalanya
Pagi, ketika aku dengan sangat terpaksa harus berucap
“selamat jalan”.





Share

29 Mei 2009

Pernah

Pernah terucap kata yang membuat salah
Pernah terbangun rasa yang membuat luka
Lalu pernah terlintas pikir seharusnya waktu dulu kita jangan bertemu

Pertemuan telah membuat kita merasakan semua ini
Seribu pahit yang datang lebih hebat dari seribu kebahagiaan yang berlalu percuma.

Pernah kutorehkan sejuta harapan ke hatimu
Ketika dulu kudapatkan kuncinya lalu membuka setiap kisi relungmu
Tapi kemudian kau pergi sambil berkata
Aku tak bisa mencintaimu...




Share

14 Des 2008

Pulangmu

Membuka kembali hatiku
Ketika hari ini kau datang kembali
Bawa satu senyum yang lama kurindu
Rasa terenyuh masuk ke ruang labil
Melihatmu, bawa aku pada hati yang mendua.

Ternyata sudah penat kau sembunyi
Di lorong jauh tak mampu ku jangkau.
Saat mana kau butuh aku…
Waktu telah buat aku jatuh pada hati yang lain.
Memang masih mungkin mati bersamamu
Tapi haruskah yang lain merasa sakit?

Di ujung jalan ini….
Aku hanya bisa terpaku bisu
Lama berpikir enggan lagi merasa…
Menggeleng liar…
Kita tak mungkin lagi bersama.


Gambar dari sini




Share

11 Des 2008

Rinduku padamu

Kembali kutelusuri sisi malam ini
Pada setapak demi setapak kenangan
Lalu terhenti pada bias rembulan.


Pada gugusan bintang coba kuukir wajahmu
Wajah yang mulai pudar dari memoriku
Yang hampir merabun dikikis waktu
Dan entah ke mana manis senyum yang selalu membuatku luluh dulu
Di andromeda pun aku tak mampu melukisnya lagi.


Ke mana lagi bisa ku temukan kau hai pelukis hati…
Di langit biru esok pagi…
Ataukah ke pantai karang terjal?

Ke mana lagi bisa ku cari kau hai pembawa cinta…
Merenung dahulu siapa diri…
Ataukah berlari memburumu sekuat tenaga…?




Share

9 Des 2008

Rindu Senyummu

Sepertinya semakin jurang itu menganga
Menjauhkan segala harapan yang susah payah kubangun kemarin.
Ada apa gerangan tak sebentuk senyum kau tuluskan untukku?
Adakah seucap salah telah ku kibaskan ke hatimu?
Berkatalah untukku barang sebait meski tanpa senyum
Mana ku tahu di mana salah jika diam kau anggap emas?

Tuturkan saja semua silsilah durjanaku bila ada
Sebisa mungkin jangan satu kau sembunyikan di ruang hati
Sebisa mungkin juga akan ku terima
Mungkin caci maki atau apapun ingin kau kata
Sebab aku ini akan lapang dada
Asalkan bisa kau senyum sejukan hatiku.




Share

15 Nov 2008

Email



........Saya hanya ingin mencari hidup baik-baik tanpa ada sedikitpun keinginan untuk menyusahkan orang lain. Saya lahir dari keluarga yang susah. Sudah hidup susah dari dulu, Saya juga susah karena harus membiayai dua orang adik saya yang kuliah dan hanya bersandar pada saya, saya tidak mungkin mengandalkan orang tua saya yang sudah renta, yang menangis ketika tahu saya .......

Terakhir, saya memohon maaf yang sebesar-sebesarnya apabila email ini tidak sepantasnya masuk ke kotak masuk teman-teman, juga apabila ada kata-kata yang salah dari penjelasan saya ini. Saya tidak punya maksud apa-apa selain ingin menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi....

Dengan Penuh Hormat

Dody Kudji Lede





Share

5 Nov 2007

Ketika kubuka pejam mataku
Dari merenung kembali jalan yang pernah kita tempuh,
Likunya, lukanya, dukanya, Cerianya
Kusadari semua jejak itu tak akan pernah terhapus sampai kapanpun
Meski kini kau dan aku telah terpisah dua dunia.


Sambil menatap pendar cahaya pagi ini
Sambil mendengar nyanyian burung-burung yang terbang bebas
Kubayangkan terang cahaya yang bersamamu kini.
Kubayangkan bagaimana kau terbang menuju pada-Nya.

Pagi ini...
Aku ingin dalam kesendirian ini
Kau datang sebentar padaku
Sekedar kita mencoba bercerita tentang kisah lalu kita
Atau barangkali sedikit kau buat aku tersenyum
Agar aku tau kau disana bahagia bersama-Nya.

Teman...
Aku dapat memandang langit setiap saat aku mau
Aku dapat menikmati pijar bintang kapanpun malam datang
Aku dapat pergi kemanapun aku mau
Tapi memandangmu kini...
Sesulit rencana-rencana mustahil yang pernah kita buat
Sesulit kita menghabiskan semalam penuh hanya untuk menghitung bintang
Sesulit kita mengerjakan pe er matematika yang kita tak pernah tau rumusnya.
Sesulit kesulitan-kesulitan yang kita hadapi bersama dan kita lari daripadanya.

Teman...
Aku masih disini...
bercerita kepada angin kisah kita
Hanya itu yang aku bisa sekarang.

Seribu cerita masih akan terus bergema tentang kita
Walaupun kini kamu sudah menjadi milik-Nya.




Share

Mengenangmu

Ketika kubuka pejam mataku
Dari merenung kembali jalan yang pernah kita tempuh,
Likunya, lukanya, dukanya, Cerianya
Kusadari semua jejak itu tak akan pernah terhapus sampai kapanpun
Meski kini kau dan aku telah terpisah dua dunia.


Sambil menatap pendar cahaya pagi ini
Sambil mendengar nyanyian burung-burung yang terbang bebas
Kubayangkan terang cahaya yang bersamamu kini.
Kubayangkan bagaimana kau terbang menuju pada-Nya.

Pagi ini...
Aku ingin dalam kesendirian ini
Kau datang sebentar padaku
Sekedar kita mencoba bercerita tentang kisah lalu kita
Atau barangkali sedikit kau buat aku tersenyum
Agar aku tau kau disana bahagia bersama-Nya.

Teman...
Aku dapat memandang langit setiap saat aku mau
Aku dapat menikmati pijar bintang kapanpun malam datang
Aku dapat pergi kemanapun aku mau
Tapi memandangmu kini...
Sesulit rencana-rencana mustahil yang pernah kita buat
Sesulit kita menghabiskan semalam penuh hanya untuk menghitung bintang
Sesulit kita mengerjakan pe er matematika yang kita tak pernah tau rumusnya.
Sesulit kesulitan-kesulitan yang kita hadapi bersama dan kita lari daripadanya.

Teman...
Aku masih disini...
bercerita kepada angin kisah kita
Hanya itu yang aku bisa sekarang.
Aku tau kamu sudah tersenyum sekarang di sana
Semoga senyummu seperti yang aku bayangkan...
Tanpa perih
Tanpa rintihan.

Teman...
Seribu cerita masih akan terus bergema tentang kita
Walaupun kini kamu sudah menjadi milik-Nya.




Share

1 Nov 2007

Sayonara Teman...

Teman...
Senja ini hujan disini... Setelah sekian lama disini berdebu kemarau. Aroma tanah yang singgah membelaiku kurasakan seperti kerinduan yang lama kusimpan, Terpendam namun tak pernah terpeluk.

Teman... baru kemarin kita bertemu, walau hanya bayangmu datang sebentar padaku. Tapi aku jadi ingin pergi menjumpamu. Sungguh... aku jadi ingat kisah lucu ketika kita sekolah dulu. Ketika kita dikejar Pak Guru hanya karena memungut puntung rokok dan kita disuruh menghisapnya padahal memang itu yang ingin kita buat. Masih ingatkah kamu waktu kita berlomba-lomba masuk ke dalam gua jepang dekat sekolah kita, dan hanya kamu yang tak mau ikut karena takut dan aku mengolok-olok kamu. Dan ketika kamu jatuh cinta untuk pertama kalinya, kamu menyembunyikan itu dari aku, kamu tak mau bilang ke siapapun, hingga pada suatu hari kamu mabuk dan tidur dirumahku, kamu mengigau dan esoknya satu sekolahan tau kamu lagi jatuh cinta.

Teman... saat ini, banyak sekali kisah kita dulu yang terlintas dalam benakku dan ingin kuceritakan disini, tapi aku tak punya kekuatan lagi untuk merangkai kata yang lebih untuk kuceritakan selain tetap kusimpan dalam hati. Aku ingin tertawa ketika kisah kita yang jenaka dulu singgah di otakku, tapi aku tak bisa tertawa lagi teman, aku menangis sekarang mengingatnya. Memori itu untukku sekarang jadi sesuatu yang... Pedih. Mungkin itu kata paling sederhana yang aku maksud selain sakit. Tapi aku juga remuk disini. Masih tak Percaya disini.

Teman, kamu tau kan aku paling benci yang namanya perpisahan, kamu yang paling mengerti aku, membimbing aku, menguatkan aku ketika aku labil karena ditinggalkan. Kamu selalu ada ketika aku butuhkan. Dan sekarang, disaat aku ingin bercerita tentang kebagiaanku, disaat aku ingin tertawa lagi bersamamu setelah sekian lama kita terpisah. Kamu pergi, pergi meninggalkan semua. Cintamu, Hidupmu, masa depanmu. Pergi meninggalkan orang-orang yang sangat mencintaimu. Bahkan sayonara tak kau ucapkan, agar aku tau bahwa memang kau berniat pergi. Dan kenapa harus dihari pertunanganmu kamu pergi? Tak adakah waktu yang lebih tepat untuk kau pergi selain hari ini?

Teman, tidakkah kau lihat kehancuran orang-orang yang kau tinggalkan? Tidakkah kau dengar ratapan kehancuran ibumu? Tidakkah kau tau, kamu adalah kebanggaan keluargamu, tulang punggung keluargamu?

Lihat teman, lihat. Langit juga berduka untukmu, dia menangis. Sama derasnya dengan tangisan ibumu.

Lihat teman, aku berdiri disisimu. Aku yang begitu merindukan senyummu, Aku yang kini hanya mampu melihat kebekuan senyummu, dalam damaimu, dalam ketenanganmu. Aku yang masih belum percaya kamu telah pergi. Aku yang hanya mampu berkata selamat tinggal dalam diam, dipeluk ibumu yang masih terus meratapimu.

Teman, selamat jalan.


"Untuk sahabat terbaikku, Imannuel Fransiskus Dima"
Meninggal di detik-detik terakhir pertunangannya.
Tanggal 31 Oktober 2007, jam 19.15 WITA.




Share

24 Sep 2007

Kenangan

Masih ingatkah kamu
Ketika kemarin kita bersama
Mengikat tiap detik terlewat dengan rantai kenangan

Masih ingatkah kamu
Ketika tanganmu kugenggam erat
Dan kita kita berjanji untuk selalu sekata

Masih ingatkah kamu
ketika kesedihan menghajar hari-hari kita
dan kau berkata, kita bisa

masih ingatkah kamu
ketika kau meninggalkanku
dan hanya sepatah yang kau ucap,
kita tak mungkin bersama selamanya.

Taukah kamu…
Disini setiap kenangan bersamamu
Masih kuukir dimerah hatiku
Kubawa hingga mati datang

Taukah kamu
Aku begitu merindukanmu malam ini




Share

11 Agu 2007

Hadiah Ultah


Senja, pukul 17.35, waktu kamu sms
Kamu : Do, ni hari aku ultah... blh g aQ minta hadiah dari kamu
Aku : boleh... apa...? jangan yang mahal ya...
Kamu : g, ni g pake duit kok...
Aku : klo gitu apa dong...? kompie km ngadat ya?
Kamu : bukan, pokokNya Ada dech...
Aku : trs apA dong, masa km minta hadiAh DaRi aQ tp km G mo KasiH tau minTa apa?
Kamu : Kamu datang aja ke kosku ntAr malam Ya... nNt br Aku Ksh Tau km Apa.
AkU : yach,... Ntar Mlam aq g bisa,...
Kamu : keNApa...? Mo ke Cewek km ya...?
Aku : g, aq jaGa ntar malam
kamu : sAmPe jam BerapA..?
Aku : sampe Jam 11.
Kamu : kLo gitu Km Datang aJa jam 11 ke kos..
AKu : mang gpp aQ ke Kos Km tengah malam gt...?
Kamu : GpP, gak ada larangAn berkunjung kok,... datanG ya, aQ tgg ya.
Aku : ya DeCh, aQ usahain ya...
Kamu : PokokNya Harus datang abis jaga, Q gak peduli mo jam berapa km DaTanG.
"HARUS DATANG". Da....a..
Aku : (diam)

**** D****

Kupang, tengah malam, di kos kamu.

Tiba dengan lelah, tubuh malasku menjilati ranjangmu, sekedar renggangkan otot-otot yang kejang setelah seharian mengais rupiah.

Kamu, berdiri disitu, bersandar, dipintu yang tertutup, lembarannya dari triplex tua yang sudah mulai keropos. Menatapku, dalam diam...

"orang baru sampe buat kopi kek apa kek..." aku, coba bercanda.

"Do, lo tahu gak?"

"Ia, lo mo minta hadiah ultah kan? Dah tau kok, lu mo minta apa? Jangan yang macam-macam, aku lagi kere."

"Aku gak minta macam-macam kok, cuma satu macam" kamu tersenyum dengan candamu yang dingin. Aku tersentak, bukan oleh candamu. Senyummu. Astaga, senyummu menggetarkan imanku dalam kamar yang hanya kita berdua.

"trus apa dong?" jarak kita hampir dua meter, dan mata lelahku mulai menjangkau matamu dalam tatapku yang samar diterangi lampu 45 watt. Mata itu. Akh... Telaga bening yang selalu kurindukan dalam hari-hariku dulu, ketika aku begitu mencintaimu. Cahaya dari mata itu yang selalu membuat tidur malamku tak pernah nyenyak. Itu dulu, ketika akhirnya kamu pergi untuk menuntut ilmu di java sebelum aku sempat berkata tentang cintaku padamu. Berwaktu-waktu setelah kepergianmu aku disini memeluk rindu hanya dalam bayang rapuh. Gelap. Aku bahkan tak mampu meraba. Lalu aku jatuh cinta pada orang lain dan cahaya dari matamu mulai kulupakan perlahan demi perlahan hingga akhirnya aku tak ingat apapun tentang matamu, senyummu, cinta dan kerinduanku padamu...

"Do, aku selalu ingat kamu kalo lagi lihat purnama." Tubuh malasku langsung bergerak duduk diranjang besar milikmu. Ingat aku? Sesuatu yang tak pernah kusangka. Aku bahkan selalu berpikir bahwa kamu tak akan pernah ingat aku lagi. Dan mengingatmu saat purnama adalah Sesuatu yang tak pernah aku lakukan setelah beberapa bulan tak bersamamu... Apalagi setelah kepergianmu, aku disini selalu dipeluk cinta yang hangat, yang benar-benar memanjakanku, walau pun pada akhirnya aku hancur karena cinta itu.

Aku mulai gugup. Buku usang yang sudah sempat terbuang itu kini ada dihadapanku, dan lembar demi lembar kenangan yang kita tulis bersama mulai terbuka secara otomatis dari file benakku. Aku, yang dulu begitu mengagumi dan mencintaimu, aku yang sekarang telah melupakan semua tentang kita dulu. Dan sekarang, kamu sendiri yang mengundang aku untuk mengingat semua memory yang telah terkubur itu. Dan aku...

"Mang apa hubungannya purnama sama ultah lo?" Aku sengaja lupa bahwa kita dulu pernah bersama dibawah bias purnama, menikmati purnama itu hingga larut malam, kemudian mengumpamakan diri sebagai bintang dan bulan dengan mengalihkan pembicaraan, kembali ke topik kenapa aku datang ke kos kamu.

"Menurut kamu wajar gak cewek ngungkapin perasaannya ke cowok?" Kamu tak bergeming, pengalihan topik gagal.

"Ya wajarlah, sekarang kan jaman modern, orang-orang dah pada modern dengan pikiran yang modern, picik tu orang klo bilang pamali cewek nembak cowok."

”Aku sudah nunggu lama Do, lama banget, aku pernah ngerasa gimana yang namanya bosen nunggu. Tapi aku tetap nunggu. Aku tau disaat aku menunggu, ada resiko dimana aku harus sakit melihat orang yang aku tunggu bertengger di bunga yang lain. Aku tau Do, aku tau bunga itu beracun untuk orang yang aku cintai, tapi aku gak bisa ngelarang dia untuk terus hinggap dibunga itu.”

“Kamu ngomong apa sih dari tadi, kamu panggil aku buat minta hadiah ultah ato apa?” Gugup, gagap, bingung mulai berperang dalam benak. Gak ngerti sebenarnya yang terjadi.

“Bunga itu sudah mengangkatnya terlalu tinggi dari tempat yang tak bisa lagi ku jangkau dari tempatku berpijak, tapi pada akhirnya menjatuhkannya kedasar yang aku juga tak bisa mengangkatnya.” Kamu menarik napas. Sepertinya terasa berat bebanmu. Aku memilih diam, membiarkanmu menghabiskan sisa cerita.

“Aku ikut sakit, aku ikut terluka ketika dia terkapar tak berdaya karena racun dari bunga itu. Aku menangis ketika dia menangis. Aku bahkan ingin sekali membelainya dan menenangkannya, tapi bahkan aku tak sanggup lagi mendekatinya…” Sejenak kamu terdiam. Tapi tatapmu tak melepaskan mataku. “Ketika dia berada dalam kehancuran dan membutuhkan semangat untuk bangkit, aku ingin ada disana menyemangatinya. Ketika dia membutuhkan seorang teman, aku ingin ada disana menemaninya. Ketika dia membutuhkan air karena dahaganya, aku ingin sekali menjadi mata air baginya. Tapi Do, lagi-lagi aku tak bisa mendekatinya. Dia telah masuk kedunia lain setelah kehancurannya. Dunia yang dia pikir bisa membuatnya jauh dari hiruk pikuk cinta. Padahal justru disitu dia menghancurkan dirinya sendiri. Aku yang tak bisa mendekatinya lagi berusaha sebisa mungkin agar dia jauh dari dunia itu, kudekati sahabat-sahabat terbaiknya untuk menyadarkannya. Kukirimkan doa untuk kesembuhan hatinya dalam setiap waktuku. Hingga akhirnya kemarin aku temukan dia telah berada pada jalan yang seharusnya, walau aku tau, terkadang dia masih bersenggolan dengan masa lalunya.” Sekali lagi ku lihat kau menarik napas panjang. Masih berat.

“Aku sangat mencintainya dari semua yang pernah kucintai, tak ada perumpamaan yang dapat mewakili rasaku. Semua kata bahkan serasa tak punya makna.” Kamu memandangku sambil berjalan kesisi ranjang.

“Do, kamu bisa kan Bantu aku untuk bilang padanya bahwa aku sangat mencintainya?”

Aku menelan ludah, pahit. Kutekan rasa gugupku, kutekan gemetar hatiku.

“Do, kamu bisa kan? Ini hadiah ultah yang kuminta dari kamu. Plez…”

kamu memohon. Ada bening mengalir dari telaga indah milikmu.

Aku masih diam, menatap telaga bening milikmu hingga kedalam dasar, kutemukan disana sepotong hati yang sangat berharap. Sepotong hati yang dulu sangat kuharapkan, kini mengharapkan aku menyampaikan cintanya pada seseorang yang entah siapa.

Jelas aku terkejut. Jelas ada rasa enggan jika aku yang harus menyampaikan. Jelas, sangat jelas lubuk hatiku tak akan rela kamu bersama orang lain.

Aku yang ini, yang ada dihadapanmu sekaranglah yang mencintaimu dengan segenap hati. Walaupun itu dulu. Walaupun pada akhirnya rasa itu sudah mati. Tapi sekarang, setelah semua yang baru kamu ceritakan, tiba-tiba rasa itu kembali tumbuh entah dari mana datangnya lagi. Aku ingin kamu mencintaiku saja. Bukan orang lain.

Aku tercipta bukan untuk menjadi mak comblang bagimu. Aku diciptakan untuk mencintai dan memilikimu. Tapi kenapa sekarang kamu mengundang aku untuk membuat luka diatas rasaku sendiri?

“Do, kamu bisa kan?” airmata tiba-tiba mengalir deras. Sebegitu besarkah cinta yang kau pendam sekian lama hingga harus tertumpah airmatamu. Kenapa harus kamu memohon padaku dengan airmata? Tidak tahukah kamu jika melihatnya aku luruh dalam segala?

Oh tidak… jangan paksa aku melakukan hal menyakitkan ini. Plez… aku tak sanggup. Tak adakah hadiah lain yang bisa membuat kita sama-sama merasa bahagia?

Kamu masih terisak menatapku. Dalam memohonmu. Dan masih dikedalaman telagamu yang membanjir, memang kutemukan sesuatu yang sangat jujur disana berbicara. Seolah itu dari dasar nurani.

Terasa berat saat kepala ini akan terangguk setuju. Kerongkonganku bagai disumbati sebongkah batu “aku harus bilang ke siapa, **?” akhirnya dengan suara yang kupaksakan keluar juga.

Masih dalam tangis kamu tersenyum mendengarku.

“kamu benar mau bilang ke dia Do?” kenapa harus ditanya lagi? Akh… langsung bilang kenapa? Aku kembali mencoba mengangguk.

Lalu tanpa sepatah kata kamu bangkit dan menarikku turun dari ranjang itu. Berdiri. Sesaat aku tertegun. Bertanya. Apa yang akan terjadi lagi?

Kamu tepat didepanku. Menatapku dalam diam yang panjang, mungkin mencari kesungguhan dari mataku atas jawaban yang kuberikan. Tapi akh... Jangan menatap aku seperti itu. Kamu tahu kan aku tak pernah bisa menatap mata itu lebih dari sepersekian detik.

Tanganmu tiba-tiba menggengam erat tanganku yang gemetar dan berkeringat dan menuntun untuk memegang pinggangmu, dan tanganmu kau tempatkan persis di kedua bahuku. Hhhhhh… aku pernah memimpikan ini dulu terjadi. Tapi itu tidak lagi berlaku sekarang saat kamu ternyata sangat mengidamkan seseorang yang bukan aku. Dan kini, kita nyaris tak berjarak, hanya terpisah mungkin sesenti, setelah dulu samudra pernah memisahkan kita dan harapanku padamu.

Aroma tubuh dan napasmu menyenggol indra penciumanku, merasuk hingga ke kedalaman paru-paru, lalu berlabuh dihati. Ada kebahagiaan yang tersangat. Tapi aku sadar bahwa itu hanya sebentar. Karena sesaat lagi pelukan ini akan segera lepas dan aku kembali tersakiti. Aku sudah tak kuat lagi. Aku ingin segera melepaskan, lalu pergi sejauh mungkin dari tubuhmu. Tapi tiba-tiba, saat aku tak sanggup menatapmu dan pandangku menerawang langit kamarmu, cup… sesuatu yang dingin menyentuh bibirku. Kecupanmu. Aku tersentak. Tak menyangka. Senjata macam apalagi yang kau pakai meremukan aku untuk menyampaikan pesan cintamu? Aku memandangmu, masih tak percaya kau baru menciumku. Tapi kamu tersenyum seolah penuh kemenangan.

“Do, orang itu adalah kamu.” Lagi-lagi kau buat aku terbelalak. Untungnya dokter tak pernah mendiagnosa aku ada penyakit jantung. Lalu satu kecupan darimu kembali mendarat. Lagi, dan lagi, dan aku masih tak percaya semua itu. Kucoba mencubit lenganku. Sakit. Berarti bukan mimpi. Lalu pelukanmu makin erat diantara kebingunganku.

"**, ni bukan mimpi kan?" aku bertanya diantara rasa tak percaya. Kamu tersenyum dan menganguk meyakinkanku.

“**, are u sure?” Tanyaku lagi meyakinkan hati.

“ya, ini hadiah ultah yang aku minta dari kamu Do, cinta kamu… aku tau kita sudah lama saling mencintai. Tapi aku tau kamu gak akan pernah bisa bilang karena aku tau seperti apa kamu. Kamu terlalu malu untuk bilang perasaan kamu. Kamu terlalu lama membiarkan rasa cintamu menyiksa diri kamu. Aku selalu menunggu kamu Do, tiap hari, tiap detik. Tapi aku sadar bahwa penantianku akan sia-sia kalo bukan aku yang mengambil inisiatif untuk ngomong duluan.” Dan lagi-lagi… cup… ciumanmu kali ini kusambut tanpa ragu. Dan…

"Kamu mau kan menjadi bintang untukku?" Aku mengangguk pasti. Siapa Takut...???

"**, aku sudah mencoba untuk lupa bahwa aku pernah bermimpi menjadi bintang untukmu. Aku bahkan sudah membunuh harapanku untuk bisa bersama denganmu. Dan sekarang, hadiah ultah yang kamu minta ini sebenarnya bukan aku yang memberikan untuk kamu, tapi kamulah yang sudah memberinya untuk aku." Pelukanmu makin erat, sambil kepalamu bersandar didadaku.

"Thanks **, ini hari yang gak akan aku lupakan dihidupku." Ku ucapkan terima kasih yang tulus, yang tak pernah terucap dari bibir ini sebelumnya.

Masih ada bening mengalir dari telaga indah milikmu. Tapi aku tau, itu berasal dari kebahagiaan hari ini.

Bukan hanya hari ini dan esok aku ingin menjadi bintang untukmu **, tapi aku ingin selamanya menjadi bintang dihatimu. Agar selamanya aku bisa memelukmu, entah itu saat mendung, hujan, panas, kelaparan, entah itu dalam saat apapun, aku ingin terus bersamamu selamanya.

Siapa sih yang mo nolak klo cinta datang dengan tangan terbuka?

Lagian kan dah Lama pacaran dengan someone tapi kayak still jomlo...

So... hari gini... Jomlo.... Cape DeH....!!!

Thanks God… cinta yang kucari selama ini telah kembali.

“Terkadang Tuhan terlebih dahulu memberikan orang yang salah untuk kita cintai, baru sesudah itu memberikan orang yang benar. Sehingga ketika hal itu terjadi kita akan sangat bersyukur.”





dedicated to my master DW

Kita punya cerita yang hampir sama boss... but BetHa agak happY Ending...





Share