Ijinkan Hati Bicara...: Cerita Hidup google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hidup. Tampilkan semua postingan

8 Nov 2009

Kata Setitik Debu

Adalah aku, seseorang yang tak pernah teranggap diantara setiap kesan bayang yang tercipta disetiap mata pun hatimu memandang. Memang tak layak aku yang tak tahu diri ini, yang hanyalah setitik debu namun berharap berarti. Yahhh, setitik debu yang hanya bisa mengotori hati indah milikmu, setitik debu yang oleh berkasnya dapat membuat kau hina jika bersanding. Maafkan jika telah ku paksa untuk terus terpaksa bersamaku selama ini. Sekali lagi kusadari bahwa memang aku tak pernah layak ada disisimu.

Sudah kuputuskan untuk pergi jauh, bukan karena rasa telah hilang terganti mutiara lain di hati, bukan juga karena jenuh telah datang mengantar enggan dipikir, bukan juga karena terang asa telah terganti pekat gagal. Namun ternyata telah ada berlian yang diam-diam kau harapkan hadir menghiasimu dibanding aku yang debu jahanam ini.

Aku memang selalu meminta lebih diantara sedikit hal kecil yang kuberi. Aku memang anjing yang sudah diberi tulang masih mengharap isi daging. Harusnya aku lebih menyadari ini, menuntut segala hal darimu sedangkan aku sendiri tak pernah bisa memberi apa-apa. Bajingan seperti aku ini layaknya jangan pernah diberi ampun. Dimusnahkan memang lebih pantas agar dunia khayalmu tak pernah terganggu dan tercemar ego setitik debu ini.

Sudah masanya sekarang ternyata untuk setitik debu ini menyadari ketidak-berartiannya. Menyadari untuk melepaskan tubuh seorang bidadari kecil yang sekian lama ditempeli dan dan dikotorinya. Merelakan untuk sang bidadari kecil ini mengenakan perhiasan dari berlian dan emas dan bukannya lumpur dari debu.

Sesungguhnya ternyata sudah masanya sekarang untuk menjauh sejauh mungkin dan bukan lagi untuk berpikir agar bisa kembali sedekat mungkin, bukan juga untuk menyerah pada realitas yang ada, namun lebih kepada bagaimana tujuan yang mulia dari sang bidadari kecil tak terusik hal sepele dari setitik debu.

Selamat jalan bidadari kecilku, sudah kah masa ini tepat ku katakan itu? Ternyata sudah, sebab kata ini sudah seharusnya sejak dulu ada untuk dikatakan bukan hanya untuk ditulis.

Selamat jalan peri kecilku, jika terbang, janganlah terlalu tinggi kau kepakan lebar sayapmu hingga ke langit. Sebab akan ada masa di mana kita lelah hingga jatuh. Sebab rasa jatuh itu akan teramat sakit hingga seolah tak bertulang dalam raga, dan jiwa akan teriak-teriak minta mati.

Selamat jalan dewi terkasih, jangan pikirkan debu ini. Debu ini hanya ingin memohon maaf jika salah pernah menghiasi dinding yang selama ini kau bangun menghindariku.

Maafkan aku.
Selamat tidur....




Share

6 Agu 2009

Take care...


Aku ini memang debu jahanam. Yang tak perlu kau anggap bahkan bisa kau buang, kau ludahi dan kau injak sesukamu lalu terserah mau cacian apa kau beri. Aku ini memang anjing kotor berlumpur yang setiap hari berkubang nista hanya untuk jaga namamu agar tak tercoreng arang. Aku ini singa berbulu domba piaraanmu yang sangat rakus hanya ingin tubuh lalu bangkainya akan dibuang di selokan limbah. Aku ini memang lapar, memang haus kasih sayangmu, hingga bahkan terkadang aku terpaksa harus meminum airmataku sendiri ketika kau tak peduli padaku saat rinduku ada di titik puncak dehidrasi. Kemarin perasaan itu masih memanjaku. Tadi pagi pagi pun perasaan itu masih membangunkan dan menciumku.

Lalu tiba tiba saja, ada secercah ragu milikmu kembali datang menghantam permukaan ulu hati ku hingga perih sangat. Dengan acuh kau ludahi aku lalu tersenyum berlalu tanpa berpaling sejenak apalagi menyeka sisa lendir yang kau hadiahi bagi ku. Setega inikah kau pada aku yang kau anggap nista memiliki cintamu, pada aku yang kau anggap hina untuk memelukmu... sudah terlalu menjijikan kah rindu yang ku tampung setiap hari di bekas kubangan yang kita gali bersama untuk menyamarkan aib yang sudah bersama dengan suka cita kita reguk?

Siang ini kau telah tega menuduh untuk hal yang tak pernah ku lakukan tanpa mu. Hanya untuk menghindar dan menjauh demi cintamu yang lain. Kenapa tak jujur saja kau katakan sejak dahulu kala, ketika mentari belum sempat berpikir untuk terbit bahwa kau merasa tak pantas bersanding dengan orang semiskin aku?

Di tepi jalan ini kau biarkan aku lirih menatap mu pergi dengan amarahmu, tak kau pedulikan teriakan panjang dari sakit sebab hati ini yang ikut terbawa bersama mu pergi.... ‘kembalilah... kembalilah....!!!” namun hingga kau menghilang di simpang jalan itu, ku lihat kau tak coba menoleh lagi.

Pada akhinya suara lirih ini tersaput angin entah dibawa kemana pergi... “kembalilah... kembalilah... kembalilah...!!!” aku masih saja terus berteriak dengan berlaksa asa biar kau dengar dan mau kembali, entah apakah kau dengar... entah apa kau sadari...

Entah di mana kau sekarang...
Apa yang terjadi padamu sekarang,
entah apa yang kau lakukan sekarang,
adakah kau baik-baik saja...
sudah makan kah..??

Akh,,,... aku masih ingin bertanya padamu seperti ini hingga malam tiba kembali sambil membelai rambutmu, hingga pada akhirnya ku peluk dan ku gendong tubuh kecilmu ke pembaringan, meninabobokan mu sampai benar-benar terlelap, lalu mengecup keningmu, hidungmu, bibirmu, dagumu, pipimu, matamu, sambil berbisik ...

‘slamat tidur sayang, semoga mimpi yang indah...’.
Take care... sweetheart...




Share

30 Jun 2009

Kita Hanya Kenangan

Tak ada lagi bisik…
Hilang sosok…
Rabun sudah bayang diingat…
Seiring rindu yang terus menguap dan mengering
Mengikis perlahan cinta yang dulu mati ku perjuangkan, bagimu…
Hingga mengeropos sudah kenangan…
Tak ada lagi cerita…
Tak ada lagi sejarah…
Kau dan aku. Kita. Mati.

Tengah malam ini…
Telah kugenggam cinta baru
Ku peluk tak keras namun tak akan ku lepas lagi
Dia dan aku. Kami.
Ijinkan aku melupakan kita…
Tanpa melupakan luka yang pernah kau sandangkan bagiku.

Tengah malam ini…
Sebelum aku benar benar pergi
Ingin ku bilang…
Terima kasih pernah memberi air segar dalam panjang dahagaku
Terima kasih pernah menjadi teman dalam singkat hidupku
Membuat aku merasakan cinta dan lukanya
Merasakan hangat pelukmu dan melepasnya terpaksa
Memberi ku tawa tulus dan luruhnya airmata

Cinta kita adalah rahasia kita
Sudah ku buang ke dasar laut yang sempat tertulis
Dan aku sudah menjadi amnesia untuk mengingat semua kenangan kita.
Agar kita tidak akan menjadi hikayat.

Sampai jumpa di hidup kita berikutnya.

Remembering 30 Juni 2003
Tengah malam ketika aku tiba tiba sadar bahwa kita pernah bersama…




Share

9 Jun 2009

Kita sudah mati


Aku tidak tersandung
Tidak tergelincir
Dan tidak juga jatuh.
Tapi aku sementara terbang…
Terbang oleh rasa ini…
Rasa ketika kau peluk
Rasa ketika kau cium
Rasa ketika kau katakan sayangmu
Rasa ketika kau perlahan menjauh
Rasa ketika aku sakit

Dan jauh sebelum kau kembali padanya
Jauh sebelum kau minta aku meninggalkanmu
Jauh sebelum kau mengukir sakit ini…
Kita sudah mati.



Pagi, ketika sepi merongrong kamarku lagi.
090609




Share

Masih ingin menikmati


Aku tak ingin melihatmu untuk yang terakhir
Aku tak ingin menggenggam tanganmu untuk yang terakhir
Aku tak ingin memelukmu untuk yang terakhir
Aku tak ingin mengecup keningmu untuk yang terakhir

Aku ingin...
Masih banyak waktu untuk kita bersama
Masih banyak cara untuk kita bersama
Masih banyak tempat untuk kita bersama
Masih banyak rasa untuk kita berbagi

Aku masih ingin...
Membawamu jauh ke dalam rasa ku
Menghiburmu kala berduka
Membiarkanmu kala kau bahagia
Aku masih ingin menikmati semua ini
Meski harus lepas segala sendi karena sakit
Aku ingin tetap menikmatinya.




Share

21 Des 2008

Happy Birthday

Pagi dan senja sudah sama-sama berlalu

Pengap malam bawa laraku pada celah bisu yang sepi

Ada angin menapak menjambak gugur kering daun sisa kemarau

Dingin di sini…

Buat raga bawa-bawa hati ikut beku

Tapi rinduku sudah terbang sedari tadi menjemput mimpi

Karena cinta sudah kerontang seabad.


Masih jelas suaramu mengingatkanku lewat telepon kemarin

Hari ini waktu telah mengantarmu tambah satu usia

Tapi hanya satu kata selamat bisa terucap

Sebab kaki ini enggan melangkah ke pijakanmu sekarang.


Gambar dari sini




Share

15 Nov 2008

Email



........Saya hanya ingin mencari hidup baik-baik tanpa ada sedikitpun keinginan untuk menyusahkan orang lain. Saya lahir dari keluarga yang susah. Sudah hidup susah dari dulu, Saya juga susah karena harus membiayai dua orang adik saya yang kuliah dan hanya bersandar pada saya, saya tidak mungkin mengandalkan orang tua saya yang sudah renta, yang menangis ketika tahu saya .......

Terakhir, saya memohon maaf yang sebesar-sebesarnya apabila email ini tidak sepantasnya masuk ke kotak masuk teman-teman, juga apabila ada kata-kata yang salah dari penjelasan saya ini. Saya tidak punya maksud apa-apa selain ingin menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi....

Dengan Penuh Hormat

Dody Kudji Lede





Share

21 Okt 2008

Roda Hidup

Suatu saat tabir itu akan tersibak, siapapun yang bermain dibelakang semua ini akan merasakan betapa hebatnya karma menghampiri mereka satu persatu agar mereka pun ikut merasakan seperti apa penderitaan yang sudah mereka berikan pada orang lain.

Telah menjadi doktrin alam, hidup ini roda yang berputar.




Share

12 Jan 2008

SYUKUR AWAL TAHUN

Sebenarnya tulisan ini sudah sejak tgl 2 Januari kemarin, tp karena jaringan internet di Kota Kupang lagi trouble jadi baru bisa diposting sekarang.


Manusia diciptakan bukan untuk menikmati hidup dengan begitu saja, tetapi setiap hari dia ditempa untuk menjadi lebih matang dan berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Ketika seseorang melewati sebuah proses menuju pada kematangan hidup, tidak sedikit dia harus berhadapan dengan rintangan yang kadang menyurutkan semangat untuk terus ada menjalani setiap waktu hidup yang diberikan oleh Sang Kuasa. Tidak sedikit manusia yang akhirnya menyerah pada keadaan tersebut namun tidak sedikit juga yang terus mencoba untuk tetap eksis dengan berjalan menempuh dan melewati setiap rintangan yang ada sebagai sebuah keharusan dari hidup. Orang-orang yang putus asa dan menyerah pada akhirnya memilih jalan singkat mengakhiri hidup daripada terus berada pada hidup yang disebutnya penderitaan. Sedangkan yang kuat akan semakin memantapkan posisinya dan berusaha lagi untuk menanjak pada level berikutnya. Ibarat sebuah game, siapa yang pintar mengatur strategi dia akan tetap bertahan dan akan naik pada level berikutnya, siapa yang ceroboh akan harus siap menghadapi “GAME OVER”. Siapa menabur dialah yang akan menuai.

Sudah banyak perjalanan saya tempuh. Saya pernah berada pada dunia yang memanjakan saya dan membuat saya tak ingin keluar dari dunia itu, tetapi saya dihujat untuk segera lepas darinya dan segera mencari dunia baru agar saya bisa tau sebesar apa dunia ini. Dengan alasan bahwa saya sudah cukup dituntun maka saya harus dilepas agar bisa melangkah sendiri.

Pada saat melangkah pada dunia baru inilah saya mulai berhadapan dengan yang nama kerasnya hidup. Ketika Pemda NTT mengeluarkan Perda No. 2 Tahun 1996 tentang tata niaga kayu cendana, maka mulailah saya dengan profesi pertama sebagai seorang “pencuri” kayu cendana. Sasaran saya bukan hutan cendana, saya juga tak perlu berjalan jauh hingga ke pelosok hanya untuk mencari sekilo kayu cendana. Saya cukup mangkal di depan kantornya pak polisi dan menunggu truk yang mengangkut cendana datang, lalu ketika mereka sibuk dengan segala tetek bengek surat ijin dan segala macam birokrasi di pos polisi saya, beraksi di atas truk tersebut. Terkadang saya cukup nekad menunggu sampai dini hari ketika pak polisi sudah terbuai mimpi lalu dengan santainya kayu cendana di gudang polsek saya ambil satu persatu seolah-olah itu milik saya sendiri. Saya tak perlu jauh-jauh juga untuk memasarkan hasil “kerja keras” saya, karena tidak jauh dari polsek tersebut tinggal seorang penadah yang siap dua puluh empat jam nonstop untuk menerima hasil usaha saya.

Meski yang saya lakukan ini tergolong pencurian tapi saya tak mau menyebut itu sebagai pencurian. Saya tetap beranggapan bahwa saya hanya ingin mengambil hak saya dan masyarakat lain yang dirampas oleh perda tersebut di atas. Terkadang ada rasa takut ketika saya melakukan itu, tapi rasa takut itu justru menjadi tantangan tersendiri bagi saya.

Ketika kayu cendana di hutan sudah habis terkuras oleh keserakahan penguasa dan pencuri kelas kakap, saya terpaksa harus beralih profesi dari seorang pencuri kelas teri menjadi seorang penjudi amatir yang melanglang buana dari satu pasar tradisional ke pasar tradisional lainnya. Di sini saya mulai tau sebesar apa dunia. Di sini saya bertemu dengan orang-orang yang tak pernah saya bayangkan. Di sini juga mental saya ditempa untuk menjadi semakin kuat, agar bisa bertahan dalam kondisi dan posisi apapun dan berusaha untuk tidak boleh lari dari keadaan itu, sekalipun saat itu setiap belati yang ditujukan pada saya siap mengantar saya pada maut. Menjadi yang ditakuti adalah tujuan kelompok saya, walaupun orang-orang yang takut itu belum tentu mau menghormati seorang berandal. Saya menikmati setiap taruhan di arena judi yang digelar. Jika menang, sudah pasti ada pesta. Jika kalah, saya tak pernah takut untuk mengambil kembali sebagian modal saya pada orang yang menang.

Tapi ternyata profesi saya yang baru ini tidak bertahan lama. Modal saya sebagai bandar habis ketika saya tergiur untuk memasang taruhan dibandar judi yang lain. Alhasil saya harus melepas atribut saya sebagai penjudi dan mencoba profesi baru yang lebih halal dan penuh kerja keras sebagai seorang kondektur truk, bis, angkot, tukang ojek. Apapun saya lakukan waktu itu hanya agar supaya saya tak menerima sumpah serapah ibu saya ketika saya minta uang untuk beli rokok.

Saya menikmati, mencintai semua pekerjaan saya dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Apapun itu. Jika saat ini saya masih bisa menikmati pekerjaan saya, saya yakin kejujuranlah yang telah mengantar saya hingga terus bertahan sampai sejauh ini, berjalan sampai sejauh ini. Satu hal yang tak akan pernah saya lakukan dan saya yakin saya tak akan pernah mencobanya yaitu menjadi seorang yang bekerja di bidang pemerintahan alias PNS. Saya benci pekerjaan ini, walaupun saya tak pernah membenci orang-orang yang bekerja di dalamnya. Saya benci dengan birokrasi yang berbelit-belit, aturan-aturan yang diciptakan, yang tak pernah memihak yang lemah malah semuanya menyengsarakan rakyat dan semakin membuncitkan perut orang-orang yang membuat aturan tersebut. Dan saya tak ingin dituding oleh rakyat sebagai salah satu dari pembuat aturan itu.

Memasuki tahun ini, dengan bercermin pada tahun-tahun sebelumnya, tidak sedikit yang memberi saya pelajaran tentang arti dari hidup yang sesungguhnya, memberi saya pengalaman-pengalaman berarti yang ingin saya sebut itu sebagai proses menuju pada hati yang lebih bijaksana. Dalam proses melewati setiap tantangan yang selalu saya hadapi ketika akan melangkah pada level berikutnya saya harus berhadapan dengan sekian banyak godaan untuk menyerah, tapi kata menyerah yang ada di kamus saya telah dirubah artinya oleh pribadi saya dan bukan lagi berarti bertekuk lutut, tetapi telah berubah arti menjadi lebih pasti melangkah bila perlu berlari untuk menggapai yang lebih baik dari kemarin dan hari ini.

Saya bersyukur karena saya masih diberi kepercayaan oleh-Nya untuk melihat matahari pagi ditahun ini, mendengar kicau burung, dan bernafas tanpa beban. Saya bersyukur ketika bisa memasuki tahun ini tanpa alkohol seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya bersyukur sampai saat ini masih ada sahabat, saudara, dan orang tua yang selalu memperhatikan dan masih mendoakan saya. Saya bersyukur bisa mengenal orang-orang yang mau berbagi rasa dengan saya, entah suka, entah itu duka. Orang-orang yang terus mendorong saya untuk terus maju tanpa rasa ragu dan takut. Orang-prang yang ingin merubah hidup saya menjadi lebih baik. Saya tak akan pernah melupakan orang-orang ini sampai kapanpun. Sampai kapanpun. Seribu terima kasih tak seharga dengan apa yang sudah mereka lakukan untuk saya, dan itu membuat nama mereka tak akan pernah luput dari doa-doa saya sebagai ganti terima kasih yang tak mampu saya ucapkan itu. Dan saya masih bersyukur atas tahun sebelumnya yang penuh dengan pelajaran bermakna bagi saya dalam melangkah dengan lebih baik tahun ini. Saya tak pernah mempunyai resolusi khusus disetiap tahun baru, termasuk tahun ini. Dan saya juga tak ingin menggantung gambar khayalan saya setinggi bintang. Tapi saya hanya terus berdoa dan berharap agar suatu saat saya bisa memiliki hidup yang lebih baik dan jiwa yang kian bijaksana. Bukankah segala sesuatu akan indah pada waktunya?

Jangan tidur jika kamu bisa duduk, jangan duduk jika kamu bisa berdiri, jangan berdiri jika kamu bisa berjalan, jangan berjalan jika kamu bisa berlari dan jangan hanya berlari jika kamu bisa terbang.

My best thanks to : DW, yg su bawa beta datang di ini dunia. Enter yg sonde perna bosan maen gila dgn beta. Yappy yg hamper jadi kompor gas. Tasya yg hanya senyum kalo beta dikerjain (moga langgeng dgn yappy). Unu yg tamba kamomos. Aro yg tamba antik. Bos Donal ‘n Ibu Sisca, thanks 4 ur belief. Heri, Ingat pesan tu... Alle, lu pung maitua yg mana??? Oom Elcid, makasih utk supportnya Oom. Noven, su di mana ni bu??? All Crew SC GMKI, CIS Timor n all fren yg beta sonde bisa sebut satu-satu..... semoga botong masih bisa batahan sampe taon depan.






Share

11 Agu 2007

Hadiah Ultah


Senja, pukul 17.35, waktu kamu sms
Kamu : Do, ni hari aku ultah... blh g aQ minta hadiah dari kamu
Aku : boleh... apa...? jangan yang mahal ya...
Kamu : g, ni g pake duit kok...
Aku : klo gitu apa dong...? kompie km ngadat ya?
Kamu : bukan, pokokNya Ada dech...
Aku : trs apA dong, masa km minta hadiAh DaRi aQ tp km G mo KasiH tau minTa apa?
Kamu : Kamu datang aja ke kosku ntAr malam Ya... nNt br Aku Ksh Tau km Apa.
AkU : yach,... Ntar Mlam aq g bisa,...
Kamu : keNApa...? Mo ke Cewek km ya...?
Aku : g, aq jaGa ntar malam
kamu : sAmPe jam BerapA..?
Aku : sampe Jam 11.
Kamu : kLo gitu Km Datang aJa jam 11 ke kos..
AKu : mang gpp aQ ke Kos Km tengah malam gt...?
Kamu : GpP, gak ada larangAn berkunjung kok,... datanG ya, aQ tgg ya.
Aku : ya DeCh, aQ usahain ya...
Kamu : PokokNya Harus datang abis jaga, Q gak peduli mo jam berapa km DaTanG.
"HARUS DATANG". Da....a..
Aku : (diam)

**** D****

Kupang, tengah malam, di kos kamu.

Tiba dengan lelah, tubuh malasku menjilati ranjangmu, sekedar renggangkan otot-otot yang kejang setelah seharian mengais rupiah.

Kamu, berdiri disitu, bersandar, dipintu yang tertutup, lembarannya dari triplex tua yang sudah mulai keropos. Menatapku, dalam diam...

"orang baru sampe buat kopi kek apa kek..." aku, coba bercanda.

"Do, lo tahu gak?"

"Ia, lo mo minta hadiah ultah kan? Dah tau kok, lu mo minta apa? Jangan yang macam-macam, aku lagi kere."

"Aku gak minta macam-macam kok, cuma satu macam" kamu tersenyum dengan candamu yang dingin. Aku tersentak, bukan oleh candamu. Senyummu. Astaga, senyummu menggetarkan imanku dalam kamar yang hanya kita berdua.

"trus apa dong?" jarak kita hampir dua meter, dan mata lelahku mulai menjangkau matamu dalam tatapku yang samar diterangi lampu 45 watt. Mata itu. Akh... Telaga bening yang selalu kurindukan dalam hari-hariku dulu, ketika aku begitu mencintaimu. Cahaya dari mata itu yang selalu membuat tidur malamku tak pernah nyenyak. Itu dulu, ketika akhirnya kamu pergi untuk menuntut ilmu di java sebelum aku sempat berkata tentang cintaku padamu. Berwaktu-waktu setelah kepergianmu aku disini memeluk rindu hanya dalam bayang rapuh. Gelap. Aku bahkan tak mampu meraba. Lalu aku jatuh cinta pada orang lain dan cahaya dari matamu mulai kulupakan perlahan demi perlahan hingga akhirnya aku tak ingat apapun tentang matamu, senyummu, cinta dan kerinduanku padamu...

"Do, aku selalu ingat kamu kalo lagi lihat purnama." Tubuh malasku langsung bergerak duduk diranjang besar milikmu. Ingat aku? Sesuatu yang tak pernah kusangka. Aku bahkan selalu berpikir bahwa kamu tak akan pernah ingat aku lagi. Dan mengingatmu saat purnama adalah Sesuatu yang tak pernah aku lakukan setelah beberapa bulan tak bersamamu... Apalagi setelah kepergianmu, aku disini selalu dipeluk cinta yang hangat, yang benar-benar memanjakanku, walau pun pada akhirnya aku hancur karena cinta itu.

Aku mulai gugup. Buku usang yang sudah sempat terbuang itu kini ada dihadapanku, dan lembar demi lembar kenangan yang kita tulis bersama mulai terbuka secara otomatis dari file benakku. Aku, yang dulu begitu mengagumi dan mencintaimu, aku yang sekarang telah melupakan semua tentang kita dulu. Dan sekarang, kamu sendiri yang mengundang aku untuk mengingat semua memory yang telah terkubur itu. Dan aku...

"Mang apa hubungannya purnama sama ultah lo?" Aku sengaja lupa bahwa kita dulu pernah bersama dibawah bias purnama, menikmati purnama itu hingga larut malam, kemudian mengumpamakan diri sebagai bintang dan bulan dengan mengalihkan pembicaraan, kembali ke topik kenapa aku datang ke kos kamu.

"Menurut kamu wajar gak cewek ngungkapin perasaannya ke cowok?" Kamu tak bergeming, pengalihan topik gagal.

"Ya wajarlah, sekarang kan jaman modern, orang-orang dah pada modern dengan pikiran yang modern, picik tu orang klo bilang pamali cewek nembak cowok."

”Aku sudah nunggu lama Do, lama banget, aku pernah ngerasa gimana yang namanya bosen nunggu. Tapi aku tetap nunggu. Aku tau disaat aku menunggu, ada resiko dimana aku harus sakit melihat orang yang aku tunggu bertengger di bunga yang lain. Aku tau Do, aku tau bunga itu beracun untuk orang yang aku cintai, tapi aku gak bisa ngelarang dia untuk terus hinggap dibunga itu.”

“Kamu ngomong apa sih dari tadi, kamu panggil aku buat minta hadiah ultah ato apa?” Gugup, gagap, bingung mulai berperang dalam benak. Gak ngerti sebenarnya yang terjadi.

“Bunga itu sudah mengangkatnya terlalu tinggi dari tempat yang tak bisa lagi ku jangkau dari tempatku berpijak, tapi pada akhirnya menjatuhkannya kedasar yang aku juga tak bisa mengangkatnya.” Kamu menarik napas. Sepertinya terasa berat bebanmu. Aku memilih diam, membiarkanmu menghabiskan sisa cerita.

“Aku ikut sakit, aku ikut terluka ketika dia terkapar tak berdaya karena racun dari bunga itu. Aku menangis ketika dia menangis. Aku bahkan ingin sekali membelainya dan menenangkannya, tapi bahkan aku tak sanggup lagi mendekatinya…” Sejenak kamu terdiam. Tapi tatapmu tak melepaskan mataku. “Ketika dia berada dalam kehancuran dan membutuhkan semangat untuk bangkit, aku ingin ada disana menyemangatinya. Ketika dia membutuhkan seorang teman, aku ingin ada disana menemaninya. Ketika dia membutuhkan air karena dahaganya, aku ingin sekali menjadi mata air baginya. Tapi Do, lagi-lagi aku tak bisa mendekatinya. Dia telah masuk kedunia lain setelah kehancurannya. Dunia yang dia pikir bisa membuatnya jauh dari hiruk pikuk cinta. Padahal justru disitu dia menghancurkan dirinya sendiri. Aku yang tak bisa mendekatinya lagi berusaha sebisa mungkin agar dia jauh dari dunia itu, kudekati sahabat-sahabat terbaiknya untuk menyadarkannya. Kukirimkan doa untuk kesembuhan hatinya dalam setiap waktuku. Hingga akhirnya kemarin aku temukan dia telah berada pada jalan yang seharusnya, walau aku tau, terkadang dia masih bersenggolan dengan masa lalunya.” Sekali lagi ku lihat kau menarik napas panjang. Masih berat.

“Aku sangat mencintainya dari semua yang pernah kucintai, tak ada perumpamaan yang dapat mewakili rasaku. Semua kata bahkan serasa tak punya makna.” Kamu memandangku sambil berjalan kesisi ranjang.

“Do, kamu bisa kan Bantu aku untuk bilang padanya bahwa aku sangat mencintainya?”

Aku menelan ludah, pahit. Kutekan rasa gugupku, kutekan gemetar hatiku.

“Do, kamu bisa kan? Ini hadiah ultah yang kuminta dari kamu. Plez…”

kamu memohon. Ada bening mengalir dari telaga indah milikmu.

Aku masih diam, menatap telaga bening milikmu hingga kedalam dasar, kutemukan disana sepotong hati yang sangat berharap. Sepotong hati yang dulu sangat kuharapkan, kini mengharapkan aku menyampaikan cintanya pada seseorang yang entah siapa.

Jelas aku terkejut. Jelas ada rasa enggan jika aku yang harus menyampaikan. Jelas, sangat jelas lubuk hatiku tak akan rela kamu bersama orang lain.

Aku yang ini, yang ada dihadapanmu sekaranglah yang mencintaimu dengan segenap hati. Walaupun itu dulu. Walaupun pada akhirnya rasa itu sudah mati. Tapi sekarang, setelah semua yang baru kamu ceritakan, tiba-tiba rasa itu kembali tumbuh entah dari mana datangnya lagi. Aku ingin kamu mencintaiku saja. Bukan orang lain.

Aku tercipta bukan untuk menjadi mak comblang bagimu. Aku diciptakan untuk mencintai dan memilikimu. Tapi kenapa sekarang kamu mengundang aku untuk membuat luka diatas rasaku sendiri?

“Do, kamu bisa kan?” airmata tiba-tiba mengalir deras. Sebegitu besarkah cinta yang kau pendam sekian lama hingga harus tertumpah airmatamu. Kenapa harus kamu memohon padaku dengan airmata? Tidak tahukah kamu jika melihatnya aku luruh dalam segala?

Oh tidak… jangan paksa aku melakukan hal menyakitkan ini. Plez… aku tak sanggup. Tak adakah hadiah lain yang bisa membuat kita sama-sama merasa bahagia?

Kamu masih terisak menatapku. Dalam memohonmu. Dan masih dikedalaman telagamu yang membanjir, memang kutemukan sesuatu yang sangat jujur disana berbicara. Seolah itu dari dasar nurani.

Terasa berat saat kepala ini akan terangguk setuju. Kerongkonganku bagai disumbati sebongkah batu “aku harus bilang ke siapa, **?” akhirnya dengan suara yang kupaksakan keluar juga.

Masih dalam tangis kamu tersenyum mendengarku.

“kamu benar mau bilang ke dia Do?” kenapa harus ditanya lagi? Akh… langsung bilang kenapa? Aku kembali mencoba mengangguk.

Lalu tanpa sepatah kata kamu bangkit dan menarikku turun dari ranjang itu. Berdiri. Sesaat aku tertegun. Bertanya. Apa yang akan terjadi lagi?

Kamu tepat didepanku. Menatapku dalam diam yang panjang, mungkin mencari kesungguhan dari mataku atas jawaban yang kuberikan. Tapi akh... Jangan menatap aku seperti itu. Kamu tahu kan aku tak pernah bisa menatap mata itu lebih dari sepersekian detik.

Tanganmu tiba-tiba menggengam erat tanganku yang gemetar dan berkeringat dan menuntun untuk memegang pinggangmu, dan tanganmu kau tempatkan persis di kedua bahuku. Hhhhhh… aku pernah memimpikan ini dulu terjadi. Tapi itu tidak lagi berlaku sekarang saat kamu ternyata sangat mengidamkan seseorang yang bukan aku. Dan kini, kita nyaris tak berjarak, hanya terpisah mungkin sesenti, setelah dulu samudra pernah memisahkan kita dan harapanku padamu.

Aroma tubuh dan napasmu menyenggol indra penciumanku, merasuk hingga ke kedalaman paru-paru, lalu berlabuh dihati. Ada kebahagiaan yang tersangat. Tapi aku sadar bahwa itu hanya sebentar. Karena sesaat lagi pelukan ini akan segera lepas dan aku kembali tersakiti. Aku sudah tak kuat lagi. Aku ingin segera melepaskan, lalu pergi sejauh mungkin dari tubuhmu. Tapi tiba-tiba, saat aku tak sanggup menatapmu dan pandangku menerawang langit kamarmu, cup… sesuatu yang dingin menyentuh bibirku. Kecupanmu. Aku tersentak. Tak menyangka. Senjata macam apalagi yang kau pakai meremukan aku untuk menyampaikan pesan cintamu? Aku memandangmu, masih tak percaya kau baru menciumku. Tapi kamu tersenyum seolah penuh kemenangan.

“Do, orang itu adalah kamu.” Lagi-lagi kau buat aku terbelalak. Untungnya dokter tak pernah mendiagnosa aku ada penyakit jantung. Lalu satu kecupan darimu kembali mendarat. Lagi, dan lagi, dan aku masih tak percaya semua itu. Kucoba mencubit lenganku. Sakit. Berarti bukan mimpi. Lalu pelukanmu makin erat diantara kebingunganku.

"**, ni bukan mimpi kan?" aku bertanya diantara rasa tak percaya. Kamu tersenyum dan menganguk meyakinkanku.

“**, are u sure?” Tanyaku lagi meyakinkan hati.

“ya, ini hadiah ultah yang aku minta dari kamu Do, cinta kamu… aku tau kita sudah lama saling mencintai. Tapi aku tau kamu gak akan pernah bisa bilang karena aku tau seperti apa kamu. Kamu terlalu malu untuk bilang perasaan kamu. Kamu terlalu lama membiarkan rasa cintamu menyiksa diri kamu. Aku selalu menunggu kamu Do, tiap hari, tiap detik. Tapi aku sadar bahwa penantianku akan sia-sia kalo bukan aku yang mengambil inisiatif untuk ngomong duluan.” Dan lagi-lagi… cup… ciumanmu kali ini kusambut tanpa ragu. Dan…

"Kamu mau kan menjadi bintang untukku?" Aku mengangguk pasti. Siapa Takut...???

"**, aku sudah mencoba untuk lupa bahwa aku pernah bermimpi menjadi bintang untukmu. Aku bahkan sudah membunuh harapanku untuk bisa bersama denganmu. Dan sekarang, hadiah ultah yang kamu minta ini sebenarnya bukan aku yang memberikan untuk kamu, tapi kamulah yang sudah memberinya untuk aku." Pelukanmu makin erat, sambil kepalamu bersandar didadaku.

"Thanks **, ini hari yang gak akan aku lupakan dihidupku." Ku ucapkan terima kasih yang tulus, yang tak pernah terucap dari bibir ini sebelumnya.

Masih ada bening mengalir dari telaga indah milikmu. Tapi aku tau, itu berasal dari kebahagiaan hari ini.

Bukan hanya hari ini dan esok aku ingin menjadi bintang untukmu **, tapi aku ingin selamanya menjadi bintang dihatimu. Agar selamanya aku bisa memelukmu, entah itu saat mendung, hujan, panas, kelaparan, entah itu dalam saat apapun, aku ingin terus bersamamu selamanya.

Siapa sih yang mo nolak klo cinta datang dengan tangan terbuka?

Lagian kan dah Lama pacaran dengan someone tapi kayak still jomlo...

So... hari gini... Jomlo.... Cape DeH....!!!

Thanks God… cinta yang kucari selama ini telah kembali.

“Terkadang Tuhan terlebih dahulu memberikan orang yang salah untuk kita cintai, baru sesudah itu memberikan orang yang benar. Sehingga ketika hal itu terjadi kita akan sangat bersyukur.”





dedicated to my master DW

Kita punya cerita yang hampir sama boss... but BetHa agak happY Ending...





Share