Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

18 Sep 2013

Sebuah Narasi Ulang Tahun



 *dibacakan pada saat ulang tahun CIS Timor ke-14 di Sillu*


Sudah hakikat, Tuhan menunjukan kebesaranNya dengan menunjukan jalan hingga kita tiba di tempat ini. Sudah hakikat, kami berdiri di sini penuh kebanggaan. Menunjukan pada dunia betapa kami sangat percaya diri untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Kami bukan pejanji riuh yang setelah berkata-kata di atas tepuk tangan lalu menyuguhi kesunyian kepada penanti. Kami telah hentikan segala kata-kata, merubahnya sebagai tindakan. Hari ini engkau telah melihat, tanda dan waktu selalu menunjukan bukti berwarna warni seribu atas setiap prasasti yang kami dirikan di pedalaman sanubari negeri ini.

Kami tidak sendiri, doa-doa sering menari-nari di bibir mulut kami, agar hati kami tak hanya berisi harapan yang kosong, tapi penuh optimisme yang tak bisa dibantah kemustahilan. Kekuatan kami adalah solidaritas yang tumbuh diantara simpati dan empati untuk kemanusiaan. Kehidupan kami adalah kicau burung pagi hari yang memberi tanda bahwa kehidupan baru telah dimulai. Jika malam kembali datang, kami riuhi dengan nyala obor yang benderang dari nurani, agar kegelapan tidak menjadi kuasa yang menggetarkan titik moralitas siapapun.

Empat belas tahun, dan kami tak lagi harus merangkak. Kami tak ingin hanya berjalan, kami ingin berlari, terbang melesat, melintasi setiap depa kehidupan dan menyadarkan alam bawah sadar kemanusiaan bahwa kita semua, negeri ini, dunia ini, sangat bisa dirubah dengan tekad dan kerja keras. Dengan harapan dan optimisme. Dengan kekuatan solidaritas. Kita bisa merubah dunia jika semua ego individu kita tanggalkan. Kita bisa melakukan apapun, jika kita tidak hanya diam dan menunggu. Dunia esok pagi,ditentukan oleh sikap kita hari ini untuk bangkit.

Sekali lagi, kami tak asal bicara, perjalanan panjang empat belas tahun sudah mengilhami nilai-nilai yang tak abstrak. Nominasi awan dan langit biru bahkan tak menutup setiap lembar catatan sejarah yang kami reliefkan di tanah negeri ini.

Pernah kami beradu cepat dengan peluru di Noelbaki, membangun cinta di Raknamo sambil menyulam asa dari butir-butir tanah di Tanah Merah. Di jantung nusa ini juga, akan kau temukan jejak kami di belantara Wemer, sisa-sisa keringat kami di tanah Malaka, juga darah dan airmata kami di Kota Atambua. Kini pun, kebekuan Kota SoE telah kami cairkan dengan semangat bergelas gelas kopi sambil memantik kehidupan baru di Tanah Takari dan Amabi.

Maka bagi kami tiada lagi yang mustahil untuk dikerjakan. Cinta telah mengajarkan kami tentang solidaritas. Doa telah menguatkan harapan dan optimisme kami. Untuk kami belajar bagaimana menyeka keringat dan airmata, untuk kami belajar bagaimana perjuangan hidup sesungguhnya. Untuk kami belajar tidak hanya sekedar bermimpi, tapi bertindak mewujudkan mimpi mimpi kami.

Selamat ulang tahun CIS Timor... gapailah dunia dengan mimpi mimpimu




Share

Bahasanisasi


Beberapa kata diterjemahkan secara bebas lantas kita menyelipkan arti baru didalamnya. Secara harfiah dapat kita pahami bahwa kata-kata ini pada akhirnya menjadi lazim sebagai gaya komunikasi baru. Kata-kata yang seharusnya menempati makna tertentu berpindah tugasnya untuk menerjemahkan maksud tertentu. Dan tentunya, ini hanya berlaku pada pergaulan yang terbatas alias tidak berlaku umum. Meski demikian, kata-kata ini bisa dikonsumsi masyarakat umum bahkan yang awam dalam komunikasi tak resmi dengan intensitas yang tidak sesering dan sefasih di kalangan kata-kata itu diciptakan. Ketika kata-kata tersebut semakin hari semakin populer dan terus digunakan lebih luas, bukan tak mungkin pada akhirnya kata-kata tersebut akan diakui sebagai bahasa serapan yang bisa digunakan sebagai bahasa yang resmi.

Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang diakui dunia internasional sehingga dapat digunakan sebagai media komunikasi antar negara. Beberapa negara di kawasan Asia dan Australia bahkan membuka jalur khusus dalam perguruan tinggi mereka untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Sayangnya, harus kita akui bahwa penghargaan bangsa sendiri terhadap Bahasa Indonesia masih terbilang minim. Ini dibuktikan dengan banyaknya tulisan-tulisan yang banyak menyelipkan istilah-istilah asing di dalamnya. Laporan presiden SBY bahkan selalu terselip bahasa inggris yang sebenarnya jika dibahasaIndonesiakan akan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat kalangan bawah.

Pada akhirnya, istilah-istilah asing ini dirubah sesuai dengan struktur keIndonesiaan lalu diakui sebagai Bahasa Indonesia yang sah. Kata-kata serapan ini menjadi “bahasa tinggi” yang sering latah diucapkan orang-orang terpelajar bahkan masuk dalam tulisan-tulisan mereka yang penuh teori. Masyarakat tidak terpelajar yang notabene tidak paham kata-kata serapan ini akhirnya hanya bisa menjadi pendengar yang setia. Di sinilah ketimpangan komunikasi terjadi, yang terpelajar merasa puas karena misinya menyampaikan maksud tercapai, sementara yang tidak terpelajar mendengar dengan seksama tapi tidak mengerti apa-apa.

Akhir-akhir ini Bahasa Indonesia dibanjiri banyak kosa kata baru. Orang-orang menyebutnya bahasa ALAY karena gaya penulisannya yang aneh dan kadang menggunakan kombinasi angka di dalamnya. Apa yang ditulispun berbeda jika harus dibaca. Bahasa ini menjadi tren pergaulan di kalangan remaja Indonesia bahkan hingga kalangan mahasiswa. Dan inilah satu-satunya bahasa yang paling banyak dihujat generasi di atas mereka karena faktor-faktor tersebut di atas. Toh, bahasa ini tetap hidup dan tumbuh subur di kalangan remaja kita. Mereka bahkan terkadang tanpa beban meng-SMS kita dengan gaya bahasa itu dan kita pun dipaksa untuk mengerti maksud yang tertulis di situ.
Selain bahasa alay, sebelumnya sudah lahir bahasa gaul orang Jakarta yang tak kalah hebohnya. Entah dari mana kata-kata itu dipetik, yang jelasnya tidak satupun kata-kata itu datang dari Bahasa Indonesia yang baku.
Kita belum paham betul makna dari dua bahasa di atas, baru-baru ini kembali heboh gaya bahasa baru yang tak kalah menggelitik ketika seorang Vicky berhasil menghipnotis penonton setia telivisi Indonesia dengan cara bicaranya yang penuh “teka-teki.” Hebatnya, gaya vickynisasi ini langsung booming di media sosial, mengalahkan dua bahasa sebelumnya yang sudah malang melintang di jagad kosa kata kita.
Saya tak ingin menyebut contoh-contoh dari bahasa-bahasa di atas, sebab tulisan ini akan menjadi sangat panjang karenanya, dan lagian, saya sangat yakin bahwa kita semua pernah menjadi korban yang meski sekali dua kali pernah latah mengucapkannya.
Saya tidak tahu apa motivasi Vicky dengan gaya bahasanya, tapi pada intinya adalah semua kasus di atas hanya satu anak tangga yang dipakai orang-orang untuk dapat mempermudah pergaulan dengan kalangan mereka di ruang yang mereka ciptakan sendiri. Tidak jauh beda dengan Vicky, bahasa alay atau pun bahasa gaul seakan menjadi keharusan yang harus dipakai para remaja agar dapat diterima di kelompoknya. Juga, dengan menggunakan gaya yang sama, seseorang diharapkan dapat memiliki idealisme kelompoknya, dan memiliki gaung yang bisa didengar. Paling tidak, dari sini saya menangkap satu cara pandang baru tentang bagaimana dunia sekarang dan tempo doeloe membangun interaksinya. Dunia sekarang tidak lagi hanya mengandalkan intensitas pertemuan tetapi juga gaya bahasa yang sama. Di sini idealisme seseorang dan kemampuan bersosialisasinya diuji dihadapan yang lain. Jika sanggup mengikuti arus maka ia akan diterima, jika tidak, ia akan dianggap tidak gaul.
Namun, untuk menjadikan kosakata bahasa alay sebagai kosa kata baru yang diserap Bahasa Indonesia adalah hal yang tidak mungkin alias mustahil meski bahasa ini telah bergaung luas di seantero Nusantara, sebab bahasa tersebut terbatas dan tidak seragam dalam gaya penulisan juga pelafalan. Ini jelas berbeda ketika beberapa kata dari bahasa asing diserap sebagai Bahasa Indonesia karena memiliki unsur-unsur untuk diakui sebagai kosakata baru.
Lalu, apakah munculnya gaya bahasa baru ini bisa mengancam bahasa indonesia? Tentu saja bisa. Mari kita lihat bahasa-bahasa daerah yang nyaris punah ketika generasi muda Indonesia dipaksa untuk selalu berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dijadikan mata pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan tanpa ada satupun kurikulum yang berbicara tentang bahasa lokal suatu daerah. Mata pelajaran muatan lokal yang ada pun, adalah sesuatu yang sangat dipaksakan untuk ada, sehingga pendalaman terhadap lokalitas kebudayaan daerah tidak terjadi tetapi lebih ke konteks yang lebih umum.
Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat besar terhadap punahnya bahasa daerah tanpa kita sadari. Proses pemunahan ini dilakukan dengan sangat rapi oleh sistem negara hingga kita pun tidak pernah menyadarinya. Ironisnya, pemerintah lokal kita melakukan pembiaran tanpa ada upaya pelestarian. Lembaga seni budaya yang didirikan hanya untuk menjembatani tarian-tarian tradisional dan bukan bahasa lokal. Sialnya lagi, tarian-tarian daerah dirubah seenak perutnya oleh mereka yang mengaku ahli tari hanya agar tarian lokal bisa go international tanpa memikirkan orisinalitas dan filofosi mendalam dibalik tari-tarian itu.
Sadar atau pun tidak, bahasa-bahasa yang baru-baru muncul juga menjadi ancaman terhadap bahasa indonesia, memang belum sampai ke konteks suatu negara, tetapi generasi di bawah 20 tahun saat ini terancam tidak bisa menulis kosa kata bahasa indonesia dengan benar.
Pernah seorang teman yang berprofesi sebagai dosen bercerita kepada saya tentang beberapa orang mahasiswinya yang beberapa kali membuat janji pertemuan dengannya via sms. Tidak ada satu pun dari sms yang masuk ke Hpnya bisa dia baca. Akhirnya, teman saya ini menunjukan sms alay itu kepada mahasiswa yang ada di situ, barulah teka teki sms itu bisa terjawab. 
Ada lagi, seorang teman yang mengajar di SMU ternama di Kota Kupang. Pada awal-awal tahun ajaran baru dimulai, dia langsung memberi pekerjaan rumah untuk anak didiknya. Seminggu kemudian, hanya tugas dari dua orang siswa yang bisa ia baca. Selebihnya harus dikembalikan karena bahasa alay.
Jika menilik kasus-kasus di atas, bukan tidak mungkin Bahasa Indonesia di kalangan pelajar indonesia berada dalam titik kritis. Ketegasan para pengajar mutlak diperlukan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Orang tua dan lingkungan sekitar pun memiliki peran yang ini. Dan tentunya kita semua memiliki peran untuk mengatakan tidak terhadap bahasa alay.
Saya menerapkan hukuman sederhana untuk adik-adik yang mengirim sms dengan gaya bahasa yang tidak saya mengerti itu, yakni dengan tidak pernah membalas sms mereka. Hal ini ternyata sangat efektif, karena sejak hukuman ini berlaku, tak ada lagi sms alay saya terima.




Share

23 Agu 2013

Perawan dan Ustad Bertarif, Moral???

Kesucian seorang gadis memangnya hanya terletak di atas selaput tipisnya? Apabila selaput itu robek, kesuciannya akan tenggelam ke dalam jurang rahim?

Apa benar moral seorang gadis ditentukan dia perawan atau tidak, sehingga utk mengukur moral bangsa ini rawan atau tidak maka harus ada test keperawanan? Lantas bagaimana moral ustad yg menjual nama Tuhan dgn tarif tinggi? Bagaimana juga moral koruptor yg sudah tersangka tapi masih nyalon lagi?

Kenapa negeri ini masih saja mengurus pribadi orang yang tidak penting untuk diurus? Kenapa harus urus keperawanan? Melihat vagina perempuan yg bukan muhrim bukannya itu bernama maksiat? Lha megang tangan aja gak boleh, apalagi ngorek-ngorek vagina untuk lihat perawan atau gak?

ooo atau test perawan ini ada dalam hadist? Siapa yang bilang? Ustad yg bertarif itu? Emang lu percaya ada?

Saya takutnya, setelah test keperawanan, yang perawan malah dibooking sama testernya. Atau gimana sih cara test perawan atau gak? Pake alat? Pake jari? Ooo pake penis. Pantas mereka doyan melakukan test ini. Berarti setelah test, gak perlu dibooking lagi dong, lha dia-nya udah gak perawan gara gara test.

Bayangin, tester yang mujur akan mendapat beberapa orang perawan. Penisnya akan masuk untuk membuktikan keperawanan, menembus kulit ari agar berdarah sebagai bukti keperawanan. Lantas si perawan akan menangis sesunggukan karna perawannya diambil sama testernya dan dia gak bisa nuntut apa-apa karna bukan pemerkosaan. Lha ya iyalah, gimana mo disebut pemerkosaan, orang ini semua disetujui kok sama dewan-dewan terhormat yang juga pastinya akan menjadi tester dalam ajang pencarian perawan ini.

Tempat test akan dipenuhi orang-orang yang lalulalang dengan tubuh telanjang, baik gadis-gadisnya maupun para tester. Sebagai ajang bergengsi, maka pastinya harus ada penonton dong. Nah untuk bisa menyaksikan acara tersebut, penonton dikenakan tiket masuk yang muaahhhaalll sekaleeeee..!!!. 50% pendapatan dari tiket akan masuk ke kas negara, 25% untuk penyelenggara dan 25% untuk membayar jasa medis. Ya iya dong, jasa medis dibutuhkan karna akan ada pertumpahan darah dalam acara ini.

Para tester gak perlu dibayar, toh selama ini untuk bisa menikmati daun muda harus membayar sampai berjuta juta kok. Bahkan ada yang sampai rela kehilangan istri demi daun muda.

Hadehhh.... HP saya jadi panas karna mengetik tulisan tulisan ini. Mungkin karna tulisan ini juga hot untuk beberapa orang.

Tapi, Jaman ini memang benar benar jaman multitalenta. Talenta untuk menjual nama Tuhan dengan tarif dakwah yang tinggi. Talenta mengukur moral bangsa ini dengan menghitung jumlah perawan yang masih tertinggal. Tulisan ini saya tutup, agar tidak bertambah panas HP saya.




Share

12 Apr 2013

Catatan Solidaritas II

Beberapa minggu yang lalu saya menulis sebuah catatan tentang solidaritas anak muda kota kupang yang mengekspresikan kehidupan seni mereka. Dan seminggu terakhir ini saya temukan begitu banyak solidaritas yang indah, terjalin bagai simpul yang mengikat jadi satu adanya. Catatan kali ini tidak tentang berapa banyak yang sudah dilakukan tapi bahwa apa yang dilakukan adalah dari hati yang tulus atas nama kemanusiaan tanpa tendensi politik atau pun untuk cari perhatian. Ini sekaligus untuk kembali membuktikan bahwa tidak semua anak muda kota Kupang telah kehilangan nilai kasih.

Letusan gunung Rokatenda, nun di Palue yang jauh, seakan juga meletupkan semangat solidaritas anak muda Kota Kupang. Semangat yang diusung atas nama empati untuk nasib ribuan pengungsi yang terlantar di tenda-tenda darurat tak layak tinggal. Semangat ini yang mendasari niat untuk bergerak membantu mereka di sana, semampu yang bisa dilakukan di sini. Dengan tagline #KupangBagarak dan bermantra Kita Peduli Kita Bergerak, Satu Hati Untuk #Rokatenda, hadirlah Gerakan Seribu atau #Geser yang dilaksanakan dua hari di dua tempat berbeda dan berhasil mengumpulkan donasi hampir dua belas juta rupiah. Nilai yang tak sedikit untuk kegiatan amal di kelas kota kupang, menurut teman saya. Nilai ini sangat besar, karena semua rangkaian acara ini  tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk pembiayaan dan lain-lain. Semua murni sumbangan dari para pihak yang merasa peduli akan nasib semua basodara korban letusan Gunung Rokatenda.
Nilai besar dari solidaritas ini adalah bagaimana orang-orang muda berkumpul, dan mengeluarkan semua hal yang ada di dalam diri mereka untuk membantu yang terbatas. Dan yang lebih luar biasa lagi, adalah orang-orang yang bergerak ini belum pernah bertemu sebelumnya. Hanya dengan memanfaatkan media sosial lalu terjadilah satu kali pertemuan dan muncullah gerakan solidaritas yang membanggakan ini. Sumpah, inilah kekuatan positif media sosial yang dimanfaatkan secara positif. Saya sempat berpikir bahwa ini seperti sedang bermain sulap yang sekedar simsalabim dan jadilah sebagaimana yang dikehendaki. Tapi ini nyata dan bukan sulap apalagi sihir.
Lihatlah bagaimana kotak-kotak amal yang ada dikerjakan oleh tangan terampil gadis-gadis rupawan dari berbagai latar belakang kota kupang. Ada yang anggota pemuda gereja, ada mahasiswa yang calon perawat, calon dokter. Mereka bahkan tak malu berjalan kaki sambil menyodorkan kotak sumbangan itu dari mobil ke mobil.
Tapi, sekalipun kotak-kotak itu dipegang oleh para gadis rupawan, banyak juga orang Kupang, terutama kaum adam yang tidak tersentuh untuk memberikan sumbangan. Bahkan ada cerita ketika seorang calon gubernur yang barusan gagal, masuk ke area pantai lasiana, dia langsung mengalihkan pandangan ke tempat lain ketika para gadis kardus ini menyodorkan senyum, sapa, salam dan kardus.
Para gadis, yang selanjutnya kami sebut mereka Nona Kardus alias NADUS ini rela berjalan kaki di kegelapan jalan El Tari dan lampu merah perempatan jalan Palapa dengan mengusung kardus dan semangat untuk berbagi. Mereka tidak bergelar Putri NTT yang menang kontes. Mereka juga tidak peduli pada segala macam atribut sosial yang harus melekat. Ada juga basodara musisi. Mereka menyusur panjangnya pantai Lasiana untuk mengamen demi meredakan gemuruh Rokatenda. Dan hasil ngamen mereka adalah setengah dari hasil donasi hari itu.  Mereka melepaskan rasa malu atas nama solidaritas. Sebab yang terpenting bagi mereka adalah berbuat yang terbaik untuk sesama.
Ketika sebuah masalah terjadi, tidak ada hal ajaib yang bisa menyelesaikannya selain solidaritas. Hanya solidaritas yang bisa menyelesaikan segala masalah pelik dengan cara baik-baik tanpa kekerasan. Dari solidaritas pula, segala hal yang tak bermakna berubah menjadi bernilai. Bukan hanya nilai yang materi tapi juga imateril. Dari solidaritas ini, kita diketuk untuk lebih peka terhadap masalah sosial yang sering terjadi di sekeliling kita. Baik itu yang terjadi terhadap sesama saudara, sahabat maupun terhadap orang yang tidak kita kenal. Dari kepekaan rasa, kita bisa lebih bijaksana terhadap kemanusiaan, juga untuk mengetuk pintu-pintu keadilan agar lebih membuka diri bagi mereka yang lemah.
Mungkin di sana, di balik ribuan butiran debu yang disemburkan dari kawah Rokatenda, ada pesan rahasia yang tak kita mengerti. Tapi mungkin saja pesannya adalah agar kita lebih solider terhadap alam dan sekeliling kita, juga agar kita selalu bergandengan tangan demi mengikat peduli terhadap sesama. Rokatenda mungkin sudah merusak peradaban di sana, tapi ada peradaban baru yang kembali lahir dalam hati kita. Rokatenda memang mencerai berai ribuan orang di sana. Tapi di sini, kita telah bersatu untuk Rokatenda. Dan apa pun cerita dibalik murkanya Rokatenda, semoga tidak menjadi alasan bagi kita untuk murka apalagi mengutuknya.
Salam solidaritas untukmu, saudaraku, di mana pun kakimu berpijak dan mendengar suara-suara alam mengelus gerahmu dengan tangan-tangan sang bayu. Semoga kaki kita tak akan lelah berjalan dan tangan kita tak saling melepaskan genggaman solidaritas ini. Terik mentari memang menyengat, tapi sebenarnya ia ingin terus membakar semangat kita agar terus menyala di tengah-tengah kemiskinan nurani mereka yang tak ingin berbagi, dan sesungguhnya setiap uluran tangan adalah kekayaan doa dari hati yang murni. Mari percaya dan yakini, setiap peristiwa memiliki makna ganda.




Share