Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

7 Feb 2008

Di mana dia

Tak ada yg berubah, Kecuali hujan yang tak mau kompromi mengguyur memburuku hingga ke sudut hidup, dan membuat segala cara mengeluh seolah tak ada arti.
Melihat pelangi sekarang akan seperti mimpi yang jauh. Karena hijaunya gunung telah tertutup kesombongan deras hujan.
Dan Cinta... aku hanya bisa merindukannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Dan Cinta... aku sudah lupa dari mana dia berasal...
Aku sudah tak tau seperti apa dia...
Aku sudah tak tau...
Di mana dia.

Hanya patah-patah jalan aku memilikinya
hanya pada cabik-cabik aku mengenangnya
Hanya pada keheningan aku mencarinya
Hanya pada kepastian aku akan mendapatkannya kembali
Pasti... Meski butuh waktu...
Meski butuh keringat, airmata, darah mungkin juga nyawa
Dan cinta...
Hanya pada renggut aku akan kehilangan sementara.




Share

4 Feb 2008

Apa Bedanya kita?

Sudahkah kita berjalan ke tempat yang semestinya?
Sudahkah kita melangkah sebagaimana seharusnya?
Terbaikkah kita hingga harus menghakimi, menghujat, menghukum sesuai apa yang kita
mau? Seputih saljukah sucinya kita?
Rasanya kita sama saja, pernah mencuri dari liang lahat yang sama,
pernah berpesta dan menari di tenda ketidakberdayaan sang jelata,
hingga meski jeritannya merobek sukma yang mendengar tetap terdiam berpesta.
Lalu apa bedanya kau dan dia?

Pak, jangan menyalahkan tanpa merasa bersalah.




Share

27 Jan 2008

Mari...

Mari temukan permata di kantung sendiri, tak usah merogoh dari kantung orang lain.
Mari melangkah dengan hati sendiri, tak usah melihat langit dan menghitung berapa bintang redup dan berapa bintang yang bersinar cerah...
Kita sama saja besok dan hari ini jika tak pernah berubah.
tak ada yang lebih baik dari kita selain kita sendiri... Jika kita mau mencoba merubah yang buruk kemarin menjadi lebih baik hari ini.




Share

19 Jan 2008

Terpisah

Pijakku kini adalah terakhir di sini
Sesudah keputusan terbias karena keputusasaan
Memisahkan kembali cita-cita kita untuk membuat cerita bersama
Tentang esok milik kita, tentang mimpi-mimpi kita.
Ijinkan sudah aku pergi dengan caraku
Tanpa terbebani airmatamu yang mengirisku.

Terpisah sudah kita
Oleh ketidakberdayaan menghadapi senoktah badai.
Sesudah ini cerita kita adalah penggalan
Terbagi hingga keping berserakan
Tak mungkin senyawa lagi layaknya dulu

Sekilas tangismu masih dukaku
Namun aku tak mungkin berlama merayumu
Sudah ada dada lain tempat kau bisa berbaring
Tempat kau bisa mengadu...
Aku yang kini tak mungkin menangis bersamamu lagi

Lepaslah aku setulus kau pergi bersamanya
Tenanglah, kau tak akan kulupa hingga merapuh raga
Walau kini kurapuh jiwa.

Selamat Tinggal... Cinta.




Share