Ijinkan Hati Bicara... google-site-verification: google642dcb3a3836b309.html

12 Jan 2019

Karena Hidup Bukan Hanya Tentang ...

Entahlah, kita terlalu terbiasa mengumumkan segala sesuatu.
Sesuatu yang hanya dilakukan oknum, tapi kita umumkan kepada umum bahwa itu adalah kesalahan umum sebuah institusi. Lalu memaki oknum dan institusinya sekehendak hati di hadapan umum.

Kita juga mungkin terlalu banyak selfie, hingga menganggap remeh pekerjaan orang lain atau institusi lain, seolah semua yang kita kerjakan adalah benar sementara di tempat lain hanya sampah yg merongrong. Kita begitu mudah menuduh apa yg dikerjakan orang lain adalah laknat sementara kita memang baik adanya. Kita menuduh orang lain benalu sementara kita adalah sumber segala kebaikan.

Kita menganggap diri lebih baik dari orang lain dengan mempertontonkan karya kita kepada dunia sosial ini. Memuji-muji diri sendiri dengan aneka hiasan kesemuan, menganggap orang lain tidak melakukan apa-apa untuk dunia ini, tanpa kita tahu bahwa sebenarnya mereka lebih suka bekerja dalam diam, mereka bekerja dengan hati tanpa peduli pujian atau apapun agar nama mereka dikenal dan dikenang. Mereka tidak perlu berkoar mencari perhatian apalagi meminta bantuan agar ditenarkan. Mereka tak butuh pameran atau festival agar karya mereka dilihat. Karena apa yang mereka kerjakan biarlah tertanam di sana, terkubur di sana, terkenang di sana. Oleh orang-orang yang menikmati hasilnya di sana. Tak perlu harus dibawa keluar hanya utk sebuah penghargaan dari orang luar yang bahkan tak pernah melihat hasilnya atau menikmati rasanya.

Kita, selayaknya mulailah berhenti menghujat untuk apa yg dilakukan orang lain bila kita tak pernah tau untuk tujuan apa dia melakukan itu. Sebangga-bangganya kita dengan diri sendiri, dengan ego kita, ketahuilah bahwa orang lain di sana juga melakukan hal yang sama untuk membantu orang lain tapi dengan cara yang berbeda darimu. Bahwa orang lain di sana juga sedang memperjuangkan hidupnya. Entah dengan caranya sendiri atau dengan perintah atasannya. Punya hak apakah kita ini hingga menjadi hakim atas kebenaran yang masih terarsir abu-abu???

Kita adalah saya dan anda. Bila tidak ada satupun yang dapat memastikan bahwa ia adalah malaikat penyelamat atas dunia ini, yang telah sering bertemu Tuhan untuk mendengar perintahNya, maka berhentilah mencaci apa yang orang lain lakukan bila dasar ia melakukannya tak pernah kau tahu.

Kita adalah saya dan anda yang sementara berusaha menciptakan semesta yang teduh bagi semua insan. Bila kau tak mampu memberi kesejukan, janganlah menambah bara sekalipun itu di hatimu sendiri.





Share

11 Jan 2019

Repost: Edisi Ulang Tahun

Puji Tuhan, ini hari beta ulang tahun. Akhirnya ulang tahun ini beta rayakan di rumah. Untuk pertama kalinya ulang tahun ini di rumah sendiri. Dan sendiri, tidak ada siapa-siapa. Di rumah sendiri. Di rumah, sendiri.

Sebelumnya, selalu saat ulang tahun beta pasti ada di luar rumah. Kadang di tetangga, kadang hanya di halaman saja. Luar biasa...!!!

Pagi ini beta terbangun seperti biasa. Buka mata, tarik-tarik napas utk cek masih hidup atau tidak. Memastikan saja kalau yang bangun ini belum masuk kategori makhluk abstral. Setelah dipastikan masih hidup lalu bangun menuju dapur, minum air putih dua gelas, bikin kopi, lalu duduk santai sambil merokok. Mandi??? Nanti dulu. Saat di mana urusan air bersih sangat susah bahkan utk dibicarakan ini, sebaiknya kita harus mengupayakan penghematan air. Sebagai pemuda yg cinta tanah air, prinsip ini sangat beta pegang teguh. Kalau tidak ada urusan di luar, berarti tidak perlu ada urusan ke kamar mandi hanya untuk mandi. Toh kadang masuk kamar mandi juga hanya air yang bunyi, badan tetap kering yang basah hanya sudut mata.

Di hari yang spesial ini, beta memutuskan tidak masuk kantor. Bukan hanya hari ini, bahkan beta berencana tidak masuk kantor sampai tahun depan. Toh spesies langka macam beta orang kantor malas cari. Mau hilang selamanyapun pasti disyukuri. Dan beta bersyukur karna mereka yg di kantor sangat bersukacita bilamana diri ini tak hadir. Ini adalah salah satu amal bakti beta untuk berbagi kepada sesama. Jika mereka bisa bersukacita karena diriku tak hadir sehari, maka tambahkan sukacita mereka dengan tidak hadir berhari-hari. -kiranya amal saya ini kelak diterima dalam bentuk kenaikan gaji-.

Ahh sutralah... lanjut ngopi sambil terus terang nih, istri beta tercinta paling jijik kalo bangun tidur tidak terus mandi dan sikat gigi tapi malah makan atau ngopi. Beta anggap itu semacam fobia. Fobia itu penyakit. Cara menyembuhkannya dengan terapi sederhana. Jika ada orang fobia ular, maka berikan dia ular. Jika dia takut ketinggian, bawa dia ke ketinggian. Jika dia istri jijik lihat suami tidak sikat gigi, maka jangan sikat gigi. Begitu seterusnya sampai kita melihat perubahan. Ada tiga kemungkinan perubahan yang akan terjadi. Perubahan sikap istri yang tidak lagi jijik, perubahan di muka kita karena dapat lempar gelas atau perubahan dalam rumah karena istri kembali ke orang tua. Perubahan pertama jelas sangat beta harapkan. Kedua sangat tidak boleh terjadi pada wajah yg imut ini. Nah yang ketiga ini yang sangat sangat amat dinantikan penuh harap agar tidak terjadi. Ok?? Fix. Mari lanjut ngopi.

Lu bikin apa kalau ketemu hari lahir atau yang orang sabu bilang birthday??

Habis ngopi, beta menghadap tembok rumah. Bukan menghadap untuk lapor keleessssss... tapi plamir. Sejak pagi beta kerja keras mewujudkan rumah impian ini fix seratus persen. Apa daya dana tiada. Maka lakukanlah sendiri apa yg bisa kau lakukan, jangan harap bantuan apalagi tukang datang kerja gratis. Di jaman serba lima ribu ini, semua orang lagi bergumul dengan persoalan masing-masing. Kalau ada yg datang bantu ya syukur, gak juga gak apapa. Gak ngaruh.

Kalau ada yang belum tau plamir itu apa, itu adalah semacam memberi bedak mahal ke muka yang hancur supaya jadi mulus atau foto pake aplikasi yang bikin muka jelek kek beta gini jadi ganteng sehingga saat dilihat orang, mereka berbinar-binar karena kita sangat aduhai...

Pokoknya kerjaan utama beta hari ini adalah plamir. Kerjaan sampingannya pasang keramik di teras. Caranya gimana? Gampang. Sebagai orang yg multi tasking itu kerja gampang. Tangan kiri plamir, tangan kanan pasang keramik, kaki untuk aduk campuran. Paham?

Belum? Sudahlah, pokoknya kerja beta ini hari itu dua tuh. Selesai?? Belumlah, lu kira gue superpel-man? Esok kita lanjut. Karena sore ini akhirnya beta pegang Hp dan membaca satu persatu semua ucapan selamat ulang tahun dari semua basodara. Ucapan datang dari segala penjuru ini ternyata banyak sekali. Beberapa bahkan beta baca sambil menangis. Terharu???

Bukan!!! Beta baca sambil cabut satu persatu sisa plamir yang lengket mesra di badan. Kebetulan badan ini memiliki bulu-bulu halus yang yahhhh lumayanlah untuk bikin sakit ketika plamir nempel dan lu harus cabut satu persatu. Saking asyiknya dilakukan sambil membaca sehingga tanpa disadari airmata jatuh berderai bagai gerimis biji besar-besar.

Akhirnya, tanpa bermaksud mengabaikan satu persatu basodara yang sudah luangkan waktu, pulsa, paket data, biling warnet, dsb. untuk memberi ucapan selamat ulang tahun, beta sangat mengapresiasi dan berterimakasih atas semua ucapan tulus, harapan dan doa yg sudah disampaikan. Beta agak kesulitan membalas semua ucapan itu lewat hp butut ini karena pasti butuh energi dan kesabaran lebih utk meladeni lambannya hp ini. Maka lewat catatan kecil ini, terimalah ucapan terima kasih, doa dan harapan terbaik sebagai balasan utk semua yg telah memberi perhatian untuk beta.

Kiranya Kasih Karunia Tuhan menyertai persaudaraan kita senantiasa.

Salam dan doa,

Dari yang ulang tahun.

Ps: saat menulis ini, tidak dilakukan sambil mencabut sisa plamir. Sebagai bukti, beta lampirkan foto.




Share

14 Nov 2016

Intan dan Indonesia

Hari minggu, 13 November 2016 sampai sore hari saya hanya tiduran di kost mungil saya di pinggiran kota Kefa sampai siang menjelang. Rasa laparlah yang memerintahkan saya segera keluar dan mencari makan. Kebetulan, kost saya cukup dekat dengan warung makan khas jawa sehingga saya hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk tiba.

Seporsi makanan saya pesan, menikmatinya dengan lekas karena suhu udara yang sangat panas. Sebuah televisi kecil tepat menghadap ke arah saya dari meja kasir tidak saya pedulikan. Acaranya tidak menarik untuk ditonton. Selesai makan, saya lalu membayar dan segera keluar dari warung itu mencari udara terbuka. Tapi udara di luar juga sangat panas. Langit di atas kepala saya sangat cerah, sementara jauh di bagian timur, awan hitam menggantung pertanda hujan telah jatuh di sana.
Saya segera bergegas pergi. Satu-satunya tempat rindang yang bisa memberi kesejukan hanya kantor tempat saya bekerja selama ini. udara di sekitar kantor selalu sejuk karena banyak tumbuhan yang tumbuh subur sebab disiram setiap hari.

Tidak ada orang di kantor, selain penjaga yang saya ajak bercerita tentang hal-hal sepele. Lalu HP butut di saku saya berdering. Ah, hanya misscall dari orang iseng. Saya mengabaikannya, lalu membuka aplikasi facebook. Sekedadr menengok timeline karena sudah hampir seharian penuh saya mengabaikan banyak notifikasi yang muncul.

Dan, status seorang teman membuat saya terperanjat nyaris tak percaya. Ada boom di samarinda. Di gereja. Korbannya anak-anak. Rata-rata usia balita. Saya belum terlalu percaya. Situs berita langganan langsung saya buka mencari-cari berita tentang boom samarinda. Dan benar.
Kembali saya membuka facebook. Lalu foto-foto korban mulai menghiasi timeline. Rata-rata foto yang sama yang diposting ulang. Bukan dishare. Sehingga tidak bisa lagi dilacak siapa yang paling pertama mengunggah foto para korban.

Usia korban hampir sama dengan usia Elleora, putri saya. Ini usia di mana seorang anak sedang lucu-lucunya. Bahkan, terkadang semua tingkah sang anak adalah hiburan bagi orangtuanya dan orang-orang di sekitarnya. Saya merasakan benar bagaimana kerinduan pada putri saya tatkala setiap hari minggu malam harus kembali ke Kefa meninggalkan dia dan ibunya sendiri. Rasa rindu itu langsung tumbuh subur bahkan ketika saya baru berencana untuk pergi. Dan rasa rindu padanya selalu hampir tak bisa terbendung, beruntung jaman sudah canggih, sudah ada jaringan telepon yang bisa kami pakai melepas rindu, meski hanya dengan mendengar suaranya. Meski setelah menutup telpon, ribuan kesedihan berkecamuk dalam batin saya.

Sebagai orang tua yang jauh dari anak, saya merasakan betapa kesedihan adalah teman paling setia tatkala malam merangkum hari dan kesepian adalah teman setia. Membayangkan gelak tawa Elleora, pertanyaan-pertanyaannya, cara dia berlari, cara dia mencari perhatian. Sungguh, saya selalu ingin ada di sana berteman ia. Sungguh, tiada kebahagiaan selain melihat dia bertumbuh dalam kebahagiaan di dekap ini. Terkadang, di saat sejauh ini, berita yang paling tak enak didengar adalah jika dia tiba-tiba sakit. Batuk dan pilek adalah teman buruk di masa pertumbuhannya ini. Bukan sekali dua ini terjadi. Dan sudah berulang-ulang saya harus meninggalkan aktifitas kantoran saya hanya agar bisa menemani dia selama masa pemulihannya. Berita bahwa Elleora sakit adalah bencana bagi saya. Tetap berada di kantor sementara anak yang dicintai sedang sakit hanya akan membuat saya sangat tidak produktif. Dan saya, akan melakukan segala hal, agar dia yang saya cintai tidak pernah merasa saya tinggalkan. Elleora adalah segala-galanya bagi saya. Bila ada perasaan di atas rasa cinta, maka itulah perasaan saya baginya.

Elleora tidak kaitannya dengan boom di samarinda. Tetapi hati saya memiliki ikatan yang sama tatkala melihat anak-anak seusia Elleora harus menjadi korban dari kekerasan yang dengan sengaja kita ciptakan mengatasnamakan agama. Saya bisa membayangkan bagaimana kedekatan orangtua Intan Intan seperti saya dan Elleora. Usia mereka sama. tingkah laku Intan pasti tidak akan jauh-jauh dari yang selama ini saya lihat dari Elleora. Saya, maupun orangtua Intan pasti memiliki kebanggaan yang sama terhadap anak kami.

Saya dan Elleora hanya terpisah jarak. Rindu masih mampu kami bayar dengan canda lewat telepon. Seminggu sekali saya bisa pulang memeluk dan mencium Elleora. Tapi Intan?? Bocah tak berdosa ini telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan ribu duka mendalam bagi ayah dan ibunya. Tidak ada telepon yang bisa dipakai untuk saling berbicara satu sama lain tatkala mereka saling merindu. Tak ada waktu seminggu sekali untuk bertemu. Intan telah pergi. Sangat jauh. Sangat jauh dari ayah dan ibunya.

Intan pergi bukan karena cinta orang tuanya. Tapi jiwanya telah direnggut dengan paksa dan tak berperikemanusiaan. Intan telah pergi sebagai martir. Sebuah bayaran yang sangat mahal dan tak dapat dinilai dengan apa pun hanya karena beberapa orang yang merasa diri paling benar, paling suci secara laknat dan bajingan telah membunuhnya.

Intan diambil secara paksa dari depan gereja, tempat ia baru saja menghabiskan waktu doanya bersama ayah dan ibunya. Ia harus merasakan perihnya neraka akibat luka bakar di sekujur tubuh sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ia pergi dengan penderitaan yang tak terkatakan. Meninggalkan hati yang hancur berkeping-keping orangtuanya. Sementara orang yang telah merenggut hidup Intan percaya bahwa dengan membunuh sesama manusia maka kematiannya akan disambut seribu bidadari.

Entah ajaran agama apa yang dipakai si pembunuh. Sebab setahu saya perintah Tuhan sangat jelas “Jangan membunuh!!!”

Jika mereka dapat berkoar bahwa kematian sebagai jihadis akan disambut seribu bidadari. Berarti  mereka tidak pernah tahu, bahwa kami dijanjikan sebagai warga kerajaan sorga. Janji yang diberikan kepada kami adalah pasti. Bukan janji politik. Ini janji sorga. Dan ketika kami mati, seluruh sorga akan bernyanyi menyambut kami. Bukan hanya seribu bidadari.


Selamat jalan, nak. Selamat jalan Intan. Damailah bersama Tuhan Yesus di sorga. Biarlah kami yang masih diijinkan tersisa, terus berjuang pada jalan kebenaran. Memang terjal dan berliku, tapi pasti akan sampai pada tujuan. Tujuan menciptakan Indonesia yang saling menghargai, saling menghormati, saling mencintai.




Share

7 Nov 2016

Mendikbud dan UU Perlindungan Anak*

Opini ini dimuat di Pos Kupang, 14 Oktober 2016

(Tulisan berikut adalah opini pribadi saya dan tidak mewakili lembaga mana pun)

Saya terkejut ketika muncul berita di beberapa media tentang wacana dari Mendikbud Muhadjir Effendy untuk memberlakukan sistem belajar satu hari penuh di sekolah (full day school/FDS) dengan alasan agar para siswa bisa mendapatkan lebih banyak pendidikan karakter dan etika. Alasan kedua, agar anak bisa dijemput oleh orang tuanya yang baru pulang kerja setelah jam 5 sore. Menurut saya, ini alasan yang sangat tidak logis sebagai orang Indonesia, juga kebijakan ini sangat tidak berpihak pada anak.

Hakikatnya, sebuah kebijakan dibuat dengan mempertimbangkan kebijakan lainnya atau untuk mendukung kebijakan lainnya, bukan sebaliknya. Gagasan FDS berpeluang akan bertentangan dengan upaya-upaya perlindungan anak yang sudah disuarakan dalam UU No 23 tahun 2002 dan 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 thn 2002 tentang perlindungan Anak (selanjutnya disebut UU Perlindungan Anak/PA). Di mana dalam UU ini, aspek-aspek perkembangan anak telah diperhatikan dengan sangat baik oleh pemerintah.

Mari kita lihat definisi anak; pasal 1 ayat 1 UU Perlindungan anak mengatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak dalam kandungan. Ini berarti murid SD – SMU masuk dalam kategori anak. Jika sampai gagasan FDS penuh menjadi kebijakan, tentu akan sangat bertentangan dengan UU PA dan Mendikbud patut disangkakan melanggar UU PA karena telah merampas sebagian hak anak sebagaimana yang tertuang dalam pasal 11 yang menegaskan bahwa anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.

Berikutnya, Pak Mentri kita yang baru ini lupa bahwa Indonesia bukan hanya di Jawa. Indonesia tidak hanya kota beserta fasilitas pendidikan nan mapan. Indonesia disusun oleh gugus pulau dan desa terpencil yang sangat sulit baik infrastruktur maupun informasi. Jika pun kebijakan ini berlaku dan hanya terjadi di kota, maka sekolah-sekolah kota akan semakin maju karena infrastruktur dan sarana pendukung FDS diperhatikan, sementara mereka yang di desa akan tetap menjadi penonton bagaimana sekolah di kota mempertontonkan segala kelebihan mereka. Ini sangat diskriminatif dan menyakitkan.

Pak Mentri juga lupa, bahwa perkembangan mental anak bukan diukur dari berapa lama waktu dia di sekolah dan menerima setiap pelajaran tentang pembentukan karakter dan etika, tapi lingkungan tempat anak bermain yang supportif terhadap perkembangan anak memiliki dampak yang lebih besar daripada seharian dalam kelas. Sehari penuh di lingkungan sekolah tidak menjamin bahwa seseorang akan lebih beretika dibanding jika di luar, karena belum tentu lingkungan sekolah itu sendiri supportif terhadap perkembangan anak.

Kembali ke pasal 11, dalam hal bermain, anak-anak harus diberi kebebasan untuk memilih permainan apa yang dia sukai. Menghabiskan waktu di sekolah jelas hanya akan menjebak mereka terpaku pada permainan yang itu-itu saja, yang bisa jadi cara bermainnya juga akan diatur dalam kurikulum yang monoton dan tidak berpihak pada kepentingan terbaik anak. Ini seperti memberi tali kekang pada leher mereka karena tidak diberi ruang untuk berkreasi sesuai dengan minat dan bakat. Jika terjadi terus-menerus, maka sekolah tidak ada bedanya lagi dengan Lembaga Pemasyarakan Anak.

Alasan berikutnya dari upaya melegalkan FDS adalah menyesuaikan dengan waktu kerja orangtua. Sekali lagi Pak Mentri ini lupa diri bahwa dia sedang tinggal di Indonesia. Saya curiga alasan ini hanya muncul ketika argumentasi lain belum dipikirkan dan kebetulan argumen inilah yang muncul tanpa dipikirkan. Karena argumen tanpa dipikirkan, maka ini seolah keluar dari isi kepala seseorang yang bukan guru besar. Kita tahu, seorang guru besar tentunya akan berbicara berdasarkan sebuah kajian mendalam terhadap suatu masalah bahkan melewati serangkaian riset yang hanya orang-orang berjenis akademisi saja yang tahu. Pernyataan ini adalah bukti bahwa Pak Mentri ini kurang riset, juga kurang piknik. Alasan saya sederhana. Pertama, belum semua daerah di Indonesia memberlakukan jam kerja sampai pukul 5 sore. Kabupaten TTU - NTT misalnya, jam kerja di instansi pemerintah hanya sampai pukul 2 siang dan tetap masuk kerja pada hari sabtu. Kedua, kalaupun di tempat lain yang sudah berlaku jam kerja hingga pukul 5, tapi tidak semua orang tua murid bahkan yang di kota terikat dengan waktu kerja sampai jam 5 sore. Ketiga, setengah bagian lebih jumlah siswa SD-SMA bersekolah di desa-desa, yang  orang tuanya adalah petani atau peternak yang menyediakan waktu lebih setelah waktu pulang sekolah untuk mengajari anak-anaknya bagaimana cara bertani dan beternak sesuai dengan pengalaman mereka. Anak-anak petani inilah yang sudah tahu menanam padi lebih hebat dari gurunya yang hanya membaca bagaimana menanam padi. Mereka sudah mengenal bentuk sapi dan setiap hari berhadapan dengan sapi jauh sebelum kaki mereka menyentuh halaman sekolah lalu diperkenalkan dengan gambar sapi. Mereka sudah melihat langsung usus sapi terburai jauh sebelum mereka ke sekolah dan ditunjukan anatomi sapi. Mereka adalah anak petani yang tidak hanya belajar dari buku tapi juga belajar langsung pada kehidupan itu sendiri. Akhlak mereka yang teruji oleh alam jauh lebih mulia daripada harus terpenjara dalam lingkungan sekolah sehari penuh dan menghasilkan kebosanan. Keempat, tidak semua orang tua mampu memberi uang jajan untuk anak-anak mereka yang berangkat ke sekolah setiap hari. Siapa yang akan memberi jaminan bahwa anak-anak ini tidak akan kelaparan selama seharian di sekolah?

Hak anak berikutnya adalah hak untuk beristirahat. Tapi istirahat dalam UU PA berarti berhenti sejenak dari aktifitas yang membebani psikis dan fisik seorang anak. Sejalan dengan ini, bahkan jauh sebelum UU PA digulir, sudah wajib hukumnya bagi kebanyakan orang tua untuk memberi anak mereka waktu untuk tidur siang. Dari sisi kesehatan, ini adalah cara untuk mereset sistem dalam tubuh agar kembali lebih segar. Hal ini sudah dibuktikan oleh banyak riset bahwa anak yang terbiasa tidur siang lebih cerdas dan lebih kreatif dari anak yang jarang atau tidak pernah tidur siang. Sebaliknya, bila otak anak dibebani oleh seharian penuh aktifitas yang menguras pikiran tanpa istirahat, maka efeknya adalah anak menjadi stress. Anak yang stress akan mudah melakukan hal-hal diluar kendali untuk melampiaskan semua hal yang membebani pikirannya, yang oleh orang dewasa diberi nama kenakalan atau kejahatan. Jika ini sampai terjadi, bukan tidak mungkin sekolah akan dikambinghitamkan karena telah gagal mengajarkan etika kepada anak.

Selanjutnya, para ahli kita dahulu sudah memikirkan banyak hal sebelum memutuskan jam belajar di sekolah hanya tujuh jam. Salah satu pertimbangan adalah bahwa anak tidak hanya dididik dalam sekolah tapi juga dalam lingkungan keluarga sebagai unsur terkecil dari masyarakat. Hubungan yang lebih dekat dan intens antara anak dan orang tua adalah hal paling utama dalam perkembangan anak. Anak yang menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang tua atau keluarga akan lebih baik perkembangan psikologisnya dibandingkan dengan anak yang tidak tinggal bersama orang tua atau keluarga terdekat. Jika sekolah sehari penuh diterapkan, maka justru akan memotong waktu interaksi anak dan keluarga yang tentu akan berakibat fatal terhadap perkembangan psikologis anak.

Saya sampai pada kesimpulan, bahwa sebaiknya ide pak mentri ini cukup sudah sebatas ide. Jangan sampai ini menjadi sebuah kebijakan yang malah akan menjadi boomerang bagi anak-anak. Kebijakan ini juga tidak perlu dicoba di sekolah mana pun. Dan kalaupun sudah ada sekolah yang telah menerapkan FDS ini, sebaiknya dihentikan.





Share

5 Agu 2015

The Island of Amor

Tidak ada yang hebat dari Pulau Timor. Cendananya sudah punah. Buah Apelnya entah dulu berbentuk apa. Katanya, ini pulaunya pulau ternak. Tapi entah bagaimana terjadi, harga daging di sini sama mahalnya dengan harga daging di Jakarta, ibukota negara yang katanya akan membeli berton-ton daging sapi dari sini. Untuk makan jagung pun harus diekspor dari luar negeri.

Apa yang harus dibanggakan dari Timor? Orang miskinnya lebih banyak. Kasus gizi buruk tertinggi ada di sini. Jalan rusaknya terpanjang ada di sini. Tanah gersang, minim sumber mata air, kekayaan alam pun terbatas. Semua angka statistik tentang kekayaan negeri Indonesia ini selalu menempatkan Timor dalam urutan terbawah alias terburuk. Untuk menyebutnya sejahtera, masih jauh panggang dari api.

Itulah Timor jika kita harus membandingkan grafiknya dengan tanah lain di Indonesia. Seorang teman yang baru datang dari tanah Jawa bahkan pernah berujar “lebar jalan negara di sini sama dengan jalan di Jawa pada tahun 60-an.” Ini berarti, jalan di sini tertinggal 50 tahun dari Jawa dan Timor butuh 50 tahun lagi agar jalan rayanya sama dengan kondisi di sana. Miris?? Iyalah...

Orang Timor dan Ketulusan 
Namun, ada yang luar biasa dari Timor dan menjadikannya spesial bagi siapapun. Orang-orang yang tinggal di tanah ini punya kekayaan hati yang tidak bisa disetarakan dengan apa pun. Bicara tentang ketulusan, bicara tentang berbagi, bicara tentang toleransi, tidak ada yang bisa menandinginya. Orang Timor menempati rangking teratas jika harus dibanding-bandingkan.

Di Timor, jika anda datang sebagai musuh pun akan dihargai bagai saudara. Urusan nanti anda akan membakar lumbung mereka, merusak tanah ladang mereka adalah persoalan nanti. Ini karena hati orang Timor jauh dari prasangka buruk. So, jika musuh pun diterima dengan baik, jangan tanyakan bagaimana orang baik diperlakukan di sini.

Itu cerita pendek tentang orang Timor yang kebaikan hatinya kadang dimanfaatkan dengan licik oleh orang-orang tertentu untuk mengambil untung di tanah yang malang ini. Kekayaan alamnya yang sedikit nyaris tergerus habis. Warisan leluhurnya bahkan sudah punah menyisakan hanya nama untuk sekedar nostalgia.

Di pedalaman pulau Timor, ribuan anak bahkan belum sanggup menulis jutaan mimpi mereka dalam buku yang layak. Jalan meraih mimpi itu pun masih tertutup debu tebal hingga mata kaki. Mata mereka belum mampu melihat bahwa dunia ini lebih luas dari yang mereka bayangkan. Mereka hanya tahu bukit gersang yang mengelilingi, batu jalanan yang tertutup debu, juga tetesan air kala kemarau yang tidak bisa dipakai mencuci pakaian seragam.

Di benak mereka, belum terbayang luas jalanan kota dengan ribuan kendaraan lalu lalang di atasnya setiap hari. Mereka mungkin akan merasa aneh jika tahu bahwa beberapa sekolah di kota sudah tidak lagi menggunakan buku untuk belajar atau mungkin juga akan ternganga jika tahu ada anak sekolah seusia mereka sudah diantar mobil pribadi ke sekolah. Ahhh... Sebenarnya, mereka tidak perlu tahu itu. Mereka harus setia kepada buku usang mereka, juga kepada jalan setapak yang setiap hari mengantar mereka ke sekolah. Yang mereka harus tahu adalah, mereka harus memiliki mimpi yang lebih besar dari yang sebelumya pernah mereka pikirkan. Mereka harus tetap berteman karib dengan alam yang belum terjamah polutan dan harus tetap menjaganya demikian. Mereka harus tahu, ada jutaan anak-anak di kota dengan segala fasilitas justru tidak sebebas mereka bermain di alam yang rindu canda tawa lepas yang telah lama hilang.

Mereka harus tetap menjadi orang Timor yang mengagungkan alam dan segala tradisi yang mengikatnya. Mereka harus tetap memiliki hati yang jernih dan jauh dari iri dalam bestarinya. Mimpi-mimpi mereka haruslah mimpi yang menjaga bumi ini tetap lestari. Yang harus dilakukan adalah, mengeluarkan mereka dari kotak yang selama ini membatasi mata menatap cahaya.

KITONG dan Nuataus
Desa Nuataus, semoga menjadi tempat berseminya para pemimpin negeri ini, pemimpin yang ramah, jauh dari jemawa. Desa ini, tempat ribuan inspirasi telah tumpah. Tempat ribuan motivasi telah menghangatkan mimpi-mimpi yang membeku. KITONG mungkin belum bisa berbuat banyak di sini. Tapi langkah kecil kita telah membuka ribuan kata yang selama ini terkatup dalam rahang yang tak sanggup membuka teriakan.

KITONG sudah tiba di Nuataus, disambut tarian dan natoni, dirangkul bonet dan lagu, dilepas kehangatan dan harapan. KITONG memberi inspirasi tapi juga mendapatnya kembali dalam refleksi kehidupan kita. KITONG tidak memberikan mereka mimpi, karena mereka sudah memiliki itu jauh sebelumnya. KITONG hanya mengatakan kepada mereka dengan seyakin-yakinnya, bahwa mimpi mereka bukan hal yang mustahil untuk diraih.
Perjalanan KITONG tidak boleh berakhir di sini. Di Nuataus ini. Masih banyak Nuataus lain yang anak-anaknya sedang merangkai mimpi namun terhalang ketidaktahuan, dan KITONG harus segera mencapainya. Dan inilah kelebihan kita, dalam bergerak bersama, hati kita diliputi ketulusan dan kemerdekaan mimpi adalah cita-cita kita bersama.

KITONG adalah TIMOR. The island of amor.




Share

21 Jul 2015

Lebaran di Papua

Sudah beberapa hari ini, blogger papua menghadang berita negatif tentang #Tolikara dengan hashtag #LebarandiPapua di twitter. Inilah kesekian kalinya netizen berbondongbondong melawan dominasi media online Indonesia yg selalu menyuguhkan berita yg sangat merugikan bahkan terkesan menghasut untuk merusak toleransi di bumi cendrawasih.

Hashtag #LebarandiPapua bukan utk membela diri, tapi untuk menyatakan kebenaran sejati yg disembunyikan dengan sangat jeli oleh pewarta kabar nun di jakarta. Kabar yg seharusnya diberitakan berimbang agar tidak dikonsumsi mentahmentah oleh sebagian orang yg belum bisa menerima kemajemukan Indonesia Raya dan toleransi yg terkandung di dalamnya.

Papua adalah Indonesia yang emasnya kita pakai penuh kebanggaan karena mahalnya rupiah yg kita keluarkan untuk membelinya tanpa berpikir bagaimana masyarakat di sana berjuang mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari kedaulatan mereka. Papua adalah Indonesia yg tidak pernah bersalah terhadap media di jakarta dan juga seluruh tumpah darah Indonesia. Papua adalah Indonesia yg tidak harus mencari sensasi murah seperti salah seorang artis ibukota tibatiba bergerak menggalang dana utk memperbaiki mushola terbakar dan mengabaikan nyawa korban peluru aparat.
Papua adalah kita. Luka yg ada di sana adalah luka kita. Cinta yg ada di sana adalah cinta kita. Bila keberagaman adalah Indonesia, jangan mengoyak merah putih hanya karena setitik nila dalam sebelanga susu.




Share

2 Jul 2015

"Saya" dan "kami"

Jika saya melakukan atau menghasilkan sesuatu bersama sama orang lain, maka ketika harus bercerita, saya akan menyebut "kami" bukan "saya".

Jika harus menyebut nama, saya sebutkan satu persatu nama nama yg ada di balik apa yg telah dihasilkan itu dan tidak akan condong utk hanya menyebut "saya".
"Kami" menggambarkan sebuah tim, sebuah kesatuan, sebuah solidaritas yg membangunkan alam apresiasi terhadap hasil kerja bersama serta secara langsung membangun semangat baru untuk melakukan lebih dan lebih baik. Penyebutan "Saya" utk menonjolkan diri dari hasil kerja tim justru merendahkan diri sendiri atau malah dianggap egois atau bisa juga individualis.

Toh, tanpa menyebut "saya", orang pun akan sadar bahwa di dalam "kami" ada "saya" dan karna itu bukan mustahil bahwa "saya" akan mendapat apresiasi karna telah menjadi bagian dari tim yg memberi inspirasi.

Saya sedih ketika mendapati seorang teman yg gemar bercerita tentang "saya" tanpa sedikit pun "kami". Semangat "kami" utk bisa menghasilkan lagi hal hal luar biasa bersama dia semakin lama kian memudar. Bukan karna "kami" ingin juga disebut, tapi kerja tanpa apresiasi hanyalah menghanguskan semangat yg sebelumnya merah membara.




Share

31 Okt 2014

Elleora

I
antara waktu kemarin dan tadi
waktu tangismu mulai menjelma senyum menggemaskan
dan geliatmu meminta segera dipangku
kami tak lelah berjaga meski mata mulai sayup kuyu

ingin kami segera mengajakmu berlari
menendang dunia merobek langit
menghitung hitung segala kemungkinan hari esok
sebab kemarin yang kami lupakan
penuh drama dan kepalsuan

II
kelak akan kau jadikan rumahmu istana
dan kau adalah putri kecil yang terus menjaga sukacitadi dalamnya

kelak akan kau singkirkan segala kemunafikan yang menyusahkan permai negerimu
dari hatimu bukan hanya akan terbit doa
karena yang akan kau kerjakan adalah ketulusan tanpa peduli puja puji
atau caci maki seperti yang sering dinyatakan penuh kesombongan



III
kau bukan hanya cahaya
kau terik yang akan membakar hangus setiap hitungan kemunafikan
kesombongan akan kau kuburkan lantas membangkitkan harapan yang pernah mati
kepadamu, Tuhan tak akan melepas tangan

Anakku, musim musim akan hilang
Cinta mungkin akan dipenuhi seribu satu persyaratan
Tetapi kami berjanji kepadamu
Kita akan bersama sama mengikat dunia dengan kebijaksanaan
sambil bermain cahaya



27 Oktober 2014




Share

11 Mei 2014

Surat cinta dari Natan kepada Marta

Kepada
Yth. Adik Marta Teboko
Di
Sebelah kali panite

Dengan hormat,
Beta tulis surat ini dengan setengah mati karena susah hati sejak ditinggal adik pergi nun jauh ke sebelah kali. Beta tulis tapi bet bingung dengan gamatar yg bet alami karena bet sonde biasa gamatar bagini. Beta bingung yg gamatar ini bet pung tangan ato bet pung hati. Semoga adik Marta tidak rasa sama ke yang bet rasa karna itu artinya adik lagi lapar atau sakit. Jangan tanya di beta itu sakit apa karena bet bukan dokter.

Adik Marta yang tercantik di dalam kampung kita, adik mo tau kenapa beta gamatar? Karna beta dengar gosip dari mama-mama yg biasa bacari kutu di bawah pohon asam Taeflolo bilang adik Marta su kawin dengan to'o Nehemia yang baru datang dari Rote. Adik eee,,, itu berita betul ko? Kenapa adik kawin deng dia padahal adik dulu bilang kalo dia pung model ke babi balanda, kadang ju adik bilang dia sama ke sapi paron. Ma kenapa ko sekarang adik mau dengan dia ko sampe nikah bagitu? Adik sonde takut kena tendes dari sapi paron kah?

Adik, kalo memang itu berita itu benar, beta hancur sudah ni, bet akan minum mabok mulai dari pasar nakmofa sampe pasar haekmeu dan finis di pasar panite biar ko adik nanti liat ame beta kalo adik pi balanja di sana. Tapi beta mohon di adik, sekali lagi kalo memang ini berita betul, beta mohon adik tolong kasi kembali bet pung dompet warna hitam berisi uang seribu rupiah yg ujung ada tarobek ko ada lem pake isolasi. Tolong adik jangan ambel itu uang karna itu uang kenang kenangan buat beta, karna itu uang adalah kembalian dari paman burhan waktu beta beli kasi adik lencu merah di Niufmetan. Adik su dapat lencu jadi biar bet dapat doi tarobek sa ju bae.

Adik Marta yg terkasih sekali selama ini, demikianlah surat cinta ini saya buat dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari bapa RT 12, bapa dusun Laukmone ataupun bapa deng mama di rumah. Beta harap surat ini sonde mengganggu hubungan suami istri antara adik dan to'o nehemia di pagi yg indah ini.

Oenaskui, 30 november 2013
Yang menulis

Natan Nehemia Nistamnasi
(N3 yang dibaca entri)

Nb : ingat kasi pulang dompet

Ps : i love you



Noted : tulisan ini dibuat dalam status facebook saya beberapa bulan yang lalu.




Share

3 Mar 2014

SASTRA BUKAN HASIL ONANI



(Sebuah Refleksi terhadap Sastra dan Tokoh Sastra Perempuan NTT)

Noted : Opini telah dimuat di Harian Pos Kupang, Sabtu, 1 Maret 2014

Sebuah claim dengan sengaja dilakukan oleh sekelompok doktor yang menjadi juri NTT Academia Award bahwa sastra NTT dewasa ini hanya dikuasai kaum maskulin. Claim ini memantik kerusuhan dalam berbagai diskusi sastra yang kemudian digelar baik itu di media sosial mau pun dalam pertemuan lainnya. Secara kolektif para sastrawan menolak tuduhan tersebut dan balik menyerang dengan pernyataan bahwa para doctor terlalu banyak membaca karya ilmiah tetapi jarang bahkan tidak pernah membaca karya sastrawati NTT yang notabene didominasi oleh perempuan. Tak kalah hebohnya, seorang teman menuduh para doktor terlalu banyak bergaul dengan laki-laki sehingga tidak pernah tahu perkembangan perempuan.
Diskusi sampai pada pertanyaan; “apakah kata memiliki jenis kelamin sehingga pemilahan karya sastra pun harus berorientasi pada seksualitas seseorang? Bukankah ketika membaca sebuah karya sastra, pembaca selalu mengabaikan seksualitas penulis dan lebih menikmati isi bacaannya?”

Karya Sastra VS Karya Ilmiah
Adalah dua hal kontras jika harus menyandingkan karya sastra dan karya ilmiah. Misalnya, jika seseorang menulis tentang siklus haid seorang perempuan, maka latar belakang seksual penulis minimal harus diketahui oleh pembacanya. Yang pertama, setidaknya penulis harus perempuan karena hanya kaum ini yang mengerti dan berpengalaman mengalami haid setiap bulannya selama bertahun-tahun. Kedua, jika dia bukan seorang perempuan, maka dia haruslah seseorang yang memiliki keahlian khusus terkait persoalan biologis perempuan. Di sini, latar belakang penulis memang harus diketahui karena menyangkut isi tulisan yang sangat ilmiah.

Sedangkan sastra, latar belakang penulis adalah urusan nanti setelah karyanya dibaca. Karena itulah muncul istilah “Pengarang sudah mati ketika karyanya terbit.” Jenis kelamin tidak berlaku dalam menelaah sebuah karya, pengalaman penulis adalah urusan nanti, sebab yang dinilai adalah keindahan karya bukan individu yang mencipta.

Jika sebuah karya ilmiah hanya bisa masuk dalam jurnal-jurnal internasional karena seseorang memiliki gelar akademik atau sudah memiliki nama dalam dunia riset, maka karya sastra terjadi sebaliknya. Karya sastra dihargai ketika pertama kali dihadirkan dalam dunia keindahan tanpa harus diketahui tokoh penciptanya. Rasa penasaran terhadap keindahan sastra-lah yang melahirkan pencarian terhadap tokoh dibalik karya tersebut. Penyebutan nama penulis dalam sebuah karya menjadi sebuah formalitas belaka ketika sastra berubah bentuk dari lisan menjadi tulisan. Artinya, keseringan menciptakan keindahan, maka persona penulis dengan sendirinya akan terlekat pesona susastraan. Sampai di sini, khalayaklah yang menentukan akan disebut sebagai apa sang penulis sastra. Apakah sekedar penulis sastra ataukah sudah pantas menyandang gelar sastrawan atau sastrawati.

Karya sastra tidak lahir dari hasil onani, karena itu, adalah kecelakaan fatal jika sebuah karya sastra dinilai atau dihargai karena alat kelamin yang menempel dalam tubuh seseorang pelaku sastra. Karya sastra adalah keindahan yang lahir dari batin dan pikiran seseorang hingga mampu memberi evokasi terhadap batin insani lainnya. Orang yang memilih masuk dalam liang gelap sastra harus memiliki komitmen untuk hidup dalam kegelapan itu. Tetapi fakta akhirnya menunjukan kepada kita bahwa tidak semua orang mampu bertahan dalam kegelapan itu. Banyak yang memilih pergi karena tak tahan dalam penderitaan bersastra. 
Pernyataan-pernyataan di atas adalah untuk menjawab pertanyaan apakah kata memiliki jenis kelamin sehingga harus ada perbedaan penulis laki-laki dan perempuan? Mari kita bahas lagi pertanyaan, apakah benar sastra NTT hanya dikuasai kaum maskulin?

Lika-liku dunia sastra yang pucat dalam rentang dekade yang cukup lama justru menjadi segar karena peran para perempuan. Para perempuan ini mampu bertahan di tengah terjangan topan sastra luar NTT yang sangat deras masuk hingga ke sendi-sendi pendidikan dengan seijin Dinas Pendidikan ke sekolah-sekolah di NTT. Anak-anak SMP bahkan lebih mengenal JK Rowling, Mira W, Dewi Lestari dan penulis perempuan lainnya karena buku-buku mereka yang selalu berjejer rapi dalam perpustakaan-perpustakaan. Anak-anak ini bahkan kebingungan jika ada pertanyaan apakah mereka mengenal Maria Mathildis Banda atau Mezra Pellandou?? Mohon diperhatikan, jangan menambah kebingungan mereka dengan nama-nama lain pendatang baru seperti Sandra Frans, Anaci Tnunay, Diana Timoria, Franseska Eka, Lanny Koroh, dll.

Jika kita masih dengan pertanyaan yang sama, apakah kaum maskulin menguasai sastra NTT, maka pertanyaan baliknya adalah berapa banyak karya perempuan NTT yang sudah dibaca oleh-oleh yang mempertanyakan itu? Berapa banyak orang yang membaca karya sastra dan menyadari bahwa sastra hanya mengenal kata, kata hanya mengenal huruf, huruf hanya mengenal lekuknya. Dan di dalam huruf-huruf yang melekuk itu, tidak ada jenis kelamin. @dodydoohan




Share

28 Feb 2014

Engkau dan Rindu



Engkau mengerti jarak, yang dibenamkan waktu sore yang juga berpulang meninggalkan kita. Engkau mengerti setiap rindu yang terjadi karena jarak itu. Engkau juga mengerti, setiap rindu dalam berapa pun jarak terjadi karena cinta bersama setiap pesonanya selalu mengajakmu tenggelam dalam mimpi-mimpi setiap harimu.

Tetapi engkau tak pernah mampu mengerti, seseorang di sana menunggumu harap-harap cemas. Mendoakanmu setiap jantungnya berdegub tanpa sebab. Atau setidaknya memikirkanmu tatkala seseorang sepertimu melintas di jalan depan rumahnya. Kau ada dalam tiada di setiap persinggahan lamunannya. Kau tercipta begitu sempurna dalam pahatan ingatannya. Kau, mungkin tak pernah percaya, kata-kata yang ia keluarkan dari kedalaman pikirannya hanya ditujukan untukmu, tanpa sebab apa pun. 

Dan, kau yang sering terdiam mengabaikan semua garis-garis kecil yang melintas sekejab di matamu, bahkan tak pernah tau ada begitu banyak garis waktu tercipta dari hatinya untukmu. Sengaja ia pagari setiap kata agar atas namamu, kelak dapat ia temukan lagi di mana atau kapan pun ia ingin mengingat betapa indah membayangkanmu.

Kau mungkin tak akan pernah membayangkan, ia ingin memelukmu setiap hari tapi rasa ragu lebih hebat dari keberaniannya sendiri. Seringkali, seolah-olah tanpa sengaja tangannya menyentuhmu, yang sebenarnya ia sudah tak tahan tak menyentuhmu. 

Seringkali, ia ingin menyentuhmu lebih, tapi ia takut, jari-jari tangannya yang terlalu kasar akan melukaimu. Maka ia menunggu. Menunggu hingga kau menyadari semua, lalu membuka tanganmu menyambut pelukannya.




Share

11 Feb 2014

Caleg Datang, Pohon Menangis

Tadi, sepanjang perjalanan ke luar kota Kupang, di tepi jalan-jalan utama, hingga pelosok kampung, terlihat pohon-pohon yang menghijau, rindang meneduhi terik hari ini.

Sayangnya, keteduhan yang mereka berikan harus dilukai oleh ulah serakah dan tidak tau malu dari calon orang-orang terhormat yang disebut Caleg. Senyuman mereka menempel di pohon-pohon tanpa beban. Seakan memang pohon-pohon itu dikhususkan utk memajang senyum palsu dan janji manis mereka yang dilukis tangan desain nan kreatif di baliho atau pun spanduk-spanduk.

Cara meraih simpati publik dengan merusak pohon-pohon adalah kampanye terbodoh yang dilakukan oleh seorang caleg. Jika lingkungan saja sudah tidak ia cintai, bagaimana mungkin dia mencintai konstituennya? Tipe caleg seperti ini adalah tipe orang yang akan lupa diri ketika jabatan atau kekuasaan sudah ada dalam genggamannya.

Saya membayangkan pohon-pohon ini menangis ketika paku-paku tajam mulai menusuk nusuk tubuh mereka demi menggantung selmbar baliho caleg. Pohon-pohon itu merelakan tubuhnya disakiti atas nama nafsu besar seorang caleg. Saya membayangkan nasib pohon-pohon itu adalah analogi kehidupan sebagian manusia yang rela kehilangan kebahagiaan demi menyenangkan hati orang lain.

Siang ini saya kembali ke Kupang dengan hati yang resah. Lagi-lagi, bundaran PU mengingatkan saya kepada cemara yang kini tinggal puntungnya hanya karena ada satu orang penting yang tidak suka mlihat cemara yang melambai riuh. Saya tiba di jalan Frans Seda, dan kali ini saya menyaksikan bagaimana beberapa pohon sepe di situ telah roboh oleh mesin sensor di malam sebelumnya.

Hati saya miris, diluapi tanda tanya yang tak selesai hingga perjalanan hari ini berakhir. Mungkinkah kota ini dikutuk untuk menjadi kota yang sangat panas setelah musim hujan karna kita yang seringkali egois terhadap alam?


Saya tiba lagi di kantor. Perjalanan hari ini sangat membuat saya lelah. Sudah 6 bulan dan baru hari ini perjalanan jauh saya tempuh lagi. Saya lalu memindahkan tempat duduk ke teras depan untuk melepas lelah sekaligus menghirup lagi udara segar yang sepoi-sepoi datang. Selembar koran hari ini tergeletak begitu saja di meja, sepintas mata saya menangkap sebuah judul berita "TANAM PAKSA PAKSA TANAM BUPATI KUPANG AKHIRNYA DIDUKUNG DPRD."




Share

15 Jan 2014

Mencari Kandidat Intoleran Sastra Flobamora



Catatan : Opini ini telah dimuat di Harian Umum Victory News, Rabu, 15 Januari 2014

Beberapa bulan lalu, sebuah pertemuan kecil dilakukan di Taman Nostalgia oleh anggota Rumah Poetika Kupang, Dusun Flobamora dan Blogger NTT. Bincang panjang di malam yang singkat itu mengantar kami pada perbincangan tentang sastra NTT yang terus berkembang dari hari ke hari hingga peluang-peluang yang mungkin bisa dilakukan untuk membuatnya semakin bersinar ke segala penjuru. Ada optimisme, bahwa kelak NTT mampu menjadi kiblat sastra Indonesia.
Perbincangan kami sampai pada keluhan tentang kritik terhadap sastra NTT yang masih ada di titik hitam putih. Belum ada satu pun penulis atau – kalau boleh dibilang - penyair atau sastrawan NTT yang maju sebagai kritikus sastra. Banyak postingan puisi di media sosial dan koran-koran hanya melahirkan pujian-pujian datar yang pada akhirnya tanpa disadari justru membunuh nalar penyair untuk keluar dari zona nyaman.
Ini terjadi karena mungkin masih kuatnya kedekatan antar sesama penulis NTT yang notabene masih ada dalam lingkaran yang sama. Kritik terhadap karya seseorang masih ditakuti akan menjadi nila yang merusak sebelanga susu solidaritas para penulis muda Flobamora. Ketakutan seperti ini tidak disertai kekuatiran bahwa apabila sastra NTT berkembang tanpa kritik maka sesungguhnya perjalanan menuju cita-cita besar akan terbatas pada sesuatu yang monoton dalam retorika dan perspektif sastrawan. Memilih untuk tidak melakukan kritik hanya akan membuat seseorang berada dalam zona nyaman tanpa pernah tahu sebaik apa karya yang dihasilkannya.
Kritik adalah komunikasi yang efektif untuk menggembleng seorang sastrawan tampil lebih mengkilap dengan karya-karyanya. Kritik adalah fondasi dari solusi-solusi cerdas untuk menemukan perspektif terbaru. Kritik mampu membangunkan alam tidur seseorang untuk melihat kenyataan dari perspektif yang lain.
Kita tahu, bahwa sebuah hasil tanpa kritik akan membuat hal tersebut seolah tanpa kelemahan. Sudut-sudut lemah yang tak mampu dijangkau oleh pikiran sebelumnya akan mampu dilihat ketika ada ruang yang dibuka untuk menerima kritik.
Beberapa teman yang saya harapkan bisa menjadi kritikus sastra yang baik justru memilih untuk nyaman sebagai penulis. Frater Januario Gonzaga, Mario Lawi, Ragil Sukriwul misalnya. Saya yakin orang-orang ini memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menjadi kritikus yang tajam dan cerdas. Ketiga nama tersebut adalah sastrawan muda yang lahir di atas tajamnya karang Kota Kupang, tetapi percumbuan mereka yang romantis dengan penyair lainnya telah menutup mata batin mereka untuk tampil sebagai kritikus yang berani.
Dari generasi sebelum nama-nama di atas muncul nama Yohanes Sehandi. Tetapi, dosen asal Universitas Flores hanya mampu mencari nama-nama sastrawan yang lahir dari NTT sejak pra kemerdekaan hingga medio reformasi ini, kemudian mencatat karya-karya mereka sebagai bahan publikasi yang tentu saja efeknya hanya terbatas keagungan nama tanpa kritik terhadap hasil karya yang telah ditetaskan.
Dari Undana muncul nama Dr Marcell Robot dan Prof Felix Sanga. Lagi-lagi, nama dua budayawan ini sudah sangat sibuk dengan jam mengajar yang tinggi sehingga tidak memiliki waktu untuk membaca karya apalagi menuliskan kritik yang menguji mental para penerusnya. Telaah terhadap buah pena penyair NTT pada akhirnya hanya menjadi kewajiban yang dipaksakan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhir. Skripsi yang seharusnya menjadi nilai tambah, toh tetap menjadi koleksi di Undana sementara penulisnya setelah diwisuda malah mencari kiblat lain yang tidak ada kaitannya dengan apa yang telah ditulis.
Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus-kampus yang tersebar di seantero Flobamora yang diharapkan bisa melahirkan kritikus sastra teryata hanya mampu mendidik mahasiswanya sebagai calon pegawai. Jika pun dari sana ada yang lahir sebagai penulis atau sastrawan itu bisa jadi karena memang bakat alamnya dan bukan karena didikan dari tempat dia menimba ilmu.
Seorang teman berpendapat bahwa agak susah mengharapkan seorang kritikus lahir dari hasil didikan kampus. Ini karena dari dosennya sendiri tidak pernah siap dikritik. Mahasiswa yang kritis dianggap pembangkang, maka sebaiknya diam demi nilai yang aman. Selain itu, kritik dianggap bukan sebuah budaya yang baik untuk membentuk karakter seseorang dan membuatnya lebih maju, masih banyak cara lain. Saya kurang sepakat dengan pendapat yang terakhir ini.
Kritik memang bukan untuk membentuk karakter. Tetapi membuatnya selangkah lebih maju adalah pasti. Persoalan sesungguhnya adalah ketika kritik dikatakan sebagai bukan budaya yang baik karena orang yang dikritik tidak siap dikritisi, sehingga akan lahir gejolak yang tidak penting menanggapi hasil kritik itu sendiri.
Sebagai contoh kasus; beberapa bulan lalu, setelah menonton sebuah pertunjukan teater di Taman Budaya, saya menulis kritik terhadap hasil pementasan tersebut, tentunya setelah sebelumnya meminta ijin kepada sutradaranya. Tulisan yang kemudian saya muat di facebook ini mendapat tanggapan beragam. Namun, rupanya sang sutradaranya kaget karena tidak menyangka akan ada kritik seperti itu. Ketidaksiapan menerima kritik ditunjukannya dengan tanggapan yang ditulisnya.
Setelah terbitnya tulisan tersebut, kini mulai berdatangan kritik positif terhadap tulisan-tulisan yang lain. Terakhir, Mario Lawi dengan berani mulai membuka selubung pujian dengan kritik yang bernas terhadap terhadap novel terbaru karya Robby Fahik berjudul “Likurai untuk Sang Mempelai” dan saya anggap ini sebagai langkah maju dunia sastra NTT.
Seni, entah apa pun bentuknya, adalah dunia yang seharusnya dipenuhi kritik. Seni adalah bumi, dan kritik adalah udara yang melingkupinya. Siapapun yang tinggal di bumi pasti harus bernafas. Demikian pula yang memilih jalur seni sebagai bagian hidupnya harus menerima kenyataan untuk bernafas dalam kritik, setajam apa pun kritik itu. Atmosfer ini seharusnya hakiki dalam atma seni siapapun jika ingin tetap eksis.
Kritik pun harus ditulis dengan jelas pada inti persoalan yang harus dikritisi dan bukannya sindiran penuh metafora. Orang yang mampu membuat kritik cerdas menunjukan kemampuannya menelaah masalah, tetapi kritik dalam bentuk sindiran tak jelas menunjukan iri hati dari orang yang melakukannya. Sindiran berbeda dengan kritik. Sindiran adalah milik mereka yang memiliki pikiran dan hati tak jernih yang tak mampu keluar dari bayang-bayang ketidakmampuan untuk menghasilkan hal-hal produktif. @dodydoohan




Share