Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

6 Jan 2012

Akulah Sang Musafir

Aku adalah daging
ditetaskan dari debu yang diberkati
menjadi tulang dari batu dan karang
yang dari keringat tubuhku
segala samudra mengasin

akulah perjalanan
yang mengisahkan tapak tapak batu
mulai dari paku paku hitam
hingga embun pagi yang berteduh di puncak matahari

akulah suara
yang bernyanyi dari serak hingga lengking
dengan nada tak bising telinga tak pekak
namun hati jujur pasti mencaci
sebab andromeda menutup wajahnya
karena aku

akulah sang musafir
yang orbit kembaranya masih entah
sebab belum ada oase ditiap persinggahan
dan jalan terjal belum diratakan

akulah cinta
yang diutus segala yang dipuja
untuk menanam bunga ke segala hati
memeluk segala raga tanpa ras
berdiri pada teduh yang sama tanpa bicara leluhur

akulah nubuat dalam syair segala nabi
yang terukir menawan dalam kitab suci cinta
dan hanya bersamamu
kita sempurnakan isi kitab cinta
dengan tulisan dari segala kata dan wicara kita

akulah sang musafir
yang rindu padamu tak terselesaikan waktu




Share

13 Jun 2011

Orang Bilang Badai


LIUK pohon melambai terhantam kencang angin
Patah ranting pun dahan
Daun-daun gugur terbang tak berarah
Pohon-pohon tua tumbang
Atap rumah berpindah mengatapi tanah
Orang bilang ini namanya badai

Sungai meluap bertamu ke rumah
Tingginya dua meter semampai
Jalannya kencang menakutkan
Ketemu apa diajak jalan-jalan ke maut
Tak peduli yang tertinggal rusak berduka
Orang bilang ini namanya badai.

Ada balita demam di sudut bangsal
Tempat mengungsi setelah rumahnya diterjang badai
Ibunya masih mencari makan
Seminggu ini perut hanya di isi mie instan
Tak ada susu yang ia butuh diantara bantuan
Tidur pun dilantai beralas tikar

Negara ini seolah hanya berisi bencana
Yang korban adalah resiko
Siapa suruh tinggal di tempat bencana
Demikian kata seorang wakil rakyat
Yang pedulinya telah terkikis sombong
Sebagian lagi hanya bilang prihatin
Tapi tetap duduk diam tak berbuat apa

Fenomena tak karuan katanya tumbal demokrasi
Di tengah bencana yang rakyat sudah mati
Masih pikir omong anggaran
Entah kapan pemimpin negeri ini sadar
Rakyat butuh makan layak
Bukan mie instan


Gambar diambil dari sini




Share

10 Feb 2011

Ibundaku Tercinta



Rentang waktu panjang melukis kisah
Kau jelajahi lorong-lorong hidup tak kenal rintang
Dalam babak bahagia kau ada
Dalam babak kesedihan pun kau ada

Hanya dengan kasih kau renda hari-hari
Tiap tarikan nafas terucap syukur
Tiap nadi berdenyut selalu teriring harapan
Tak pernah kau tontonkan kesedihan
Seolah itu memang tak pernah ada dalam hidup

Seribu pena teraut tak cukup mengisah pengorbanan
Akan tetes keringat yang tak pernah dikeluhkan
Akan tiap noktah darah perih yang tak pernah dirintihkan
Letihmu bagiku adalah inspirasi
Doamu kekuatan bagi langkah tetap menapak jejak

Kau ajarkan, hidup adalah kerendahan hati
Kau ajarkan, hidup adalah kebaikan
Kau ajarkan, hidup adalah berbagi
Kau sejajarkan kesombongan
sederajat iblis berlumur racun
Bagimu, di mana ada cahaya,
di situ nama baik dijunjung

Ibundaku tercinta
Banggaku padamu tanpa kata
Cintaku padamu memang tiada ditindakan
Namun, setiap saat seribu rinduku
ingin bersua pelukanmu
Jika tak pernah ku diajari kedewasaan
Masih ku ingin jadi anak kecil dipangkumu

Ibundaku tercinta
Pada hari jadimu ini
Ananda tunduk diam dalam sujud padaNYA
Segala doa terujar hanya bagi kekal umurmu
Maafkan ananda belum bisa jadi kebanggaan
Bahkan masih sering memberi gores perih hatimu
Sesungguhnya tak pernah henti tangisku
oleh sesal melukaimu
Selamat ulang tahun ibundaku
Selamat ulang tahun kebanggaanku.




Share

13 Mar 2010

Hidup adalah Pilihan

Seorang teman pernah mengirim email kepada saya tentang 6 penyesalan yang umum terjadi dan sering kita temukan dalam kehidupan kita sehari-sehari ini. Setelah membaca 6 penyesalan di bawah ini, maka saya sekali lagi sangat yakin bahwa pada akhirnya anda akan bilang “betul juga ya…”

1. Penyesalan 1 Jam : Salah naik angkot (anda harus menunggu 1 jam untuk bisa kembali ke tempat sebelumnya).
2. Penyesalan 1 hari : Salah masak (nasi menjadi bubur).
3. Penyesalan 1 minggu : Salah makan (anda terkena diare hingga harus masuk rumah sakit selama seminggu).
4. Penyesalan 1 bulan : Salah potong rambut (anda harus menunggu 1 bulan sampai rambut anda kembali pada normal).
5. Penyesalan 1 tahun : Tidak naik kelas.
6. Penyesalan seumur hidup : Salah nikah(yang ini mungkin tidak akan menjadi penyesalan seumur hidup jika istri atau suami anda tiba-tiba meninggal saat anda masih muda dan masih punya kesempatan menikah lagi).

Dengan gambaran atau contoh yang sederhana dan terkesan iseng ini mungkin kita bisa lebih mengerti bahwa apa pun yang ada dan terjadi saat ini, semua itu karena pilihan kita pada hari–hari sebelumnya. Setiap kali ketika kesalahan memilih itu terjadi dan hasil yang kita harapkan tidak sesuai harapan, maka sudah pasti jumlah total dari semua hasil itu adalah penyesalan yang panjang. Atau silahkan anda katakan bahwa ke-6 hal tersebut semuanya tidak benar karena ini masih pendapat pribadi saya.

“Manis jangan cepat ditelan, pahit jangan cepat dibuang”, lewat kata ini kita diminta untuk menimbang secara bijak semua hal yang masuk dalam pikiran kita sebelum kita benar-benar memutuskan untuk menerima dan melakukannya.

Tak yang ada bisa mengelak dari yang namanya menjalani hidup tanpa pilihan. Tak ada yang bisa memungkiri bahwa hidup adalah pilihan. Hidup punya lebih dari seribu pilihan dan dibalik masing-masing pilihan ada misteri-misteri masa depan yang bersembunyi dan tak bisa tertebak secara pasti. Terkadang di saat kita memilih, kita berpikir bahwa inilah akhir dari sebuah pilihan, namun ternyata didalam pilihan itu sendiri masih ada lagi pilihan-pilihan yang lain lagi dan lebih sulit. Setiap pilihan menghasilkan resiko, setiap resiko mendatangkan masalah, setiap masalah kadang bisa mendatangkan bencana. Akan ada saat di mana kita bersyukur atas setiap pilihan yang kita ambil, namun terkadang kita menyalahkan keadaan ketika pada awal, pertengahan atau di akhir jalan kita dihadapkan pada bertubi-tubi masalah sebab kesalahan pada pilihan yang kita ambil. Tujuan akhir yang kita harapkan indah ternyata tak sesuai dengan mimpi kita selama ini. Pilihan yang pada awalnya baik ternyata berubah menjadi sebuah momok yang membosankan, menjengkelkan, bahkan bisa menjadi malapetaka. Ketika keadaan ini terus berlanjut dari hari ke hari, perlahan rasa benci mulai tersulam hingga lagi-lagi menjadi pilihan matematika yang sangat rumit bagi kita. Jika salah lagi memilih, maka mempersalahkan keberadaan Tuhan sudah pasti.

Kadang dengan entengnya kita berkata bahwa hal buruk yang terjadi pada kita saat ini adalah karena Tuhan telah memberikan karma untuk semua hal yang pernah kita lakukan pada waktu sebelumnya. Anda boleh berpendapat bahwa siapa menabur dia yang juga menuai, namun nats ini tidak otomatis menyatakan tentang adanya karma.

Ijinkan saya memberikan sebuah opini baru dari saya pribadi bahwa yang sering disebut dengan karma oleh kebanyakan orang adalah karena kesalahan dari seseorang dalam memilih pilihan yang tepat pada waktu yang lampau dan efeknya baru terasa sekarang. Tentu saja ini berbeda dengan pendapat orang pada umumnya tentang pengertian karma atau yang sering disebut hukum alam ini yaitu bahwa karma adalah suatu peristiwa yang terjadi di masa sekarang yang sama pada diri kita sebagai ganjaran kepada kita karena pada masa lampau kita pernah melakukan hal yang sama pada orang lain. Tujuannya adalah agar apa yang pernah kita beri pada orang lain dirasakan juga oleh kita, baik itu kebahagiaan, kesakitan, dan lainnya.

Manusia yang selalu dihadapkan pada seribu satu pilihan hidup yang pelik selalu mengambil jalan tengah dari setiap persoalan maupun pilihan hidup itu sendiri agar bisa berada pada zona nyaman sehingga tak perlu lagi direpotkan dengan masalah-masalah lain. Kita jarang mencoba untuk berpikir apakah efek dari tindakan tersebut akan benar-benar menguntungkan kita atau tidak. Merugikan pihak lain atau tidak. Masalah mulai timbul ketika hasil keputusan tersebut mulai berjalan tidak sesuai harapan. Ibarat cahaya yang terpantul dari cermin dan kembali kepada kita, demikian juga masalah tersebut kembali datang lagi karena penyelesaian sebelumnya yang tidak benar-benar finish.

Terkadang kita juga lebih memilih untuk memberikan beban yang kita pikul kepada orang lain agar orang lain bisa tau seberat apa beban yang kita pikul. Tapi kita tidak pernah peduli apakah orang tersebut mempunyai beban atau tidak, dan mampu atau tidak memikul beban yang kita berikan. Kita tidak pernah peduli itu, yang penting kita nyaman dan aman.

Temans, apa pun yang telah kita capai dari pilihan-pilihan hidup yang sudah kita putuskan untuk dijalani hingga hari ini kadang menjadi beban yang harus kita pikul sepanjang hidup. Namun janganlah beban itu kita lepaskan dan berikan pada orang lain, atau janganlah kita berkeluh sebab beratnya beban tersebut, sebab kitalah yang telah memiih beban tersebut untuk kita yang pikul. Dan itulah resiko dari setiap pilihan yang kita ambil.

Sepanjang kehidupan ini, akan ada begitu banyak pilihan-pilihan hidup, masing-masing dari pilihan-pilihan yang akan kita ambil tersebut memiliki kesulitan-kesulitan, rintangan, tantangan yang harus kita hadapi dan akan kita hadapi. Setiap kita berhasil melewatinya, bukan berarti bahwa segala sesuatunya akan selesai, namun akan ada kesulitan-kesulitan baru, rintangan dan tantangan yang baru, dan akan seperti itulah seterusnya. Namun jika kita bisa memecahkan setiap persoalan tersebut dan memilih dengan tepat setiap pilihan yang terbentang dihadapan kita, maka niscaya kita akan menjadi lebih besar dari yang pernah kita impikan.
Hidup sebagai manusia memang punya banyak pilihan, namun hal ini bukan berarti bahwa kita dapat memilih semua pilihan itu dalam sekali jalan, namun Tuhan memberi kita banyak pilihan agar kita dapat bebas memilih. Keputusan untuk memilih salah satu pilihan haruslah berdasarkan prioritas mana yang hendak kita capai dan berguna untuk kita dan masa depan kita.

Pilihan hidup yang akan kita jalani bukanlah pilihan hidup orang lain. Sebab kita yang menjalani kehidupan kita, orang lain hanya bisa membandingkan dan menilai namun bukan berarti bahwa mereka harus terlibat dalam pengambilan keputusan kita. Apa pun yang kita putuskan untuk jalani adalah hak mutlak kita. Karena itulah setiap pilihan yang akan kita ambil harus tegas dan bertanggung jawab sehingga keputusan tersebut tidak akan tergoyahkan terhadap apa pun penilaian negative dari orang lain. Memang harus diakui bahwa pada awal kita memutuskan untuk menjalani suatu pilihan hidup yang tidak biasanya bagi orang lain, akan ada pertentangan yang luar biasa terhadap keputusan tersebut, namun selagi keputusan tersebut tidak mengganggu moralitas umum maka jangan pernah gentar untuk terus maju. Kedepankan Tuhan dalam setiap menjalani sebuah keputusan. Dan ingatlah, terhadap segala sesuatu, Yesus hanya sejauh doa.
Renungan Dini Hari




Share