Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

21 Des 2009

Kenangan Sesaat

Apakah yang kau ingat tentang kita kekasih…
Sebuah perjalanan tak kenal lelah
Ataukah tempat perhentian yang sementara yang kita singgahi

Apakah yang kau ketahui tentang kita kekasih
Takdir kelam yang membuat kita tak bisa bersama
Ataukah cerita singkat pertemuan kita

Apa pun yang kau tahu tentang kita
Segala yang pernah terjadi...
Takdir telah menenggelamkan kita
Pada hidup yang lebih kejam.




Share

8 Nov 2009

Kata Setitik Debu

Adalah aku, seseorang yang tak pernah teranggap diantara setiap kesan bayang yang tercipta disetiap mata pun hatimu memandang. Memang tak layak aku yang tak tahu diri ini, yang hanyalah setitik debu namun berharap berarti. Yahhh, setitik debu yang hanya bisa mengotori hati indah milikmu, setitik debu yang oleh berkasnya dapat membuat kau hina jika bersanding. Maafkan jika telah ku paksa untuk terus terpaksa bersamaku selama ini. Sekali lagi kusadari bahwa memang aku tak pernah layak ada disisimu.

Sudah kuputuskan untuk pergi jauh, bukan karena rasa telah hilang terganti mutiara lain di hati, bukan juga karena jenuh telah datang mengantar enggan dipikir, bukan juga karena terang asa telah terganti pekat gagal. Namun ternyata telah ada berlian yang diam-diam kau harapkan hadir menghiasimu dibanding aku yang debu jahanam ini.

Aku memang selalu meminta lebih diantara sedikit hal kecil yang kuberi. Aku memang anjing yang sudah diberi tulang masih mengharap isi daging. Harusnya aku lebih menyadari ini, menuntut segala hal darimu sedangkan aku sendiri tak pernah bisa memberi apa-apa. Bajingan seperti aku ini layaknya jangan pernah diberi ampun. Dimusnahkan memang lebih pantas agar dunia khayalmu tak pernah terganggu dan tercemar ego setitik debu ini.

Sudah masanya sekarang ternyata untuk setitik debu ini menyadari ketidak-berartiannya. Menyadari untuk melepaskan tubuh seorang bidadari kecil yang sekian lama ditempeli dan dan dikotorinya. Merelakan untuk sang bidadari kecil ini mengenakan perhiasan dari berlian dan emas dan bukannya lumpur dari debu.

Sesungguhnya ternyata sudah masanya sekarang untuk menjauh sejauh mungkin dan bukan lagi untuk berpikir agar bisa kembali sedekat mungkin, bukan juga untuk menyerah pada realitas yang ada, namun lebih kepada bagaimana tujuan yang mulia dari sang bidadari kecil tak terusik hal sepele dari setitik debu.

Selamat jalan bidadari kecilku, sudah kah masa ini tepat ku katakan itu? Ternyata sudah, sebab kata ini sudah seharusnya sejak dulu ada untuk dikatakan bukan hanya untuk ditulis.

Selamat jalan peri kecilku, jika terbang, janganlah terlalu tinggi kau kepakan lebar sayapmu hingga ke langit. Sebab akan ada masa di mana kita lelah hingga jatuh. Sebab rasa jatuh itu akan teramat sakit hingga seolah tak bertulang dalam raga, dan jiwa akan teriak-teriak minta mati.

Selamat jalan dewi terkasih, jangan pikirkan debu ini. Debu ini hanya ingin memohon maaf jika salah pernah menghiasi dinding yang selama ini kau bangun menghindariku.

Maafkan aku.
Selamat tidur....




Share

7 Sep 2009

Over.... Again...

And the story goes....
My love was over. But no regrets...
Akan ada yg pergi, tapi akan ada yng datang...
kenangan yg tertinggal tetap akan jadi sejarah meski ceritanya mencabik cabik...
Dan seperti jejak yg membekas serupa prasasti, demikian kau akan kukenang disetiap aku melangkah..
Memang darah belum mengalirkan namamu,tapi hati sudah menggores luka bertahta namamu.
Bagaimana harus kuhapus???


Selamat pergi...

Biarkan bisu bercerita tentang tawa yang pernah kita paksakan dan tangis yang coba kita hentikan...
Biarkan angin melaju bebas tanpa terhalang tangan kita yang berpegangan...
Biarkan ranting yang lain tak perlu patah oleh ikrar yang dengan terpaksa kita buat...

Biarkan hutan hangus oleh jahanam tangan yang tak mencintainya...
Biarkan malam mencumbu bintang hingga bulan cemburu dan mentari gulana...
Biarkan semua... dan tinggalkan saja itu semua...

Bagaimana pun juga...
Ini memang harus berakhir....


Satu sisi akan dipaksakan untuk tak rela menerima...
Satu sisi akan dibiarkan tersenyum bahagia...

Kau merdeka... aku bahagia... kita tersenyum.... mereka tertawa....

Kita tidak mematahkan sayap yang lebar membentang, kita tidak menundukan kepala oleh perih, justru dada kita membusung bangga sebab hanya kita yang bisa menerima kebesaran hati ini untuk mengakhiri semua ini dengan baik-baik, kita sedang menuju kelana yang baru, petualangan masa depan yang dipastikan akan lebih seru...
Kisah kita ini sudah terlalu basi..
Sudah sering ada di cerpen dan sinetron indonesia...

Mari buat cerita baru, skenario baru, sutradara baru, pemain-pemain yang baru... dan cinta yang baru...






Share

6 Agu 2009

Take care...


Aku ini memang debu jahanam. Yang tak perlu kau anggap bahkan bisa kau buang, kau ludahi dan kau injak sesukamu lalu terserah mau cacian apa kau beri. Aku ini memang anjing kotor berlumpur yang setiap hari berkubang nista hanya untuk jaga namamu agar tak tercoreng arang. Aku ini singa berbulu domba piaraanmu yang sangat rakus hanya ingin tubuh lalu bangkainya akan dibuang di selokan limbah. Aku ini memang lapar, memang haus kasih sayangmu, hingga bahkan terkadang aku terpaksa harus meminum airmataku sendiri ketika kau tak peduli padaku saat rinduku ada di titik puncak dehidrasi. Kemarin perasaan itu masih memanjaku. Tadi pagi pagi pun perasaan itu masih membangunkan dan menciumku.

Lalu tiba tiba saja, ada secercah ragu milikmu kembali datang menghantam permukaan ulu hati ku hingga perih sangat. Dengan acuh kau ludahi aku lalu tersenyum berlalu tanpa berpaling sejenak apalagi menyeka sisa lendir yang kau hadiahi bagi ku. Setega inikah kau pada aku yang kau anggap nista memiliki cintamu, pada aku yang kau anggap hina untuk memelukmu... sudah terlalu menjijikan kah rindu yang ku tampung setiap hari di bekas kubangan yang kita gali bersama untuk menyamarkan aib yang sudah bersama dengan suka cita kita reguk?

Siang ini kau telah tega menuduh untuk hal yang tak pernah ku lakukan tanpa mu. Hanya untuk menghindar dan menjauh demi cintamu yang lain. Kenapa tak jujur saja kau katakan sejak dahulu kala, ketika mentari belum sempat berpikir untuk terbit bahwa kau merasa tak pantas bersanding dengan orang semiskin aku?

Di tepi jalan ini kau biarkan aku lirih menatap mu pergi dengan amarahmu, tak kau pedulikan teriakan panjang dari sakit sebab hati ini yang ikut terbawa bersama mu pergi.... ‘kembalilah... kembalilah....!!!” namun hingga kau menghilang di simpang jalan itu, ku lihat kau tak coba menoleh lagi.

Pada akhinya suara lirih ini tersaput angin entah dibawa kemana pergi... “kembalilah... kembalilah... kembalilah...!!!” aku masih saja terus berteriak dengan berlaksa asa biar kau dengar dan mau kembali, entah apakah kau dengar... entah apa kau sadari...

Entah di mana kau sekarang...
Apa yang terjadi padamu sekarang,
entah apa yang kau lakukan sekarang,
adakah kau baik-baik saja...
sudah makan kah..??

Akh,,,... aku masih ingin bertanya padamu seperti ini hingga malam tiba kembali sambil membelai rambutmu, hingga pada akhirnya ku peluk dan ku gendong tubuh kecilmu ke pembaringan, meninabobokan mu sampai benar-benar terlelap, lalu mengecup keningmu, hidungmu, bibirmu, dagumu, pipimu, matamu, sambil berbisik ...

‘slamat tidur sayang, semoga mimpi yang indah...’.
Take care... sweetheart...




Share