Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

17 Jul 2007

Mengenang

Dua tahun

Suka dan duka adalah milik kita

Merajutnya dalam satu asa yang melambungkan segala

Adalah hanya mimpi yang tak mengingkari

Kita masih tetap bayang-bayang menakutkan

Sekalipun kita adalah cinta yang tak mungkin terpisahkan


Jalan ini tak pernah semulus yang kita bayangkan

Adalah beling dan duri menunggu serius menikam

Haruskah asa ini ditinggalkan hanya untuk menghindarinya?


Dua tahun bukan sesingkat sedetik berjalan

Bukan sesingkat setapak kaki melangkah

Bukan sesingkat matamu berkedip

Bukan semudah membalikan telapak tangan


Dua tahun berjalan

Jika hari ini

Kita masih tetap ada disini...

Saling berbagi seperti cinta yang dulu hadir dihati kita

Adalah karena cinta yang ada dihati ini

Tulus kuberikan hanya untukmu.







Share

14 Jul 2007

Malam ini… Sepiring nasi babi, Segelas teh hangat, Sebatang rokok… Mengantar kita kembali bersama… Dan… Ehm… Lagu lama… Cerita lama… Catatan-catatan yang terlupa… bekas-bekas yang telah terhapus menari lagi diingat kita… Lalu berderai tawa… Sakit yang pernah ada terlupakan, Bahkan luka yang menganga itu seolah tak berbekas, rindu yang sempat terlupa ikut datang bersama cinta yang hampir mati, hanya untuk sekedar menghampiri, dan mengingatkan hati jangan sampai terantuk pada batu yang sama untuk kedua kali. mungkin... bisa jadi jika malam ini tak pernah ada akhir... Cinta itu akan ada kembali

Akh... ternyata kita sedang mengenang kebodohan masa lalu.




Share

Optimismeku

Ah… apakah aku terlalu pesimis memandang hidup ini…
Harusnya aku coba bangkit bukan…???
Melawan ketidak mampuan diri…
Dan menunjukan pada dunia,,…
Bahwa inilah aku…
Memiliki masa depan secerah matahari…
Mampu berjalan bahkan dibawah tindihan seribu ton beban dipundak
Bisa melakukan apa saja yang bahkan tak bisa dilakukan Einsten
Tak akan sebodoh Romeo yang ikut-ikutan mati hanya karena cinta yang bodoh.

Seharusnya pada orang aku jangan berkeluh kesah
Seharusnya aku menjadi tempat berkeluh kesah...
Seharusnya aku berteriak saja...
Biar terdengar orang segala penjuru...
Inilah aku… sahabat terbaikmu…
Saudaramu dalam setiap penderitaan
Penolongmu dalam setiap masalah…
Yang menjadikan setiap hari sebagai cerita…
Dan setiap moment yang terjadi adalah renungan.


Ketika Aku merasa bisa optimis.




Share

Renungan Malam 2 (Pesimismeku)

Kupejamkan mata sesaat…

Masih dalam diam…

Masih dalam sepi…

Masih dalam sendiriku…

Merenung…

Entah…


Coba bersenandung…

Sebisa mungkin meski gagap dan sumbang

Setidaknya mungkin bisa terusir sepi

Dan tak hanya sendiri dalam diam.


Coba bangkit dan berjalan…

Tapi ragu kemana arah yang jadi tuju…

Karena sudah banyak kegagalan…

Berbekas jejak dari arah yang pernah kutinggalkan.

Sudah seribu onak pernah menikam

Sudah seribu telaga Lumpur kurenangi

Dan aku kini telah sampai pada titik lelah

Dan trauma membuatku enggan memilih arah tuju yang baru.


Kembali aku terdiam

Dalam sepi

Dalam sendiri…

Tak ada teman…

Seorang diri aku bertahan

Entah sampai kapan…

Aku masih belum tau…

Mungkin esok….

Tapi mungkin juga tidak mungkin esok…


Masih dalam diam…

Tertegun…

Apakah merenung…?

Tidak…

Bukan merenung….

Karena aku adalah renungan itu sendiri.




Menjelang pagi

aku, yang masih terpaku pada kegagalan...





Share