Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

12 Agu 2008

Catatan sebuah pagi

Tolong bawa ini pada siang yang sebentar akan datang
Aku tak bisa menemuinya hingga senja nanti
Karena malam ini aku berencana pergi hingga ke pelosok sepi
Bilang saja aku ini sudah letih menemaninya lewati hutan onak
Dan sudah kuyup oleh hujan cerca

Tolong bawa ini pada siang yang sebentar lagi akan datang
Entah bagaimana kulukis terima kasih untuk semua yang telah diberinya.
Juga haru hati membiarkannya kembali pada hidupnya sendiri
Seandainya aku masih bisa berdiri disisi duka yang sering diberinya
Maka perjalanan ini tak akan pernah mungkin terjadi.

Tolong katakan ini pada teriknya siang
Aku tak pernah siap menghadapi saat-saat ini
Sebagaimana aku tak pernah siap mengatakan selamat jalan.
Karena sekalipun jauh kaki masih bisa melangkah
Hingga saat dimana detik sudah enggan menari pada dinding kelam
Sepanjang jalan masih lurus terus terbuka
Aku akan terus melangkah hingga melangkah
Sudah pasti jejak akan terus kutinggalkan
Di tempat dimana tapak sempat melewatinya.
Tak akan terbawa serta ke mana langkah berikut diayun.
Seperti saat ini
Kutinggalkan jejakku pada pagi.
Untukmu.




Share

5 Agu 2008

Bosan

keheningan ini,
Akh... kadang ingin kurenggut tirai-tirai dari kamar ini, lalu mencabiknya
biar robek, biar lepas semua sesakku. sebab aku muak pada sepi ini

Aku ingin pergi ke suatu tempat esok, agar bisa berlari, bebas, lepas tak terkejar tanpa mengeluh.




Share

9 Mei 2008

Kita belum bertemu


Mungkin kita belum bertemu
Atau Mungkin terlalu cepat kita bertemu
Ataukah aku yang terlambat datang ke hatimu
Apapun itu...
Aku kini di sini dengan cinta
Menantimu di ujung segala pengharapan
Memuja di segala penjuru aku akan pergi

Waktu akan terus berjalan
Siang akan tertinggal ketika senja merapat
Akan ada hati merapuh ketika perjalanan ini harus terjadi
Akan ada kerinduan ketika jarak mulai terentang
Saat ini...
Pada kesepian dan angin
Pada malam dan hening
Aku ingin menunjukan untukmu satu titik
Bahwa cintaku tak pernah salah mencintaimu.

Aku ingin membuka setiap relungmu
Dengan meminjam bintang untuk ku jadikan saksi
Lalu pada pagi aku ingin tenggerkan embun pada daun hijau taman hatimu
Tapi itu tak akan bisa kulakukan
Jika pintu hatimu masih terkunci ketika malam baru mulai merapat
Bukankah sudah kukatakan dulu
Aku hanya ingin meletakan sebuah dian di pintu hatimu
Yang akan kunyalakan dan akan terus bernyala
Ketika gelap duka menghampirimu?

Seandainya waktu memang tak akan pernah memberi ijin
Aku ada diantara nama-nama yang tertulis dihatimu
Tolong ajari aku
Bagaimana berpijak pada bekas jejakmu




Share

23 Apr 2008

Entah... (next part)

Apa kau sadari...???
Entahlah.
Yang jelas saat ini aku masih berpijak pada harapan yang dulu pernah kututurkan padamu.
Tak butuh kata-kata nan diplomatis untuk menjelaskannya, toh kita ini sudah sama-sama dewasa untuk bisa memilah sikap dan perhatian.
Entah sikapmu ini adalah kontra ataukah masa bodoh atas rasa dan harapku.
Aku tak tau, saat ini aku belum mampu merasuk ke dalam pikiranmu untuk membaca setiap peta strategi yang ada di dalamnya, karena hingga saat ini pula cintaku belum mampu menembus ruang beku hatimu lalu mencairkannya.
Entah pula keadaan ini akan terus berjalan sampai kapan, Entah pula sampai kapan waktu akan menemaniku dalam gelisah yang panjang ini. Apakah suatu saat ia akan berkata jenuh lalu pergi meninggalkanku ataukah aku yang akan muak dan memutuskan berlalu.




Share