(Sebuah Refleksi terhadap Sastra
dan Tokoh Sastra Perempuan NTT)
Noted : Opini telah dimuat di Harian Pos Kupang, Sabtu, 1 Maret 2014
Sebuah claim dengan sengaja dilakukan oleh sekelompok doktor yang menjadi juri NTT Academia
Award bahwa sastra NTT dewasa ini hanya dikuasai kaum maskulin. Claim ini
memantik kerusuhan dalam berbagai diskusi sastra yang kemudian digelar baik itu
di media sosial mau pun dalam pertemuan lainnya. Secara kolektif para sastrawan menolak tuduhan
tersebut dan balik menyerang dengan pernyataan bahwa para doctor terlalu banyak
membaca karya ilmiah tetapi jarang bahkan tidak pernah membaca karya sastrawati
NTT yang notabene didominasi oleh perempuan. Tak kalah hebohnya, seorang teman
menuduh para doktor
terlalu banyak bergaul dengan laki-laki sehingga tidak pernah tahu perkembangan
perempuan.
Diskusi sampai pada pertanyaan; “apakah kata memiliki jenis kelamin
sehingga pemilahan karya sastra pun harus berorientasi pada seksualitas
seseorang? Bukankah ketika membaca sebuah karya sastra, pembaca selalu
mengabaikan seksualitas penulis dan lebih menikmati isi bacaannya?”
Karya Sastra VS Karya
Ilmiah
Adalah dua hal kontras jika harus menyandingkan karya sastra
dan karya ilmiah. Misalnya, jika seseorang menulis tentang siklus haid seorang perempuan, maka
latar belakang seksual penulis minimal harus diketahui oleh pembacanya. Yang
pertama, setidaknya penulis harus perempuan karena hanya kaum ini yang mengerti
dan berpengalaman mengalami haid setiap bulannya selama bertahun-tahun. Kedua,
jika dia bukan seorang perempuan, maka dia haruslah seseorang yang memiliki
keahlian khusus terkait persoalan biologis perempuan. Di sini, latar belakang
penulis memang harus diketahui karena menyangkut isi tulisan yang sangat
ilmiah.
Sedangkan sastra, latar belakang penulis adalah urusan nanti
setelah karyanya dibaca. Karena itulah muncul istilah “Pengarang sudah mati
ketika karyanya terbit.” Jenis kelamin tidak berlaku dalam menelaah sebuah
karya, pengalaman penulis adalah urusan nanti, sebab yang dinilai adalah keindahan
karya bukan individu yang mencipta.
Jika sebuah karya ilmiah hanya bisa masuk dalam
jurnal-jurnal internasional karena seseorang memiliki gelar akademik atau sudah
memiliki nama dalam dunia riset, maka karya sastra terjadi sebaliknya. Karya
sastra dihargai ketika pertama kali dihadirkan dalam dunia keindahan tanpa
harus diketahui tokoh penciptanya. Rasa penasaran terhadap keindahan sastra-lah
yang melahirkan pencarian terhadap tokoh dibalik karya tersebut. Penyebutan
nama penulis dalam sebuah karya menjadi sebuah formalitas belaka ketika sastra
berubah bentuk dari lisan menjadi tulisan. Artinya, keseringan menciptakan
keindahan, maka persona penulis dengan sendirinya akan terlekat pesona
susastraan. Sampai di sini, khalayaklah yang menentukan akan disebut sebagai
apa sang penulis sastra. Apakah sekedar penulis sastra ataukah sudah pantas
menyandang gelar sastrawan atau sastrawati.
Karya sastra tidak lahir dari hasil onani, karena itu, adalah
kecelakaan fatal jika sebuah karya sastra dinilai atau dihargai karena alat kelamin
yang menempel dalam tubuh seseorang pelaku sastra. Karya sastra adalah
keindahan yang lahir dari batin dan pikiran seseorang hingga mampu memberi
evokasi terhadap batin insani lainnya. Orang yang memilih masuk dalam liang
gelap sastra harus memiliki komitmen untuk hidup dalam kegelapan itu. Tetapi
fakta akhirnya menunjukan kepada kita bahwa tidak semua orang mampu bertahan
dalam kegelapan itu. Banyak yang memilih pergi karena tak tahan dalam
penderitaan bersastra.
Pernyataan-pernyataan di atas adalah untuk menjawab
pertanyaan apakah kata memiliki jenis kelamin sehingga harus ada perbedaan
penulis laki-laki dan perempuan? Mari kita bahas lagi pertanyaan, apakah benar sastra NTT
hanya dikuasai kaum maskulin?
Lika-liku dunia sastra yang pucat dalam rentang dekade yang
cukup lama justru menjadi segar karena peran para perempuan. Para perempuan ini
mampu bertahan di tengah terjangan topan sastra luar NTT yang sangat deras
masuk hingga ke sendi-sendi pendidikan dengan seijin Dinas Pendidikan ke
sekolah-sekolah di NTT. Anak-anak SMP bahkan lebih mengenal JK Rowling, Mira W,
Dewi Lestari dan penulis perempuan lainnya karena buku-buku mereka yang selalu
berjejer rapi dalam perpustakaan-perpustakaan. Anak-anak ini bahkan kebingungan
jika ada pertanyaan apakah mereka mengenal Maria Mathildis Banda atau Mezra
Pellandou?? Mohon diperhatikan, jangan menambah kebingungan mereka dengan
nama-nama lain pendatang baru seperti Sandra Frans, Anaci Tnunay, Diana
Timoria, Franseska Eka, Lanny Koroh, dll.
Jika kita masih dengan pertanyaan yang sama, apakah kaum
maskulin menguasai sastra NTT, maka pertanyaan baliknya adalah berapa banyak
karya perempuan NTT yang sudah dibaca oleh-oleh yang mempertanyakan itu? Berapa
banyak orang yang membaca karya sastra dan menyadari bahwa sastra hanya
mengenal kata, kata hanya mengenal huruf, huruf hanya mengenal lekuknya. Dan di
dalam huruf-huruf yang melekuk itu, tidak ada jenis kelamin. @dodydoohan
Share