Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

2 Jul 2015

"Saya" dan "kami"

Jika saya melakukan atau menghasilkan sesuatu bersama sama orang lain, maka ketika harus bercerita, saya akan menyebut "kami" bukan "saya".

Jika harus menyebut nama, saya sebutkan satu persatu nama nama yg ada di balik apa yg telah dihasilkan itu dan tidak akan condong utk hanya menyebut "saya".
"Kami" menggambarkan sebuah tim, sebuah kesatuan, sebuah solidaritas yg membangunkan alam apresiasi terhadap hasil kerja bersama serta secara langsung membangun semangat baru untuk melakukan lebih dan lebih baik. Penyebutan "Saya" utk menonjolkan diri dari hasil kerja tim justru merendahkan diri sendiri atau malah dianggap egois atau bisa juga individualis.

Toh, tanpa menyebut "saya", orang pun akan sadar bahwa di dalam "kami" ada "saya" dan karna itu bukan mustahil bahwa "saya" akan mendapat apresiasi karna telah menjadi bagian dari tim yg memberi inspirasi.

Saya sedih ketika mendapati seorang teman yg gemar bercerita tentang "saya" tanpa sedikit pun "kami". Semangat "kami" utk bisa menghasilkan lagi hal hal luar biasa bersama dia semakin lama kian memudar. Bukan karna "kami" ingin juga disebut, tapi kerja tanpa apresiasi hanyalah menghanguskan semangat yg sebelumnya merah membara.




Share

31 Okt 2014

Elleora

I
antara waktu kemarin dan tadi
waktu tangismu mulai menjelma senyum menggemaskan
dan geliatmu meminta segera dipangku
kami tak lelah berjaga meski mata mulai sayup kuyu

ingin kami segera mengajakmu berlari
menendang dunia merobek langit
menghitung hitung segala kemungkinan hari esok
sebab kemarin yang kami lupakan
penuh drama dan kepalsuan

II
kelak akan kau jadikan rumahmu istana
dan kau adalah putri kecil yang terus menjaga sukacitadi dalamnya

kelak akan kau singkirkan segala kemunafikan yang menyusahkan permai negerimu
dari hatimu bukan hanya akan terbit doa
karena yang akan kau kerjakan adalah ketulusan tanpa peduli puja puji
atau caci maki seperti yang sering dinyatakan penuh kesombongan



III
kau bukan hanya cahaya
kau terik yang akan membakar hangus setiap hitungan kemunafikan
kesombongan akan kau kuburkan lantas membangkitkan harapan yang pernah mati
kepadamu, Tuhan tak akan melepas tangan

Anakku, musim musim akan hilang
Cinta mungkin akan dipenuhi seribu satu persyaratan
Tetapi kami berjanji kepadamu
Kita akan bersama sama mengikat dunia dengan kebijaksanaan
sambil bermain cahaya



27 Oktober 2014




Share

11 Mei 2014

Surat cinta dari Natan kepada Marta

Kepada
Yth. Adik Marta Teboko
Di
Sebelah kali panite

Dengan hormat,
Beta tulis surat ini dengan setengah mati karena susah hati sejak ditinggal adik pergi nun jauh ke sebelah kali. Beta tulis tapi bet bingung dengan gamatar yg bet alami karena bet sonde biasa gamatar bagini. Beta bingung yg gamatar ini bet pung tangan ato bet pung hati. Semoga adik Marta tidak rasa sama ke yang bet rasa karna itu artinya adik lagi lapar atau sakit. Jangan tanya di beta itu sakit apa karena bet bukan dokter.

Adik Marta yang tercantik di dalam kampung kita, adik mo tau kenapa beta gamatar? Karna beta dengar gosip dari mama-mama yg biasa bacari kutu di bawah pohon asam Taeflolo bilang adik Marta su kawin dengan to'o Nehemia yang baru datang dari Rote. Adik eee,,, itu berita betul ko? Kenapa adik kawin deng dia padahal adik dulu bilang kalo dia pung model ke babi balanda, kadang ju adik bilang dia sama ke sapi paron. Ma kenapa ko sekarang adik mau dengan dia ko sampe nikah bagitu? Adik sonde takut kena tendes dari sapi paron kah?

Adik, kalo memang itu berita itu benar, beta hancur sudah ni, bet akan minum mabok mulai dari pasar nakmofa sampe pasar haekmeu dan finis di pasar panite biar ko adik nanti liat ame beta kalo adik pi balanja di sana. Tapi beta mohon di adik, sekali lagi kalo memang ini berita betul, beta mohon adik tolong kasi kembali bet pung dompet warna hitam berisi uang seribu rupiah yg ujung ada tarobek ko ada lem pake isolasi. Tolong adik jangan ambel itu uang karna itu uang kenang kenangan buat beta, karna itu uang adalah kembalian dari paman burhan waktu beta beli kasi adik lencu merah di Niufmetan. Adik su dapat lencu jadi biar bet dapat doi tarobek sa ju bae.

Adik Marta yg terkasih sekali selama ini, demikianlah surat cinta ini saya buat dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari bapa RT 12, bapa dusun Laukmone ataupun bapa deng mama di rumah. Beta harap surat ini sonde mengganggu hubungan suami istri antara adik dan to'o nehemia di pagi yg indah ini.

Oenaskui, 30 november 2013
Yang menulis

Natan Nehemia Nistamnasi
(N3 yang dibaca entri)

Nb : ingat kasi pulang dompet

Ps : i love you



Noted : tulisan ini dibuat dalam status facebook saya beberapa bulan yang lalu.




Share

3 Mar 2014

SASTRA BUKAN HASIL ONANI



(Sebuah Refleksi terhadap Sastra dan Tokoh Sastra Perempuan NTT)

Noted : Opini telah dimuat di Harian Pos Kupang, Sabtu, 1 Maret 2014

Sebuah claim dengan sengaja dilakukan oleh sekelompok doktor yang menjadi juri NTT Academia Award bahwa sastra NTT dewasa ini hanya dikuasai kaum maskulin. Claim ini memantik kerusuhan dalam berbagai diskusi sastra yang kemudian digelar baik itu di media sosial mau pun dalam pertemuan lainnya. Secara kolektif para sastrawan menolak tuduhan tersebut dan balik menyerang dengan pernyataan bahwa para doctor terlalu banyak membaca karya ilmiah tetapi jarang bahkan tidak pernah membaca karya sastrawati NTT yang notabene didominasi oleh perempuan. Tak kalah hebohnya, seorang teman menuduh para doktor terlalu banyak bergaul dengan laki-laki sehingga tidak pernah tahu perkembangan perempuan.
Diskusi sampai pada pertanyaan; “apakah kata memiliki jenis kelamin sehingga pemilahan karya sastra pun harus berorientasi pada seksualitas seseorang? Bukankah ketika membaca sebuah karya sastra, pembaca selalu mengabaikan seksualitas penulis dan lebih menikmati isi bacaannya?”

Karya Sastra VS Karya Ilmiah
Adalah dua hal kontras jika harus menyandingkan karya sastra dan karya ilmiah. Misalnya, jika seseorang menulis tentang siklus haid seorang perempuan, maka latar belakang seksual penulis minimal harus diketahui oleh pembacanya. Yang pertama, setidaknya penulis harus perempuan karena hanya kaum ini yang mengerti dan berpengalaman mengalami haid setiap bulannya selama bertahun-tahun. Kedua, jika dia bukan seorang perempuan, maka dia haruslah seseorang yang memiliki keahlian khusus terkait persoalan biologis perempuan. Di sini, latar belakang penulis memang harus diketahui karena menyangkut isi tulisan yang sangat ilmiah.

Sedangkan sastra, latar belakang penulis adalah urusan nanti setelah karyanya dibaca. Karena itulah muncul istilah “Pengarang sudah mati ketika karyanya terbit.” Jenis kelamin tidak berlaku dalam menelaah sebuah karya, pengalaman penulis adalah urusan nanti, sebab yang dinilai adalah keindahan karya bukan individu yang mencipta.

Jika sebuah karya ilmiah hanya bisa masuk dalam jurnal-jurnal internasional karena seseorang memiliki gelar akademik atau sudah memiliki nama dalam dunia riset, maka karya sastra terjadi sebaliknya. Karya sastra dihargai ketika pertama kali dihadirkan dalam dunia keindahan tanpa harus diketahui tokoh penciptanya. Rasa penasaran terhadap keindahan sastra-lah yang melahirkan pencarian terhadap tokoh dibalik karya tersebut. Penyebutan nama penulis dalam sebuah karya menjadi sebuah formalitas belaka ketika sastra berubah bentuk dari lisan menjadi tulisan. Artinya, keseringan menciptakan keindahan, maka persona penulis dengan sendirinya akan terlekat pesona susastraan. Sampai di sini, khalayaklah yang menentukan akan disebut sebagai apa sang penulis sastra. Apakah sekedar penulis sastra ataukah sudah pantas menyandang gelar sastrawan atau sastrawati.

Karya sastra tidak lahir dari hasil onani, karena itu, adalah kecelakaan fatal jika sebuah karya sastra dinilai atau dihargai karena alat kelamin yang menempel dalam tubuh seseorang pelaku sastra. Karya sastra adalah keindahan yang lahir dari batin dan pikiran seseorang hingga mampu memberi evokasi terhadap batin insani lainnya. Orang yang memilih masuk dalam liang gelap sastra harus memiliki komitmen untuk hidup dalam kegelapan itu. Tetapi fakta akhirnya menunjukan kepada kita bahwa tidak semua orang mampu bertahan dalam kegelapan itu. Banyak yang memilih pergi karena tak tahan dalam penderitaan bersastra. 
Pernyataan-pernyataan di atas adalah untuk menjawab pertanyaan apakah kata memiliki jenis kelamin sehingga harus ada perbedaan penulis laki-laki dan perempuan? Mari kita bahas lagi pertanyaan, apakah benar sastra NTT hanya dikuasai kaum maskulin?

Lika-liku dunia sastra yang pucat dalam rentang dekade yang cukup lama justru menjadi segar karena peran para perempuan. Para perempuan ini mampu bertahan di tengah terjangan topan sastra luar NTT yang sangat deras masuk hingga ke sendi-sendi pendidikan dengan seijin Dinas Pendidikan ke sekolah-sekolah di NTT. Anak-anak SMP bahkan lebih mengenal JK Rowling, Mira W, Dewi Lestari dan penulis perempuan lainnya karena buku-buku mereka yang selalu berjejer rapi dalam perpustakaan-perpustakaan. Anak-anak ini bahkan kebingungan jika ada pertanyaan apakah mereka mengenal Maria Mathildis Banda atau Mezra Pellandou?? Mohon diperhatikan, jangan menambah kebingungan mereka dengan nama-nama lain pendatang baru seperti Sandra Frans, Anaci Tnunay, Diana Timoria, Franseska Eka, Lanny Koroh, dll.

Jika kita masih dengan pertanyaan yang sama, apakah kaum maskulin menguasai sastra NTT, maka pertanyaan baliknya adalah berapa banyak karya perempuan NTT yang sudah dibaca oleh-oleh yang mempertanyakan itu? Berapa banyak orang yang membaca karya sastra dan menyadari bahwa sastra hanya mengenal kata, kata hanya mengenal huruf, huruf hanya mengenal lekuknya. Dan di dalam huruf-huruf yang melekuk itu, tidak ada jenis kelamin. @dodydoohan




Share