Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

15 Jan 2014

Mencari Kandidat Intoleran Sastra Flobamora



Catatan : Opini ini telah dimuat di Harian Umum Victory News, Rabu, 15 Januari 2014

Beberapa bulan lalu, sebuah pertemuan kecil dilakukan di Taman Nostalgia oleh anggota Rumah Poetika Kupang, Dusun Flobamora dan Blogger NTT. Bincang panjang di malam yang singkat itu mengantar kami pada perbincangan tentang sastra NTT yang terus berkembang dari hari ke hari hingga peluang-peluang yang mungkin bisa dilakukan untuk membuatnya semakin bersinar ke segala penjuru. Ada optimisme, bahwa kelak NTT mampu menjadi kiblat sastra Indonesia.
Perbincangan kami sampai pada keluhan tentang kritik terhadap sastra NTT yang masih ada di titik hitam putih. Belum ada satu pun penulis atau – kalau boleh dibilang - penyair atau sastrawan NTT yang maju sebagai kritikus sastra. Banyak postingan puisi di media sosial dan koran-koran hanya melahirkan pujian-pujian datar yang pada akhirnya tanpa disadari justru membunuh nalar penyair untuk keluar dari zona nyaman.
Ini terjadi karena mungkin masih kuatnya kedekatan antar sesama penulis NTT yang notabene masih ada dalam lingkaran yang sama. Kritik terhadap karya seseorang masih ditakuti akan menjadi nila yang merusak sebelanga susu solidaritas para penulis muda Flobamora. Ketakutan seperti ini tidak disertai kekuatiran bahwa apabila sastra NTT berkembang tanpa kritik maka sesungguhnya perjalanan menuju cita-cita besar akan terbatas pada sesuatu yang monoton dalam retorika dan perspektif sastrawan. Memilih untuk tidak melakukan kritik hanya akan membuat seseorang berada dalam zona nyaman tanpa pernah tahu sebaik apa karya yang dihasilkannya.
Kritik adalah komunikasi yang efektif untuk menggembleng seorang sastrawan tampil lebih mengkilap dengan karya-karyanya. Kritik adalah fondasi dari solusi-solusi cerdas untuk menemukan perspektif terbaru. Kritik mampu membangunkan alam tidur seseorang untuk melihat kenyataan dari perspektif yang lain.
Kita tahu, bahwa sebuah hasil tanpa kritik akan membuat hal tersebut seolah tanpa kelemahan. Sudut-sudut lemah yang tak mampu dijangkau oleh pikiran sebelumnya akan mampu dilihat ketika ada ruang yang dibuka untuk menerima kritik.
Beberapa teman yang saya harapkan bisa menjadi kritikus sastra yang baik justru memilih untuk nyaman sebagai penulis. Frater Januario Gonzaga, Mario Lawi, Ragil Sukriwul misalnya. Saya yakin orang-orang ini memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menjadi kritikus yang tajam dan cerdas. Ketiga nama tersebut adalah sastrawan muda yang lahir di atas tajamnya karang Kota Kupang, tetapi percumbuan mereka yang romantis dengan penyair lainnya telah menutup mata batin mereka untuk tampil sebagai kritikus yang berani.
Dari generasi sebelum nama-nama di atas muncul nama Yohanes Sehandi. Tetapi, dosen asal Universitas Flores hanya mampu mencari nama-nama sastrawan yang lahir dari NTT sejak pra kemerdekaan hingga medio reformasi ini, kemudian mencatat karya-karya mereka sebagai bahan publikasi yang tentu saja efeknya hanya terbatas keagungan nama tanpa kritik terhadap hasil karya yang telah ditetaskan.
Dari Undana muncul nama Dr Marcell Robot dan Prof Felix Sanga. Lagi-lagi, nama dua budayawan ini sudah sangat sibuk dengan jam mengajar yang tinggi sehingga tidak memiliki waktu untuk membaca karya apalagi menuliskan kritik yang menguji mental para penerusnya. Telaah terhadap buah pena penyair NTT pada akhirnya hanya menjadi kewajiban yang dipaksakan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhir. Skripsi yang seharusnya menjadi nilai tambah, toh tetap menjadi koleksi di Undana sementara penulisnya setelah diwisuda malah mencari kiblat lain yang tidak ada kaitannya dengan apa yang telah ditulis.
Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus-kampus yang tersebar di seantero Flobamora yang diharapkan bisa melahirkan kritikus sastra teryata hanya mampu mendidik mahasiswanya sebagai calon pegawai. Jika pun dari sana ada yang lahir sebagai penulis atau sastrawan itu bisa jadi karena memang bakat alamnya dan bukan karena didikan dari tempat dia menimba ilmu.
Seorang teman berpendapat bahwa agak susah mengharapkan seorang kritikus lahir dari hasil didikan kampus. Ini karena dari dosennya sendiri tidak pernah siap dikritik. Mahasiswa yang kritis dianggap pembangkang, maka sebaiknya diam demi nilai yang aman. Selain itu, kritik dianggap bukan sebuah budaya yang baik untuk membentuk karakter seseorang dan membuatnya lebih maju, masih banyak cara lain. Saya kurang sepakat dengan pendapat yang terakhir ini.
Kritik memang bukan untuk membentuk karakter. Tetapi membuatnya selangkah lebih maju adalah pasti. Persoalan sesungguhnya adalah ketika kritik dikatakan sebagai bukan budaya yang baik karena orang yang dikritik tidak siap dikritisi, sehingga akan lahir gejolak yang tidak penting menanggapi hasil kritik itu sendiri.
Sebagai contoh kasus; beberapa bulan lalu, setelah menonton sebuah pertunjukan teater di Taman Budaya, saya menulis kritik terhadap hasil pementasan tersebut, tentunya setelah sebelumnya meminta ijin kepada sutradaranya. Tulisan yang kemudian saya muat di facebook ini mendapat tanggapan beragam. Namun, rupanya sang sutradaranya kaget karena tidak menyangka akan ada kritik seperti itu. Ketidaksiapan menerima kritik ditunjukannya dengan tanggapan yang ditulisnya.
Setelah terbitnya tulisan tersebut, kini mulai berdatangan kritik positif terhadap tulisan-tulisan yang lain. Terakhir, Mario Lawi dengan berani mulai membuka selubung pujian dengan kritik yang bernas terhadap terhadap novel terbaru karya Robby Fahik berjudul “Likurai untuk Sang Mempelai” dan saya anggap ini sebagai langkah maju dunia sastra NTT.
Seni, entah apa pun bentuknya, adalah dunia yang seharusnya dipenuhi kritik. Seni adalah bumi, dan kritik adalah udara yang melingkupinya. Siapapun yang tinggal di bumi pasti harus bernafas. Demikian pula yang memilih jalur seni sebagai bagian hidupnya harus menerima kenyataan untuk bernafas dalam kritik, setajam apa pun kritik itu. Atmosfer ini seharusnya hakiki dalam atma seni siapapun jika ingin tetap eksis.
Kritik pun harus ditulis dengan jelas pada inti persoalan yang harus dikritisi dan bukannya sindiran penuh metafora. Orang yang mampu membuat kritik cerdas menunjukan kemampuannya menelaah masalah, tetapi kritik dalam bentuk sindiran tak jelas menunjukan iri hati dari orang yang melakukannya. Sindiran berbeda dengan kritik. Sindiran adalah milik mereka yang memiliki pikiran dan hati tak jernih yang tak mampu keluar dari bayang-bayang ketidakmampuan untuk menghasilkan hal-hal produktif. @dodydoohan




Share

14 Jan 2014

Bersyukur, Belajar, dan Bersyukur Lagi


Baru-baru ini seorang teman bertanya kepada saya, apa kunci sukses yang dipakai, berapa banyak buku motivasi yang saya baca sebagai pedoman saya melangkah sampai sejauh ini?


Saya tersenyum mendengar pertanyaannya tapi juga bingung mencari kata yang tepat untuk menjawabnya. Pada akhirnya saya menjawab, ketika kamu mampu merenungi jalan hidupmu dan menjadikan semua yang terjadi sebagai alasan kamu bersyukur, maka kamu tidak membutuhkan buku-buku motivasi dan Mario Teguh.

Perjalanan hidup manusia tidak pernah bisa lepas dari hubungan sosial antara satu dengan lainnya. Langsung atau tak langsung, sadar atau tak sadar kita telah banyak dibantu oleh relasi ini. Entah orang lain itu membantu kita secara langsung atau tidak. Entah dia membantu secara sadar atau tidak. Atau entah kita pernah merasa terbantu atau tidak.

Saya percaya, bahwa kasih Tuhan bekerja lewat orang-orang yang telah membantu kita dan juga bahwa apa pun peristiwa yang terjadi dalam hidup saya memiliki makna ganda. Misalnya jika hari ini saya dipecat dari pekerjaan, maka pasti ada rencana indah dibalik peristiwa ini. Indahnya rencana ini mungkin baru akan kita sadari dalam rentang waktu yang lama atau bahkan saat itu juga.

Banyak pengalaman, sepahit apapun telah mengajari saya arti mengucap syukur. Orang-orang yang ada dibaliknya saya percaya sebagai motivator terbaik. Saya merenungi hidup saya detik demi detik dan bersyukur atas apa pun yang terjadi pada saya. Hinaan, caci maki, difitnah, dibenci, dicintai, disakiti saya terima dengan ikhlas lalu bersyukur lagi karena saya telah ditunjuk oleh sang sutradara agung untuk bisa belajar darinya. Mungkin terdengar klasik, tapi itulah cara saya menikmati hidup.

Tidak semua orang dibentuk dengan cara yang saya alami. Tidak semua orang diterima seperti cara saya diterima. Seorang teman bahkan pernah berkata kepada saya, “takdirmu ya sudah seperti itu, mau bagaimanapun kamu akan tetap seperti itu.”

Kata-kata itu masih terngiang di telinga saya sampai saat ini. Bahkan ekspresinya masih saya ingat dengan jelas. Teman ini adalah salah seorang atasan saya ketika untuk pertama kali saya bekerja di lembaga sosial masyarakat. Saat itu, saya adalah seorang security di gudang yang ia kepalai. Dia mengatakan demikian karena rasa ingin tahu saya tentang urusan logistik di gudang tersebut, mulai dari cara menata barang dalam gudang hingga laporan-laporan yang harus dibuat. Saya membutuhkan waktu yang lama untuk merenungi kata-kata itu, hingga akhirnya saya tiba pada satu kesimpulan bahwa mungkin apa yang dikatakannya itu benar. Ikuti saja air mengalir, jika dia mengalir ke tempat yang baik, maka baiklah hidupmu. Jika tidak??

Ya, bagaimana jika tidak. Apakah saya harus kembali ke masa lalu, masa yang penuh masalah sosial yang saya ciptakan. Kejahatan demi kejahatan. Perkelahian demi perkelahian antar kampung. Judi dari pasar ke pasar. Mabuk-mabukan atas nama geng, dll???

***

Tuhan memberi kita banyak cara untuk belajar. Kesempatan demi kesempatan dalam ribuan peristiwa adalah cara Dia mengingatkan kita bahwa Dia selalu ada dalam segala ruang dan waktu. Yang perlu kita lakukan hanyalah selalu merenungkan jalan-jalan yang telah kita lalui, tetap jujur dan tulus dalam menerima dan memberi, selalu bersyukur atas semua itu, tidak menjadi pongah apalagi takabur dengan setiap pencapaian hidup.

Jika apa yang saya ceritakan di atas tidak menginspirasi karena bagi anda biasa-biasa saja, saya anggap wajar pikiran itu ada. Semua orang mengalami pencapaian itu. Bahkan lebih hebat dari itu. Dan lagi, saya bukan menulis kisah inspiratif.

Namun, bagaimana jika ternyata tokoh yang saya ceritakan di atas adalah seorang pemuda yang tingkat pendidikannya sangat minim. Bukan seorang sarjana, bahkan pendidikan tertingginya kelas satu SMA?




Share

7 Jan 2014

Kontroversi Denny JA Sebagai Sastrawan Paling Berpengaruh



Sambil mempertanyakan kredibilitas 8 orang yang selanjutnya disebut Tim 8 saya menulis pikiran picik saya ini. Tersebutlah Tim 8 ini dengan segala kelihaian mereka telah membaptis 33 orang Indonesia sebagai sastrawan paling berpengaruh di tanah air ini hanya dengan 4 kriteria yang diciptakan dari hasil pergolakan selama dua hari. Entah yang disebut dua hari itu adalah dua hari penuh yang dua puluh empat jam atau dalam dua hari itu hanya ada lima menit diskusi. Intinya, dua hari.

Saya tidak tau persis 8 orang luar biasa itu -yang tak perlu saya sebutkan namanya alias silahkan googling- karena hanya beberapa karya mereka yang selintas saya baca. Selebihnya, di dalam Tim 8 tersebut tidak lebih hebat dari novelis dari kampung saya yg karna punya modal lantas melahirkan novel ecek-ecek memuakan ketika dibaca ataupun puisi-puisi mereka yg tak menggigit seperti nyamuk.

Jika menilik perkembangan sastra tanah tanah air, maka pantaslah jika sekalian penikmat sastra melantunkan protes mereka atas ditetapkannya Denny JA sebagai salah satu dari antara 33 sastrawan itu. Puisi esainya atau lebih banyaknya dia menggolontorkan dana untuk lomba puisi esai yang sampai saat ini masih dipertentangkan spesifikasi dan onderdilnya sepertinya menjadi salah satu alasan dia ditetapkan sebagai sastrawan berpengaruh. Inti protes bukan hanya masalah pada kualitas sastra, tapi kuantitas puisi yang dihasilkan Denny JA dari apa yang disebutnya sebagai puisi esai. Hanya ada satu buku karya Denny yang lantas oleh dia sendiri disebut sebagai pelopor genre baru sastra. Buku ini pun bukanlah keluaran penerbit mayor, tapi indie ala Denny.

Mencermati lagi salah satu kriteria penetapan yaitu “menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang” yang menjadi dasar pengangkatan Denny, maka alangkah sangat tak bijaknya Tim 8 ini. Lihat saja pendapat para sastrawan yang sampai saat ini masih mempertanyakan label “Puisi Esai” yang diciptakan Denny. Juga, Denny tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap dunia baru di ranah sastra Indonesia. Apa yang selanjutnya disebut sebagai pengikut Denny adalah manusia-manusia setengah sadar yang ikut dalam lomba puisi esai karena iming-iming hadiah yang WOW!!!

Penggerak??? Penggerak apa yang dimaksud dalam kriteria ini?? Apakah orang yang bergerak untuk ikut dalam fenomenona puisi esay yang diciptakan Denny? Tidak. Tidak ada. Selain tentunya tim sukses Denny yang dibayar untuk bekerja keras demi nama besarnya.

Penentang?? Ya jelaslah banyak yang menentang jika Denny menyebut diri sebagai pelopor puisi esai dengan – sekali lagi – ketidakjelasan kriteria yang diciptakannya. Puisi Esai Denny tidak lebih dari prosa yang sudah diciptakan sebelum Denny dilahirkan. Yang membedakannya hanyalah jumlah karakter dalam puisi esai dan prosa. Jika prosa memiliki karakter yang lebih sedikit namun tetap bernyawa hingga akhir. Esai Denny tidak lebih seperti orang tua bernafsu tinggi tapi loyo. Tidak ada evokasi yang tercipta dari puisi-puisi Denny.

Maka, penting untuk diketahui oleh dunia sastra Indonesia, bahwasanya ada kemungkinan Tim 8 ini telah dibayar untuk menyebut nama Denny JA dalam jejeran sastrawan paling berpengaruh. Kapasitas pas-pasan Tim 8 juga menjadi acuan untuk ditolaknya hasil penetapan yang berlebihan dan memalukan ini. @dodydoohan




Share

30 Des 2013

Budaya di Atas Kepala Kita

Perkembangan teknologi dewasa ini berhasil mengajak orang untuk tidak lagi harus berpikir susah-susah tentang apa yang harus dilakukan. Hal-hal praktis yang dulunya rumit menjadi instan. Apa yang dulunya hanya bisa dinikmati orang kaya, kini bisa juga dinikmati bahkan mungkin oleh orang paling miskin menurut catatan statistik.
Teknologi baru memang diciptakan untuk membuat hidup manusia menjadi lebih mudah. Tetapi kreatifitas para ahli dengan beberapa inovasi teknologi justru menjerumuskan generasi berikutnya menjadi tidak lagi produktif sebagai orang kreatif juga komunikasi face to face menjadi sesuatu yang tidak lagi penting.
Jika dulu seorang anak kecil dengan segala upaya menciptakan mainannya sendiri dari bahan yang bisa ia temukan di alam, kini kita lebih banyak menemukan banyak anak kecil yang merengek di toko atau mall untuk sebuah mainan mahal yang rusak setiba di rumah. Jabat tangan dari rumah ke rumah ketika natal kini berganti dengan sepotong SMS yang dirasa sudah cukup sebagai bagian dari silaturahmi.
Banyak pakar memiliki pendapat yang bertolak belakang tentang teknologi baru yang muncul akhir-akhir ini. Games di smartphone oleh beberapa ahli diklaim mampu meningkatkan kreatifitas anak. Namun, ada ahli lain yang berpendapat bahwa games tersebut membuat anak menjadi malas belajar dan menurunkan minatnya terhadap hal yang lain. Meski secara empiris belum ada kejadian yang membuktikan pendapat pertama, tapi pendapat kedua adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
Selain berdampak pada perkembangan anak, teknologi juga secara perlahan meruntuhkan kekekalan sebuah tradisi yang telah dijalani manusia dari abad ke abad. Budaya komunikasi yang terjalin dalam pertemuan fisik perlahan sirna seiring berkembangnya media komunikasi seluler. Misalnya tradisi “okomama” orang Timor yang mulai ditinggalkan berganti dengan undangan via telepon atau SMS.
Okomama dalam budaya Timor adalah silahturahmi antar keluarga. Biasanya Okomama dipersembahkan sebagai undangan dari keluarga yang satu kepada keluarga yang lain untuk menghadiri acara atau pesta yang dibuat oleh keluarga yang mengantar okomama. Secara fisik, okomama adalah tempat sirih dan pinang yang dianyam dari daun lontar dengan corak tradisional Timor. Di dalamnya akan diisi dengan sirih dan pinang yang dalam perkembangan selanjutnya diisi dengan sejumlah uang. Semakin tinggi nilai uang dalam okomama, semakin penting arti kehadiran orang yang diundang tersebut dalam acara yang akan dimaksud. Okomama biasanya dibawa oleh tokoh adat atau utusan adat dari keluarga yang mengutus. Orang yang diutus tidak sembarangan. Dia harus menguasai pantun atau syair orang timor yang harus dikatakan ketika menyampaikan undangan.
Okomama tidak hanya berlaku untuk pesta tetapi juga ketika seseorang meninggal. Keluarga jauh atau tokoh adat yang memiliki pengaruh langsung terhadap yang meninggal harus diundang secara adat dengan okomama untuk melayat. Tanda bahwa yang bersangkutan akan memenuhi undangan adalah dengan diambilnya isi dalam okomama. Jika tidak diambil, maka yang diundang berkeberatan untuk hadir dengan alasan-alasan tertentu.
Kisah okomama kini hanya menjadi nostalgia budaya. Dan sekali lagi perkembangan teknologi komunikasi menjadi kambing hitam dari hilangnya tradisi ini.
Selain okomama, permainan tradisional anak-anak kini tak berbekas. Tidak ada lagi anak meluncur dengan pelepah pisang ketika musim hujan tiba. Di kota besar bahkan tidak lagi kita temukan anak kecil bermain mobil-mobilan dari bahan-bahan alam maupun bahan daur ulang. Jika dulu anak-anak berlomba membuat petasan dari bahan daur ulang yang bisa dipakai berkali-kali, kini orang tua harus menyediakan budget khusus menjelang natal untuk membeli petasan mahal yang tidak berbekas dalam sekali ledak. Jika dulu mobil-mobilan dari kayu yang bisa diperbaiki ketika rusak, kini sudah berganti barang plastik berbahaya tanpa garansi bisa diperbaiki apabila rusak.
Contoh-contoh di atas hanya segelintir masa lalu yang makin jarang ditemukan di Kota Kupang. Salah satu lagi yang kemungkinan akan hilang ketika hari natal tiba adalah kebiasaan warga kota ini mengunjungi rumah ke rumah tetangga dan keluarganya untuk merayakan natal bersama. Hidangan minuman dan kue khas natal yang disajikan biasanya akan diikuti cerita penuh gelak tawa yang menambah keakraban hingga cerita-cerita inspiratif yang mengilhami orang lain untuk membuat hal yang lebih baik setelah natal berakhir dan tahun berganti. Kebersamaan setahun sekali ini kian langka dilakukan. Hidangan natal akhirnya hanya menjadi santapan bagi keluarga dalam rumah itu sendiri dan bertoples-toples kue tetap penuh hingga tahun berganti.
Jabat tangan natal kini bisa dilakukan di jalan-jalan, warung makan, kantor, mall, atau di mana pun ketika tanpa sengaja sesama kita bertemu di sana. Itu pun hanya sekedar basa-basi sambil menunggu waktu untuk urusan yang lain selesai dilakukan. Natal yang hangat di bulan desember kian mendingin. Hidup individualis telah menggantikan solidaritas natal. Kesibukan individu menjadi hakikat tunggal sementara kesibukan bersama kala natal tidak lagi menjadi nostalgia kebersamaan.
Pohon natal yang kreatif di gereja-gereja tidak lagi dirakit dari tangan terampil para pemudanya. Kewajiban majelis di gerejalah yang dengan telaten merangkai pohon natal yang dibeli di toko. Sekali lagi, kewajiban. Bukan panggilan nurani yang digugah untuk membuat natal kian bermakna.
Teknologi memang mampu menyediakan pohon natal yang indah tapi tidak kreatif. Gereja-gereja besar dengan dukungan jemaat kaya raya berlomba-lomba membeli pohon natal terbaik. Pemudanya didorong menciptakan pohon natal tertinggi. Sayangnya, inisiatif ini lahir karena ingin menonjolkan diri sebagai yang terbaik, bukan untuk menciptakan natal yang bisa mengajak semua orang merenungi dirinya.
Tradisi baru hari natal yang hanya memamerkan kekuatan telah meninggalkan kesederhanaan yang lahir bersama Yesus. Gemerlap pakaian baru di hari natal mengalahkan lampin yang membungkus sang bayi natal. Kemilau perhiasan mengalahkan cahaya tulus persembahan para gembala yang hanya membawa emas, kemenyan dan mur. Kemegahan gedung gereja nan hangat diagungkan melebihi dinginnya kandang tempat Yesus dilahirkan. Sementara di hati para janda, balu, yatim piatu, Yesus masih terbaring di sana sebagai bayi natal yang agung itu. IA kedinginan di sana, tanpa satu orangpun yang peduli. Merekalah yang setiap minggu selalu memberikan persembahan terbaik meski dihargai dengan diakonia yang tidak berarti jika diberi nilai.
Melihat hal yang jamak ini, pantaslah jika sang penyair dari Libanon menulis “Yesus tidak lahir untuk membangun kuil yang megah di dunia tapi untuk membangun bait yang agung dalam hati kita.” Gibran menuliskan keprihatinannya yang mendalam melihat gereja dan jemaatnya pada masa itu yang lebih mengagungkan kemewahan fisik daripada hati. Jika Gibran masih hidup hingga saat ini, mungkin ia juga akan menulis dengan penuh kesedihan bagaimana kita lebih mengagungkan apa yang kita pamerkan dari kemampuan kita menguasai teknologi tingkat tinggi dan bukan setinggi-tingginya keagungan natal.
Namun, sesungguhnya mengkambinghitamkan teknologi bukanlah hal yang bijaksana. Tidak ada ahli yang berpikir untuk menghancurkan budaya suatu bangsa ketika ia mulai merekayasa sebuah teknologi baru. Kesalahan terbesar adalah manusia itu sendiri yang menjadi konsumtif terhadap teknologi baru lantas mendewakannya dan meninggalkan nilai atau filosofi budayanya.
Bangsa yang kuat tradisi kebudayaannya tidak akan mudah terjerembab oleh kuatnya arus luar yang datang menerpa dari segala sudut. Justru terpaan itu menciptakan kekuatan baru untuk menunjukan eksistensi budayanya ke dunia yang lebih luas. Maka yang harus dipikirkan setelah ini bukanlah bagaimana menciptakan generasi yang menjunjung tinggi teknologi di atas kepalanya, tapi menjadikan teknologi sebagai pondasi baru yang menopang nilai-nilai budaya di atas kepala masing-masing. @dodydoohan

Artikel ini sudah dimuat di Harian Umum Victory News




Share