Ijinkan Hati Bicara...: Kota Kupang google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html
Tampilkan postingan dengan label Kota Kupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Kupang. Tampilkan semua postingan

4 Des 2013

Gengsi Negara Tak Mampu

Di pertengahan tahun 2005, tiba-tiba mata media nasional dan lokal tertuju ke Desa Bena, kecamatan Amanuban Selatan. Di sana ada sebuah panti rawat gizi yg merawat balita gizi buruk akut. Adalah Metro TV yg pada waktu itu menjadi televisi pertama yg mewartakan kasus gizi buruk di Amanuban Selatan ini. Bagai Kebakaran jenggot, Bupati TTS waktu itu dijabat oleh Daniel Banunaek langsung menelpon Camat Amanuban Selatan. Beberapa saat kemudian, Panti Rawat Gizi yang saat itu sedang merawat 9 Anak yang terkena Marasmus Kwasiorkor dipenuhi camat dan jajarannya. Staff CARE yang bertugas saat itu ditanyai banyak hal, sampai sang camat menuding staff CARE International telah membuat sensasi dengan berita yang sudah tersebar. Para staff ini kemudian diancam untuk tidak boleh memberikan informasi apa pun untuk wartawan.

Sebelumnya, Panti Rawat Gizi atau istilah kerennya waktu itu Theurapic Feeding Center (TFC) diresmikan ini oleh Duta Besar Amerika Serikat pada tahun 2003. Pengresmian ini dihadiri juga bupati TTS Willem Nope yang beberapa saat kemudian digantikan oleh Daniel Banunaek.

Hebohnya berita kasus gizi buruk waktu itu tentu saja mengundang banyak media untuk turun melihat realitas yang ada. Media tidak hanya memberitakan kejadian anak gizi buruk di TFC, tapi juga yang tersebar dan dirawat di pusat-pusat rehabilitasi yang dibuat oleh CARE International di tingkat Posyandu yang disebut Community Feeding Center (CFC). Ribuan Balita pada saat itu diberitakan mengalami gizi buruk akut. Selain Marasmus, Pneunomia juga menjadi salah satu penyakit yang selalu turut serta dibawa dalam kasus gizi buruk ini.

Media lokal dan nasional memberitakan dan menganggap kejadian gizi buruk di Amanuban Selatan sebagai KLB, tapi tentu saja, penyangkalan dari Bupati dan staffnya menarik perhatian Frans Lebu Raya yang pada waktu itu baru menjabat sebagai Gubernur NTT.

Dalam sebuah kunjungan ke Kecamatan Kualin, Gubernur NTT singgah beberapa saat di TFC Panite untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Tidak ada kata lain saat itu dari beliau, selain bahwa akan disediakan dana dari APBD untuk mengantisipasi kasus ini lebih meluas.

Setelah kepulangan Gubernur NTT, beberapa hari kemudian berendus kabar bahwa TFC Panite akan diambil alih oleh Pemda TTS, dan perawatan seluruh anak gizi buruk akan menjadi tanggung jawab pemda.

Ternyata benar, tidak lebih dari sebulan, di pertengahan september 2005, seluruh aset CARE yang ada di TFC Panite diserahkan kepada Pemda untuk dikelola. Staff CARE yang bertugas di tempat tersebut dipindahkan ke divisi atau kabupaten yang lain untuk menangani hal yang sama.

Total asset yang diserahkan dari CARE ke Pemda TTS pada waktu itu bernilai ratusan juta rupiah. Susu, minyak, beras, sampai tempat tidur dan gedung TFC itu sendiri. Puskesmas Panite ditunjuk menjadi pengelolanya.

Sayang sekali, sebulan kemudian, TFC tersebut tidak lagi merawat pasien. Alasan ketiadaan biaya operasional dan tidak ada lagi pasien gizi buruk di Amanuban Selatan menyebabkan gedung TFC tersebut terlantar.

Di bulan desember, iseng-iseng saya melongok isi dalam gedung tersebut. Kosong. Tidak ada lagi 15 tempat tidur lengkap dengan spon lembutnya. Tidak ada lagi kulkas. Tidak ada lagi Lemari-lemari lain dan lemari obat, alat masak dan lain-lain. Entah ke mana berton-ton susu dan minyak goreng, kacang hijau, dll.

Hingga saat ini, gedung TFC tersebut masih berdiri kokoh berdampingan dengan Puskesmas Panite. Kosong, tanpa penghuni. Sementara dari tahun ke tahun, Dinas Kesehatan Kabupaten TTS terus merelease data gizi buruk yang angkanya tak pernah turun dari ribuan kasus. @dodydoohan




Share

Penyangkalan Kemiskinan NTT

Kemarin, setelah keluar dari ATM di ujung Ruko Oebobo, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dengan adiknya yg berusia 3 tahun menghampiri saya lalu menadahkan tangan sambil berkata “oom, minta uang do, kita belom makan…” 

Saya kaget dan marah. Keduanya berpakaian sangat kotor di mata saya. Ingus si balita tampak mengalir panjang di bawah hidung. Area sekitar hidungnya juga tampak hitam oleh ingus yg mengering karna diseka dengan terpaksa. 

Saya lalu bertanya di mana orangtuanya dan alasan mereka menjadi peminta di situ. Setelah itu mengantar mereka pulang ke rumah mereka di belakang pasar oebobo. Rumah mereka terbuat dari dinding bebak beratap seng dan terlihat sudah tua termakan hujan dan panas, dekat dengan sebuah kantor LSM Lokal yg cukup punya nama di kota kupang. Tidak ada orangtuanya di rumah itu. Dari cerita tetangganya, saya tau bahwa ibu anak-anak itu berjualan sayur di pasar oebobo dan bapaknya di pasar oeba. Mereka bersekolah di SD Bertingkat Oebobo. Setiap pulang sekolah, mereka selalu bermain di pasar tempat ibunya berjualan. Entah siapa yg menyuruh mereka jadi pengemis.

Saya lalu meminta tolong kepada ibu tetangga itu memberi maka anak-anak itu. Setelah melihat mereka makan, saya pulang tanpa memberi mereka uang. 

Beberapa hari lalu, ketika sedang makan di sebuah warung di daerah oebufu, saya juga dihampiri anak kecil yg meminta uang kepada saya dengan alasan belum makan. Karena tidak ingin memberi dia uang, saya mengajak dia makan. Tetapi anak yg mengaku lapar ini menolak dan memilih pergi.
Diperempatan lampu merah kantor gubernur dan juga patung kirab, ada banyak anak kecil menjadi penjual koran. Gaya menjual mereka yg kadang memelas membuat kita kadang tak sampai hati dan membeli koran mereka. Mereka bahkan berjualan sampai malam di tempat itu.

Saya membayangkan eksploitasi berlebihan dilakukan terhadap anak-anak ini. Eksploitasi di depan mata dan hidup kita sehari-hari tapi tak pernah kita hiraukan. Saya heran jika ada yg berkata bahwa di kota ini tidak ada pengemis. Adakah mereka pernah melintas di tempat-tempat yg saya sebutkan di atas ataukah kaca jendela mobil mereka terlalu hitam utk melihat ke samping sepanjang perjalanan mereka? 

Saya heran ketika ada yg menyebut kemiskinan kita telah dieksploitasi utk kepentigan corporate tertentu tanpa melihat realitas. Saya kuatir kita terlalu banyak menggunakan angan-angan lantas membungkam fakta yg sedang menari-nari di hadapan kita. Saya kuatir kita terjebak dalam fanatik egosentrisme sehingga tidak lagi melihat jauh ke luar jendela. Saya kuatir kita tidak menggunakan hati nurani utk menggugah diri kita sendiri ketika kita berupaya menggugat orang lain. Saya kuatir kita hanya melihat emas di ujung tugu monas tanpa sadar bahwa di mata kita melintang balok hitam. 

Saya percaya bahwa perubahan besar dimulai dari kelompok kecil. Saya percaya utk tidak melihat masalah hanya dari satu sisi. Saya percaya bahwa kekuatan mimpi mampu merubah diri saya jauh lebih baik dari saat kemarin dan hari ini. Saya percaya bahwa dlm diri seorang terdapat kekuatan luar biasa. Saya percaya bahwa kita harus kritis, kritis dengan nilai yg melihat isi gelas setengah penuh dan akan diisi penuh, bukan gelas setengah kosong yg akan menjadi kosong. Saya percaya bahwa kreatifitas lahir dari dalam jiwa terdalam seseorang, jika kita memberi apresiasi, bukan tidak mungkin itulah awal masa depan yg lebih baik. 

Saya pernah mengalami, rasa malu terhadap diri dan keadaan membuat saya bangkit, tetapi kemarahan menjerumuskan saya jauh lebih ke dalam jurang kekelaman. @dodydoohan




Share