Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

21 Des 2009

Jika kita harus menjauh

Kekasih ku yang sejati, Adakah hatimu tak tergores sedikit pun pilu ketika ini semua harus terjadi dan kita harus melepas peluk selamanya lalu pergi untuk saling jauh dari pandang kita?

Kekasih ku yang terakhir, jika kita memang harus saling melepaskan, adakah masih akan kau ingat namaku di sisi hatimu tatkala pekat mendung gelegarkan guntur dan petir membuatmu gemetar?

Kekasihku yang kurahasiakan, masihkah akan terus kau ingat perjalanan kita yang singkat dengan sedikit kenangan kita ini jika pada akhirnya luka ini lahirkan dendam dan pikun kuasai ingat?

Kekasihku yang sejati, bolehkah untuk yang terakhir aku katakan dengan hati ini kepadamu, bahwa rasa cinta ini telah melekat menjadi daging pada tulang dan mengalir tanpa hambatan dalam setiap nadi, bahwa telah kau buat luluh setiap sendi rasa ini dengan semua ini hingga aku bagai kuntum layu lalu gugur satu persatu dari tangkai. Bahwa begitu besarnya cintaku kepadamu hingga dalam setiap hembus nafas ku sebut namamu. Kekasih ku, maukah kau percaya kata ku yang kulukis dari kedalaman rasa yang kadang tak kumengerti ini kepadamu?

Kekasihku, pada saat itu tiba dan di mana kita harus meringis sakit oleh takdir ini nanti, aku ingin memelukmu bukan untuk yang terakhir, sebab kau tau bahwa rasa ini telah mengabadi dalam hati ini dan tak mungkin tergantikan kelam cinta yang lain.
Aku ingin menangis untuk ini beribu-ribu kali menyesali semua kebodohan ku dengan membiarkanmu saat kau memanggil-manggil namaku dulu namun tak pernah kuhiraukan. Aku ingin bermandi debu ketika selamat jalan harus terucap dan lambaian tangan tak mampu dihentikan saat kau mulai berpaling lagi pada jalanmu dan aku pada takdirku.
Aku pasti akan terus meratapi semua ini sampai kehendak takdir mengijinkan kita untuk kembali bersatu pada dunia yang lain seperti yang sering kau katakan padaku.

Yah seperti yang sering kau katakan, bahwa surga akan mempertemukan kita bahkan menyambut kita dengan dengan sukacita.


Merenungi hari




Share

Kenangan Sesaat

Apakah yang kau ingat tentang kita kekasih…
Sebuah perjalanan tak kenal lelah
Ataukah tempat perhentian yang sementara yang kita singgahi

Apakah yang kau ketahui tentang kita kekasih
Takdir kelam yang membuat kita tak bisa bersama
Ataukah cerita singkat pertemuan kita

Apa pun yang kau tahu tentang kita
Segala yang pernah terjadi...
Takdir telah menenggelamkan kita
Pada hidup yang lebih kejam.




Share

8 Nov 2009

Kata Setitik Debu

Adalah aku, seseorang yang tak pernah teranggap diantara setiap kesan bayang yang tercipta disetiap mata pun hatimu memandang. Memang tak layak aku yang tak tahu diri ini, yang hanyalah setitik debu namun berharap berarti. Yahhh, setitik debu yang hanya bisa mengotori hati indah milikmu, setitik debu yang oleh berkasnya dapat membuat kau hina jika bersanding. Maafkan jika telah ku paksa untuk terus terpaksa bersamaku selama ini. Sekali lagi kusadari bahwa memang aku tak pernah layak ada disisimu.

Sudah kuputuskan untuk pergi jauh, bukan karena rasa telah hilang terganti mutiara lain di hati, bukan juga karena jenuh telah datang mengantar enggan dipikir, bukan juga karena terang asa telah terganti pekat gagal. Namun ternyata telah ada berlian yang diam-diam kau harapkan hadir menghiasimu dibanding aku yang debu jahanam ini.

Aku memang selalu meminta lebih diantara sedikit hal kecil yang kuberi. Aku memang anjing yang sudah diberi tulang masih mengharap isi daging. Harusnya aku lebih menyadari ini, menuntut segala hal darimu sedangkan aku sendiri tak pernah bisa memberi apa-apa. Bajingan seperti aku ini layaknya jangan pernah diberi ampun. Dimusnahkan memang lebih pantas agar dunia khayalmu tak pernah terganggu dan tercemar ego setitik debu ini.

Sudah masanya sekarang ternyata untuk setitik debu ini menyadari ketidak-berartiannya. Menyadari untuk melepaskan tubuh seorang bidadari kecil yang sekian lama ditempeli dan dan dikotorinya. Merelakan untuk sang bidadari kecil ini mengenakan perhiasan dari berlian dan emas dan bukannya lumpur dari debu.

Sesungguhnya ternyata sudah masanya sekarang untuk menjauh sejauh mungkin dan bukan lagi untuk berpikir agar bisa kembali sedekat mungkin, bukan juga untuk menyerah pada realitas yang ada, namun lebih kepada bagaimana tujuan yang mulia dari sang bidadari kecil tak terusik hal sepele dari setitik debu.

Selamat jalan bidadari kecilku, sudah kah masa ini tepat ku katakan itu? Ternyata sudah, sebab kata ini sudah seharusnya sejak dulu ada untuk dikatakan bukan hanya untuk ditulis.

Selamat jalan peri kecilku, jika terbang, janganlah terlalu tinggi kau kepakan lebar sayapmu hingga ke langit. Sebab akan ada masa di mana kita lelah hingga jatuh. Sebab rasa jatuh itu akan teramat sakit hingga seolah tak bertulang dalam raga, dan jiwa akan teriak-teriak minta mati.

Selamat jalan dewi terkasih, jangan pikirkan debu ini. Debu ini hanya ingin memohon maaf jika salah pernah menghiasi dinding yang selama ini kau bangun menghindariku.

Maafkan aku.
Selamat tidur....




Share

7 Sep 2009

Over.... Again...

And the story goes....
My love was over. But no regrets...
Akan ada yg pergi, tapi akan ada yng datang...
kenangan yg tertinggal tetap akan jadi sejarah meski ceritanya mencabik cabik...
Dan seperti jejak yg membekas serupa prasasti, demikian kau akan kukenang disetiap aku melangkah..
Memang darah belum mengalirkan namamu,tapi hati sudah menggores luka bertahta namamu.
Bagaimana harus kuhapus???


Selamat pergi...

Biarkan bisu bercerita tentang tawa yang pernah kita paksakan dan tangis yang coba kita hentikan...
Biarkan angin melaju bebas tanpa terhalang tangan kita yang berpegangan...
Biarkan ranting yang lain tak perlu patah oleh ikrar yang dengan terpaksa kita buat...

Biarkan hutan hangus oleh jahanam tangan yang tak mencintainya...
Biarkan malam mencumbu bintang hingga bulan cemburu dan mentari gulana...
Biarkan semua... dan tinggalkan saja itu semua...

Bagaimana pun juga...
Ini memang harus berakhir....


Satu sisi akan dipaksakan untuk tak rela menerima...
Satu sisi akan dibiarkan tersenyum bahagia...

Kau merdeka... aku bahagia... kita tersenyum.... mereka tertawa....

Kita tidak mematahkan sayap yang lebar membentang, kita tidak menundukan kepala oleh perih, justru dada kita membusung bangga sebab hanya kita yang bisa menerima kebesaran hati ini untuk mengakhiri semua ini dengan baik-baik, kita sedang menuju kelana yang baru, petualangan masa depan yang dipastikan akan lebih seru...
Kisah kita ini sudah terlalu basi..
Sudah sering ada di cerpen dan sinetron indonesia...

Mari buat cerita baru, skenario baru, sutradara baru, pemain-pemain yang baru... dan cinta yang baru...






Share